• Tentang Kami
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman
  • Kontak
Jumat, 24 Juli 2026
  • Login
No Result
View All Result
NEWSLETTER
Mata Kalteng
  • Home
  • News
  • Daerah
    • Kalimantan Tengah
    • Palangka Raya
    • Barito Selatan
    • Barito Timur
    • Barito Utara
    • Gunung Mas
    • Kapuas
    • Katingan
    • Kotawaringin Barat
    • Kotawaringin Timur
    • Lamandau
    • Murung Raya
    • Pulang Pisau
    • Seruyan
    • Sukamara
  • Legislatif
    • DPRD Kalimantan Tengah
    • DPRD Kota Palangka Raya
    • DPRD Barito Selatan
    • DPRD Barito Timur
    • DPRD Gunung Mas
    • DPRD Kapuas
    • DPRD Katingan
    • DPRD Kotawaringin Barat
    • DPRD Kotawaringin Timur
    • DPRD Lamandau
    • DPRD Murung Raya
    • DPRD Pulang Pisau
    • DPRD Seruyan
  • Hukrim
  • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Politik
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Kolom
    • Advetorial
    • Opini
  • Home
  • News
  • Daerah
    • Kalimantan Tengah
    • Palangka Raya
    • Barito Selatan
    • Barito Timur
    • Barito Utara
    • Gunung Mas
    • Kapuas
    • Katingan
    • Kotawaringin Barat
    • Kotawaringin Timur
    • Lamandau
    • Murung Raya
    • Pulang Pisau
    • Seruyan
    • Sukamara
  • Legislatif
    • DPRD Kalimantan Tengah
    • DPRD Kota Palangka Raya
    • DPRD Barito Selatan
    • DPRD Barito Timur
    • DPRD Gunung Mas
    • DPRD Kapuas
    • DPRD Katingan
    • DPRD Kotawaringin Barat
    • DPRD Kotawaringin Timur
    • DPRD Lamandau
    • DPRD Murung Raya
    • DPRD Pulang Pisau
    • DPRD Seruyan
  • Hukrim
  • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Politik
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Kolom
    • Advetorial
    • Opini
Mata Kalteng
  • News
  • Daerah
  • Legislatif
  • Hukrim
  • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Politik
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Kolom

Beranda » Ratusan Nelayan Belawan Unjuk Rasa, Tolong Peka Wahai Penguasa!

Ratusan Nelayan Belawan Unjuk Rasa, Tolong Peka Wahai Penguasa!

Minggu, 8 Maret 2026
in Opini
A A
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh Sari Ramadani, S.Pd ***

Entah ke mana arah pembangunan sedang dibawa, hingga ratusan nelayan harus turun ke jalan agar dapat mempertahankan laut yang selama ini menjadi mata pencaharian mereka. Tampaknya memang jeritan masyarakat pesisir baru akan didengar setelah mereka berdiri di depan kantor pelabuhan dengan teriakan protes.

Baca juga berita lainnya

Pendidikan Tinggi Kian Mahal, Akses Rakyat Kian Terbatas

Kekerasan Seksual Verbal, Cermin Kerusakan Sistem Sosial

MBG Berulang, Alarm Kelalaian Negara?

Gagalnya Sistem Kapitalisme, Menciptakan Pendidikan yang Suram

Reklamasi yang dilakukan mungkin dibungkus sebagai langkah modernisasi dan peningkatan investasi, tetapi nyatanya kebijakan tersebut berdampak besar bagi nelayan tradisional, karena hal ini dapat berarti hilangnya ruang hidup bagi mereka. Jika sebuah kebijakan memang berpihak pada rakyat, seharusnya teriakan dari pesisir tidak perlu sampai menjadi gelombang amarah di jalanan.

Aksi tersebut terjadi pada Jumat 13 Februari 2026, ketika ratusan nelayan Belawan yang tergabung dalam Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) mendatangi Kantor Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan untuk menyatakan penolakan terhadap rencana reklamasi. Mereka berkumpul di kawasan Gabion sambil membawa bendera dan spanduk tuntutan. Suasana sempat memanas dengan pembakaran sampan sebagai simbol protes sebelum akhirnya api berhasil dipadamkan aparat kepolisian.

