SAMPIT – Komisi III DPRD Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menerima audiensi dari Komunitas Pemuda Peduli Masyarakat (KPPM) Kotim yang membawa sejumlah ide dan gagasan tentang penguatan ekonomi kreatif daerah. Dalam pertemuan itu, para legislator menyatakan dukungan agar ide-ide tersebut bisa diwujudkan dalam bentuk regulasi daerah.
Ketua Komisi III DPRD Kotim, Dadang Siswanto mengatakan, forum audiensi tersebut menghasilkan sejumlah kesimpulan penting, terutama terkait arah kebijakan pembangunan ekonomi kreatif di daerah. Ia menilai gagasan yang disampaikan para pemuda harus mendapat ruang dan perhatian serius dari pemerintah daerah.
“Kesimpulan hari ini, terutama dengan rekan-rekan KPPM, mereka datang untuk menyampaikan ide dan gagasan yang berkaitan dengan ekonomi kreatif. Tujuan akhirnya adalah lahirnya regulasi setingkat Perda. Karena itu, seluruh anggota Komisi III sepakat agar usulan ini dimasukkan ke dalam program Perda Tahun Anggaran 2026 supaya bisa segera diaktualisasikan di Kotim,” ujar Dadang, Selasa 7 Oktober 2025.
Menurutnya, DPRD Kotim sebenarnya sudah mengambil langkah konkret dalam mendukung penguatan budaya dan ekonomi daerah melalui Perda Budaya Daerah. Namun, penerapannya di lapangan dinilai belum maksimal.
“Sebelum ini, DPRD sudah berbuat melalui Perda Budaya Daerah dan fungsi pengawasan. Tapi kenyataannya, belum terlihat optimal. Misalnya bidang makanan dan kerajinan, setiap kudapan di OPD bahkan DPRD sendiri seharusnya bisa mencerminkan identitas lokal. Banyak makanan, kue, dan minuman khas daerah kita yang bisa menunjukkan identitas orang Sampit, tapi belum dimaksimalkan,” ungkapnya.
Dadang mencontohkan, sektor kerajinan seperti rotan juga belum mendapat perhatian memadai. Padahal, Sampit dikenal sebagai salah satu penghasil rotan terbesar di Kalimantan Tengah, namun produk lokalnya belum banyak digunakan oleh instansi pemerintah.
“Coba lihat saja, di kantor DPRD hampir tidak ada perabot dari rotan, padahal kita salah satu penghasil rotan terbesar. Di kantor bupati pun mungkin hanya ruang tamunya yang memakai produk rotan. Ini yang kami dorong, agar semua hal yang berkaitan dengan budaya dan ekonomi daerah tidak hanya menjadi pidato atau tumpukan kertas di meja kerja. Harus diwujudkan,” tegasnya.
Ia menambahkan, pelestarian budaya dan penguatan ekonomi kerakyatan tidak bisa berjalan tanpa dukungan nyata dari pemerintah daerah.
“Kita berharap Pemda benar-benar melaksanakan apa yang belum maksimal, demi melestarikan budaya daerah dan meningkatkan ekonomi masyarakat melalui peraturan daerah yang berpihak pada rakyat,” tandasnya.
Sementara itu, Ketua KPPM Kotim Kreatif Network, Muhammad Ridho, menyampaikan bahwa audiensi tersebut merupakan bagian dari upaya pemuda untuk menyuarakan aspirasi terkait pengembangan dunia pertanian, perindustrian, UMKM, dan koperasi.
Ia menilai, kehadiran pemuda dalam proses pembangunan ekonomi daerah sangat penting dan perlu didengar oleh para pengambil kebijakan.
“Pemuda di Kotim hari ini sangat bersemangat untuk memaparkan ide dan gagasan kepada pemerintah daerah maupun dewan sebagai pemangku aspirasi masyarakat. Namun, kami cukup kecewa karena audiensi yang seharusnya dengan Komisi II justru diarahkan ke Komisi III,” ucap Ridho dengan nada kecewa.
Menurutnya, empat usulan utama yang dibawa pihaknya berkaitan langsung dengan mitra kerja Komisi II, yakni sektor pertanian, perindustrian, UMKM, dan koperasi.
“Kami berharap program ini bisa didengar oleh dewan, terutama karena banyak berasal dari inisiatif pemuda di desa-desa,” katanya.
Meski demikian, Ridho tetap mengapresiasi jalannya audiensi yang berlangsung hangat meski diwarnai perbedaan pandangan. Ia menilai masih ada ruang besar untuk bersinergi antara pemuda dan DPRD dalam mengembangkan potensi daerah.
“Alhamdulillah, setelah rapat, saya langsung menerima telepon dari pimpinan DPRD Kotim yang memberikan arahan agar kami disambut oleh Komisi II sesuai bidangnya. Artinya, ke depan pembahasan akan berlanjut dan kami akan diterima kembali di forum yang lebih tepat. Ini tentu kabar baik bagi kami, komunitas pemuda yang ingin berkontribusi untuk daerah,” tuturnya.
Ridho menambahkan, KPPM Kotim akan terus mengawal aspirasi ini agar tidak berhenti pada forum audiensi semata.
“Kami ingin ide dan gagasan ini benar-benar diwujudkan menjadi kebijakan nyata. Pemuda tidak hanya ingin didengar, tapi juga ingin dilibatkan dalam pembangunan ekonomi kreatif yang berakar dari masyarakat sendiri,” pungkasnya.
(dia/matakalteng)






















Discussion about this post