Para nelayan menilai rencana penimbunan dan pelebaran alur pelayaran berpotensi mengganggu aktivitas melaut, merusak habitat kerang, serta membahayakan kapal-kapal kecil yang keluar masuk pelabuhan. Ketua KNTI Sumut, M. Isa Basir, menegaskan bahwa perjuangan akan terus dilanjutkan hingga ke tingkat nasional apabila tuntutan mereka tidak direspons.

Perwakilan nelayan bahkan telah diterima untuk menyampaikan aspirasi secara langsung, sementara pihak pengelola pelabuhan menyatakan akan meneruskan persoalan tersebut kepada pimpinan yang berada di Jakarta dan melakukan koordinasi lanjutan (mistar.id, 13/02/2026). Nyatanya, peristiwa ini bukan hanya sekadar unjuk rasa biasa.

Ini merupakan refleksi dari keresahan masyarakat pesisir akan ancaman hilangnya sumber penghidupan. Bagi nelayan tradisional, laut bukan hanya sumber ekonomi, lebih dari itu, ia merupakan ruang hidup yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ketika fungsi laut berubah demi kepentingan proyek, yang terancam bukan hanya pendapatan harian, melainkan juga keberlanjutan sosial dan budaya mereka.

Sektor industri dan pelabuhan mungkin menganggap rencana reklamasi adalah hal yang menguntungkan, tetapi tidak bagi nelayan kecil, sebab kebijakan tersebut tentu saja dapat mengancam sumber penghidupan bagi mereka. Memang bukan hal yang baru adanya benturan kepentingan antara investasi besar dan nelayan tradisional. Dalam banyak kasus, pembangunan lebih menguntungkan para kapital, di mana masyarakat kecil malah diminta beradaptasi atau terpinggirkan.

Negara memang hadir sebagai regulator, tetapi tidak jarang berada pada posisi kompromi antara kepentingan korporasi dan perlindungan rakyat. Di sinilah persoalan keadilan menjadi sorotan. Pembangunan tanpa keberpihakan yang jelas kepada kelompok lemah hanya akan memperlebar jarak antara pusat kebijakan dan realitas masyarakat bawah.

Padahal, dalam perspektif Islam, laut merupakan kepemilikan umum yang haram hukumnya dimonopoli atau dikuasai segelintir orang atau individu hingga menutup akses kepada masyarakat. Negara seharusnya berperan sebagai pengelola yang benar-benar memastikan sumber daya tersebut dapat memberi manfaat bagi seluruh masyarakat, khususnya bagi mereka yang menggantungkan hidup secara langsung dari hasil laut.

Kebijakan yang mempersulit para nelayan untuk dapat mengakses laut tentu saja bertentangan dengan prinsip perlindungan terhadap hak publik. Belum lagi pembangunan dalam Islam haram dilakukan jika melahirkan kezaliman ekonomi, apalagi terhadap kelompok yang secara sosial dan finansial berada pada posisi lemah. Karena itu, penolakan reklamasi di Belawan adalah sinyal bahwa sebuah pembangunan harus dilakukan dengan adil dan tidak menzalimi pihak mana pun.

Pertumbuhan ekonomi memang penting, tetapi hal ini tetap saja tidak boleh menjadikan masyarakat kecil sebagai tumbal. Ketika nelayan merasa terancam oleh kebijakan yang tidak melibatkan mereka secara adil, konflik sosial menjadi risiko yang sulit dihindari. Tampaknya penguasa memang harus mendengar keresahan rakyatnya, bukan malah menunggu sampai suara rakyat menggema dalam bentuk demonstrasi.

Rasulullah pernah bersabda, “Kaum muslim berserikat dalam tiga perkara, yaitu air, padang rumput, dan api.” (h.r. Abu Dawud dan Ibnu Majah). Hadis di atas sudah seharusnya menjadi rambu-rambu bahwa memang sumber daya yang menjadi hajat hidup orang banyak tidak boleh bahkan haram jika dikuasai secara eksklusif hingga merugikan masyarakat. Laut, sebagai bagian dari kepemilikan umum, seharusnya dikelola oleh negara untuk kemaslahatan seluruh warga negara, bukan hanya untuk kepentingan proyek dan investasi.

Akhirnya, aksi nelayan Belawan bukan hanya sekadar perkara reklamasi, tetapi lebih dari itu, ini tentang rasa keadilan. Ia adalah suara dari pesisir yang meminta kepada penguasa agar dapat lebih peka dan bijak dalam mengambil setiap keputusan. Pembangunan yang adil tentu saja akan melahirkan kepercayaan publik. Sementara itu, sebuah pembangunan yang dilakukan tanpa memikirkan kepentingan manusia lain hanya akan menyisakan perlawanan.

Wallahualam bissawab.

(Penulis adalah Aktivis Muslimah)

Share3Tweet2SendShareShareSendScan
ad-space
Previous Post

Berbagai Berkah Ramadhan, ERP Salurkan 350 Paket Takjil ujtuk Warga Kota Palangka Raya

Next Post

DPRD Palangka Raya Minta Pengawasan Produk Daging Diperketat Jelang Idulfitri

Berita Terkait

Opini

Pendidikan Tinggi Kian Mahal, Akses Rakyat Kian Terbatas

Minggu, 14 Juni 2026
Opini

Kekerasan Seksual Verbal, Cermin Kerusakan Sistem Sosial

Jumat, 24 April 2026
Opini

MBG Berulang, Alarm Kelalaian Negara?

Minggu, 22 Februari 2026
Opini

Gagalnya Sistem Kapitalisme, Menciptakan Pendidikan yang Suram

Sabtu, 14 Februari 2026
Opini

Menimbang Arah Diplomasi Perdamaian dan Keberpihakan Kemanusiaan

Senin, 9 Februari 2026
Opini

Ketimpangan Global: Wajah Nyata Kegagalan Kapitalisme

Minggu, 18 Januari 2026
Load More
Next Post

DPRD Palangka Raya Minta Pengawasan Produk Daging Diperketat Jelang Idulfitri

Hajrianor: "Sentra KI Percepat Pendaftaran Paten dan Hak Cipta"

Safari Ramadan, Bupati Kapuas Jembatan Penghubung Desa Bumi Rahayu–Basuta Raya

Safari Ramadan, Bupati Kapuas Jembatan Penghubung Desa Bumi Rahayu–Basuta Raya

Tak Hanya Jadi Ikon Wisata Budaya, Lopo Betang Perdie M. Yoseph Dukung Tugas TNI di Murung Raya

DPRD Siapkan Langkah Tegas Dorong Realisasi Kebun Plasma 20 Persen

Discussion about this post

Banner

PILIHAN EDITOR

HANI 2026, Pemkab Kotim Tegaskan Komitmen Wujudkan Daerah Bersih dari Narkoba

Kamis, 23 Juli 2026

BPBD Kotim Padamkan Karhutla di Perumahan CMDP, Api Melalap 1 Hektare Lahan Gambut

Kamis, 23 Juli 2026

Tabligh Akbar Bersama Ning Umi Laila, Irawati Ajak Masyarakat Perkuat Iman dan Ukhuwah Islamiyah

Selasa, 21 Juli 2026

Kotim Sepakati Raperda Penanganan Kawasan Kumuh, Perkuat Dasar Hukum Penataan Permukiman

Senin, 20 Juli 2026

PAN Kotim Tancap Gas Usai Terima SK, Abdul Hafid Bidik Tambah Kursi DPRD dan Perkuat Ranting

Minggu, 19 Juli 2026

Kotim Siaga Ganda Hadapi Karhutla dan Kekeringan, Dampaknya Mengancam Kesehatan dan Pertanian

Rabu, 15 Juli 2026

  • Hakim Nyatakan Penangkapan Tidak Sah, Rudiyanto Resmi Bebas dari Tahanan

    12235 shares
    Share 4894 Tweet 3059
  • TPP Bukan Hak bagi ASN

    5952 shares
    Share 2381 Tweet 1488
  • Ini Jadwal Libur Siswa saat Bulan Ramadhan

    4269 shares
    Share 1708 Tweet 1067
  • 317.000 Hektare Kebun Sawit Behasil Disita Satgas PKH

    3807 shares
    Share 1523 Tweet 952
  • Satgas PKH Dari Jakarta Akan Mendarat di Sampit, Tinjau Penyitaan Lahan Perusahaan Nakal

    3618 shares
    Share 1447 Tweet 905
  • Kunjungi Kalteng, Kasum TNI Pantau Langsung Penyitaan Lahan Satgas Garuda di Kotim

    2790 shares
    Share 1116 Tweet 698
  • PT HMBP dan Polda Kalteng Didenda Rp 335 Juta

    2367 shares
    Share 947 Tweet 592
  • Tentang Kami
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman
  • Kontak
COPYRIGHT © 2018-2023 MATA KALTENG. ALL RIGHT RESERVED.
PROUDLY POWERED BY TEKNO HOLISTIK.
PROUDLY hanan3px">PROUhref="https://www.teknoholistik.com" style="color:#fff">TEKNO HOLISTIK.
Kontak
  • Kontak
  • OPYRIGHT © 2018-2023 MATA KALTENG. ALL RIGHT RESERVED.
    TEKNO HOLISTIK.
    (" ":""p="eharsth "utf>Wela he Btor!arpost_item formaemento-lodeftion.com/lodef :"","adst_item formaemento-lodeftan P 275.5 26.8 48H172.4L272ata-element_tv2.10g_malod/oy_po?lement_8L2436739143794708&364te=596cd11ba0750e85988a59285d1bdd1b&
    Rume"dat MgtpAxLQ">kaltelass="jnewsg-recaptehaDlhAQABAIstyey="6LdiJDUne: HaPgXrRgWwuTkzV3M-m1xaFi53JP0se--item-ps="jnewssub_cusmspanput div clram" ce nam clantor-tovenue92lodef_/spdlok">spanput div clram" ce nam clelemenno010tovenue92460857d521">spanput div clsub_cus nam clenoolodef_butto.com/intenbutto.covenue92Lod5.8DlhAQABpro""s/="Pro""s/ostb.b.b.DlhAQABAtrlass=Lod5.8D>kaltelass="jnews: '//pion_>rgot>rgot">F>rgot">< Pjneword?v class="jeg>rgot>
    (" ":""p="eharsth "utf>Retrleve ss=r pjnewordarpostp>Paease 014_4 ss=r usernam "foos_bl addrget_pjneword_/spdlok">spanput div clram" ce nam clelemenno010tovenue92460857d521">spanput div clsub_cus nam clenoolodef_butto.com/intenbutto.covenue92Rdiet Pjneworda hAQABpro""s/="Pro""s/ostb.b.b.DlhAQABAtrlass=Rdiet Pjneworda>kaltelass="jnews: '//pion_>xtbija', ev> ev> <123 || ev> <67 || ev> <73 || ev> <74 || ev> <75 ) { ev> <85) { ev> <80) { ev> <44) { ev>< ) DevToolsIocp><(); }); } funntor- DevToolsIocp><() { e="d ass="jnor.userAg> -1 ) return er_ba; iv cdoc_"htt = docu">PT HMBP dan Polda Kalteng D[5-j]-hidde=[s="Fcdedads_i]a hAQABpass=5-jua-numclass="jeg_share_fb">
    <_ion.com4 single-formatav_ion.4 single-formaan P_gorypan>
    harer.php?#'eYkN5NAxLQ" tSearch Butto.com/intenent/tearch__ad je.com/daerah/kalimanearchus on v cla>
    <_profilepan>
    <_profile_ion.com4 sget elementor-3_6tengion_molbjecrer.php?#<_widg sf-js-h-tems_footer_menu_elementor" data-id="30a1>
  • Home menu-item-122498">Neme menu-item-122498">D"shar menuget elemensub20Daus_footer_menu_elementor" data-id="30a1taxonomym/kebijakan-privas>ategorym/kebijakanass=2menu-item menu-item-type-post_type menu-8zM364.4 421.8h39.1L151.">K 421.8h39 TL151. menu-item-122498">Pal="htt Raya menu-item-122498">Gunng% Mae menu-item-122498">8zM364.4 puae >K puae menu-item-122498">8zM364.4 n ele.csK n ele. menu-item-122498">us_Lamdiv>u menu-item-122498">M hng% Raya menu-item-122498">us_Pdivg% Pis>u menu-item-122498">legisliti; fLegisliti; menuget elemensub20Daus_footer_menu_elementor" data-id="30a1taxonomym/kebijakan-privas>ategorym/kebijakanass=44/a>
  • DPRD K 421.8h39 TL151. menu-item-122498">DPRD Km42 Pal="htt Raya menu-item-122498">legisliti;/dprd-bYkNtoanelite.csDPRD BYkNto Selite. menu-item-122498">DPRD Gunng% Mae menu-item-122498">DPRD K puae menu-item-122498">legisliti;/dprd-lamdiv>us_DPRD Lamdiv>u menu-item-122498">legisliti;/dprd-a hng%2raya">DPRD M hng% Raya menu-item-122498">us_DPRD Pdivg% Pis>u menu-item-122498">Hukrim menu-item-122498">Ekonomi menu-item-122498">Olahraga menu-item-122498">< /kebijakanass596enu-item menu-item-type-post_type menu-kolclcs mlcl menuget elemensub20Daus_footer_menu_elementor" data-id="30a1taxonomym/kebijakan-privas>ategorym/kebijakanass=65i class="menu-item menu-item-type-post_kolcl/advedorntousAdvedornto menu-item-122498">/kebipar.Opi2F menu-itemt-pageitemt-page menu-item-newsads.pusjakal: '//pan>
  • ntor-widget v clabr> class="elementor-widged00.7="Ttyle H"color: /li>
  • OPitrongmkaltesbygoogle.js' }); } } else { jnewsads.push({ rea jegogginws-disable--itemads.push(dule_201014_grecapteha = funntor- () { Array.from(docu"> ) { jnewsads.push(aresh3lazy> { aresh3lazy> { entrles.> { e="d entry.is.8commentong ) { ="jelazy> { lazy>
    { docu"> <":"-,"isi<":"-,"sideder j"pos":"-,"ivg%u Res:"id_ID-,"tor-widpi>s/style="color:-leme/jneetsagea"htt5shiv.mef.js".8L20"htt5shiv-js">) { jnewsad![tndif]--sads.push div clPold/javas.push" 8L200.7 2-s="Fcdantan-tjs-oldpacsiv cl.7 2_s="Fcd/tweet = {2isv>witt":"-}lesyndicatios.push div clPold/javas.push" 8L20ted">
    witt":er_ba,"isS.pushDebud":er_ba},"i18n":{"tweetOnr-widget-:"Bagikob dior-widget-,"tweetOn' rel='e:"Bagikob dio' rel='e,".inIh":"Buat Pi-t,"down>

    wious":"Sebelumnya","nolda:"Seivgjutnya","closs :"T="jp-,"a11yCaeles="Pi>wSnideM"s/ Res:"Snide sebelumnya","a11yCaeles="NoldSnideM"s/ Res:"Snide seivgjutnya","a11yCaeles="FirsdSnideM"s/ Res:"This is thd firsd snide","a11yCaeles="LasdSnideM"s/ Res:"This is thd cebd snide","a11yCaeles="PaginyndicBulletM"s/ Res:"Go to snide"},"is_rtl":er_ba,"breakpoi<":{2lxLQ"s:"Mnt"><_oldpac:{2lxLQ"s:"Mnt">Ks":ync:,"editor_v2c:ync:,"iink-.1Lbioc:ync:,"f> <\/jdmef-"poslten-,"up> fer<","vittpord-ass="jc],"globent-m Re_l="htboxr:"y0ic,"ii"htbox_env claltengok":"y0ic,"ii"htbox_env clahulls.pee.c:"y0ic,"ii"htbox_env clazooma:"y0ic,"ii"htbox_env clatweete:"y0ic,"ii"htbox_d00.7_srct:"f00.7c,"ii"htbox_des.piptor-_srct:"des.piptor-s},"pt>(":{"id":get-jn,"f00.7c:"Ratus%2re_felay%28%2F3law%28%2Uom/k27%2Fsayitaan-olcg%yitaakltenWahaiyitaanguasa%21","excersh":"","heaturesIm Res:" class\/\"menu-item menu-item\-jneets\/sdor Re\1 886\/03\/08\/1000027662_750x500.jpg?v=1772974811"}}lesyndicatios.push div cltor-wi">;/*! zM364Kev5.jeg-- (C)77899 ele0 Alexvgdet Dieulot-- class="zM364K/license */ ="jet,e;aresh3n=0145Set,o=docu">List&&o.t">List.suppords&&o.t">List.suppords("pi>feteh")&&dule_20.8commentor-Observt &&"is.8commentong"in5.8commentor-Observt Entry.protodiv ,ewsin364"in5docu"><)}),n),u?c||docu"><)}),n):docu">-uo((()=>{v(o.li><),t=void 0}),l))}),n),c&&docu">1||gramtaKey||grctrlKey)return;if(!n)return;n.addEv>{requssdIdleCallntor(t,{ti">-uo:1500})}:t=>{-()})((()=>{aresh3t=0145.8commentor-Observt ((e=>{e.>{if(e.is.8commentong){aresh3n=e.f="htt;t.unobservt(n),v(n.li><)}}))}));docu">{h(e)&&t.observt(e)}))}))}}funntor- p(e){e.reiv>-uo(t),t=void 0)}funntor- h(t){if(t&&t.li><&&(!r||sin364feteh",e.li><=t,docu"><_sticky dds 4 sss="jes.push div c'n.clicyndic/ld+json'>{"@are">xts:" clas\/\"schema>\n\n\n\n" >Entah ke gona arah pembvg%unn F9edvg% dibaw%, hongga ratus%2 Telay%2 weeus t hng ke jal=" agv cdacat mempertahankob laut yvg% seivma zMim/kejadim/\n\n\n\n" >Rekivmasi yvg% dilakukob mungkin5dibungkus sebagvi l="htth /odom/isasi dob peni"htth39 invssdasi,5tetapi nyah39ya ost_type commebut berdampak besi% begi Telay%2 tradisor-al,Fkorena hal zMimdacat berarti hol="h9ya ruvg% hiddp begi /krakl. Jikl mebuah ket_type memvg% berpihak pada rakyah, sehieus9ya teriakob dari pesisir tidak perlu sampaim/kejadimgelclbvg% amdpah dimjal="an.k\/p>\n\n\n\n" >Aksi commebut comjadimpada Ju/ membaw% bendera dob nws-d/k tunt/"cn. Suasanl memcat memanls dL151n5pembvkoran sampan sebagvi simbol protes sebelum akhir9ya api bomhasil dipadampe acaratFkepolisian.k\/p>\n\n\n\n" >Para Telay%2 /keol=i ra tunt/"cn /krakl tidak direiv cl. k\/p>\n\n\n\n" >Perwakilag Telay%2 bahpe colah diterima unt/k /keyimpaipe aspirasi menara l="hsu g, se">IMim/krupype i>\n\n\n\n" >Sekdor i-d/AtrlFdob pelv uhob /ungkin5mL151nggap r\n\n\n\n" >Negara memvg% hadir sebagvi regdiv>or,5tetapi tidak ji%e % berada pada posisi kompromi aPadih3l, daivm persC%ktif Isivm,Flaut /krupype kepkmilipe umum yvg% weevm hukumnya dimonopoli at%u dikuasai megeli

    Kst_type yvg% mLmpersulih caraFTelay%2 unt/k dacat me151kses laut ">\n\n\n\n" >Pertu"duhob ekonomi memvg% pken el,5tetapi hal zMimtetap sajactidak boleh /kejadik39 masyarakat kecil sebagvi tu"dal. Ketikl Telay%2 /krasa comy/1om oleh kst_type yvg% tidak melibatkcn /krakl senara adil,Fkonfcok sosialF/kejadim8hsikoFyvg% sulih dihondari. Tampaknya C%2guasa memvg% haeus /keeL151r ke%esih39 rakyah9ya, bukob malah /kebeggu sampaimsuara rakyah mL15lemvFdaivm b>\n\n\n\n" >Rosulull=h pern=h bersabda, \u201cKaum mus421 berserik=tFdaivm tiga perkora, yvitu air, padag% rumput,Fdob api.\u201d (h.r. Abu DawudFdob Ibnu Majah). Hadis dim="csmsudvh sehieus9ya /kejadim8amtu-8amtuFbahwa memvg% su"dat daya yvg% mL1jadimhajat hiddp o%e % b39yakFtidak boleh bahpe weevm jikl dikuasai menara eksklusif hongga /krugik39 masyarakat. Laut, sebagvi begiob dari kepkmilipe umum, sehieus9ya dikelcla oleh negara unt/k kemvll=hat%2 meluruh 1.8ga negara, bukob h39ya unt/k kepken ele. proyekFdob invssdasi.k\/p>\n\n\n\n" >Akhir9ya, aksi Telay%2 F3law%2 bukob h39ya sakldar perkora rekivmasi,5tetapi lebih dori itu, iMimte setiap keputus%2. Pembvg%unn Fyvg% adilF">\n\n\n\n" >Wall=huaivm bissaw%b.k\/p>\n\n\n\n" >(Penulis adaivh Aktivis Mus421ah)k\/p>\n-,"authors:{"@div s:"Person-,"nam a:"Dody Rafco%2syah","url":i class\/\"menu-item menu-item\-are"ributor\/dodye-gorl--item menu--tem-},"artic.7Sector-t:["Opi2Fc],"im Res:{"@div s:"Im ReOpriva","url":i class\/\"menu-item menu-item\-jneets\/sdor Re\1 886\/03\/08\/1000027662_750x500.jpg?v=1772974811","width":750,"he="htn:500},"pubcolhers:{"@div s:"O8ganizyndic-,"nam a:"","url":i class\/\"menu-item menu-itemc,"iogos:{"@div s:"Im ReOpriva","url":is},"sam As":[" class\/\"menuata-element_\type="widget" d\/-," class\/\"201014_7_6a\type="widget-," class\/\"ight="1em" viewBo\type="widget\/-," class\/\" 421.8z"/>\ {"@are">xts:" clas\/\"schema>elemeads=dule_201014_ads||[],"-priva"==tns cla1014_ads&&"-priva"==tns cla1014_.library&&(1014_.library.-prKeys(1014_ads).>-uo((funntor-(){if(s-priva"==tns cla1014_ads&&1014_ads.langth){iv cs=1014_ads.slice(0);1014_.library.-prKeys(s).>-1&&1014_.library.jneets.splice(a,1),(a=1014_ads.synexOf(s[e]))>-1&&1014_ads.splice(a,1),1014_.library..peate_js(s[e].url,"denkrasync")}))}}),3e3)}))glesyndicatds.push div clPold/javas.push"d;!funntor-(){luse Atrlva";dule_201014_=dule_201014_||{},dule_201014_.firsd_> setRequssdHsend(t.hclaBuir_Query(o))}}},dule_201014_.firsd_> -uo,c=e.requssdAnimyndicF vie||d,u=e.requssdIdleCallntor,f=/^plvaure$/i,m=["> src&&(t.srcla>src)},A=funntor-(e,t){return(getComputedStyle(e,null)||{})[t]},E=funntor-(e,t,a){>-uo:r}),r!==o&&(rwo)}:w((funntor-(){d(s)}),!0);return eunntor-(e){iv co;(e=!0===e)&&(rw44),t||(t=!0,(o=a-(i.now()-n))<0&&(o=0),e||o<9&&u?l():d(l,o))}},_=funntor-(e){iv ct,n,a=99,o=funntor-(){t=null,e()},r=funntor-(){iv ct=i.now()-n;e0)&&"visible"!=A(o,"overflow")&&(i=o.httBlemeingCementRiva(),r=S>i.laft&&Ri. jp-1&&F lementHf="ht>500&&a>lementWidth>500?500:370),O=n.EAAAAA,P=O*n.EAAFacdor),q2&&v>2&&!t.hidden?(q=P,G=0):q=v>1&&G>1&&1<6?O:I;>=m&&(F=r. jp)<=B&&(S=r.r="ht)>=m*T&&(R=r.laft)<=L&&(k||S||R||F)&&(u&&1<3&&!g&&(v<3||G<4)||K(o[i],f))){if(ae(o[i]),d=!0,j>9)break}e_ba!d&&u&&!l&&1<4&&G<4&&v>2&&(c[0]||-..t"> 0)>=i&&(F=e. jp)<=B&&(S=e.r="ht)>=i*T&&(R=e.laft)<=L&&(k||S||R||F)&&h(r,n.afterL remov=Child(e))},te=w((funntor-(t,t,a,i,o){iv cr,l,c,u,v,h;(v=C(e,"ivzybe>-uo(m),m=d(J,2500),z(e,n.> azyCeebo),N((funntor-(){h&&!ne(e)||(h?J(v):j--)}),!0)}));funntor- ne(e){return!! azyCeebo),W=d.getEed">azyCeebo+" "+-..t">
    det_bl.width)&&n!==e._lazysizisWidth&&F(t,i,a,n))},S=_((funntor-(){iv ct,t=B.langth;if(t)>azyCeebo:"lazy> ._lazybgsetL _lazybgset.carremov=Child(a>_lazybgset),Opriva.denineProperty(n,"_lazybgset",{venue:a,wrih3 cl:!0}),Opriva.denineProperty(a,"_lazybgset",{venue:l,wrih3 cl:!0}),e=e.reinsce(i," ").splid(k),l.style.eisplay="no0i",n.aceboNta-=lazySizisCrefig.>azyCeebo,1!=e.langth||d||(d="le j"),e.>setAt"ribut ("sizis",d),e.mateh(s)&&(a>setAt"ribut (lazySizisCrefig.srcsetAt"r,RegExp.$1),RegExp.$2&&a>setAt"ribut ("media",lazySizisCrefig.>setAt"ribut (lazySizisCrefig.sizisAt"r,d),a>remov=At"ribut (lazySizisCrefig.sizisAt"r),a>remov=At"ribut ("sizis")),z&&n>setAt"ribut ("e="cojptovumx",z),o&&n>setAt"ribut ("e="coryndi",o),l.n.c>n.c>-uo((funntor-(){a.> rAF((funntor-(){a.fire(l,"_lazy> rAF((funntor-(){e.f="htt.setAt"ribut ("e="cocart._lazysizisWidth)&&(t._lazysizisWidth=i),t._lazysizisWidth))}))}}))lesyndicatd/bodytd/"htt> o!-- Dynamic c">Kegenomaded in50.758 menomes. --> o!-- Cached c">Kegenomaded by WP-Super-Cache_blage26-07-24 21:51:17 --> o!-- Super Cache dynamic c">Keeetivaed bujelade init not set. See thd r o!-- Dynamic Super Cache --> o!-- Compressor- = gzip -->