• Tentang Kami
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman
  • Kontak
Minggu, 14 Juni 2026
  • Login
No Result
View All Result
NEWSLETTER
Mata Kalteng
  • Home
  • News
  • Daerah
    • Kalimantan Tengah
    • Palangka Raya
    • Barito Selatan
    • Barito Timur
    • Barito Utara
    • Gunung Mas
    • Kapuas
    • Katingan
    • Kotawaringin Barat
    • Kotawaringin Timur
    • Lamandau
    • Murung Raya
    • Pulang Pisau
    • Seruyan
    • Sukamara
  • Legislatif
    • DPRD Kalimantan Tengah
    • DPRD Kota Palangka Raya
    • DPRD Barito Selatan
    • DPRD Barito Timur
    • DPRD Gunung Mas
    • DPRD Kapuas
    • DPRD Katingan
    • DPRD Kotawaringin Barat
    • DPRD Kotawaringin Timur
    • DPRD Lamandau
    • DPRD Murung Raya
    • DPRD Pulang Pisau
    • DPRD Seruyan
  • Hukrim
  • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Politik
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Kolom
    • Advetorial
    • Opini
  • Home
  • News
  • Daerah
    • Kalimantan Tengah
    • Palangka Raya
    • Barito Selatan
    • Barito Timur
    • Barito Utara
    • Gunung Mas
    • Kapuas
    • Katingan
    • Kotawaringin Barat
    • Kotawaringin Timur
    • Lamandau
    • Murung Raya
    • Pulang Pisau
    • Seruyan
    • Sukamara
  • Legislatif
    • DPRD Kalimantan Tengah
    • DPRD Kota Palangka Raya
    • DPRD Barito Selatan
    • DPRD Barito Timur
    • DPRD Gunung Mas
    • DPRD Kapuas
    • DPRD Katingan
    • DPRD Kotawaringin Barat
    • DPRD Kotawaringin Timur
    • DPRD Lamandau
    • DPRD Murung Raya
    • DPRD Pulang Pisau
    • DPRD Seruyan
  • Hukrim
  • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Politik
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Kolom
    • Advetorial
    • Opini
Mata Kalteng
  • News
  • Daerah
  • Legislatif
  • Hukrim
  • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Politik
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Kolom

Beranda » Pendidikan Tinggi Kian Mahal, Akses Rakyat Kian Terbatas

Pendidikan Tinggi Kian Mahal, Akses Rakyat Kian Terbatas

Minggu, 14 Juni 2026
in Opini
A A
Share on FacebookShare on Twitter


Oleh: Nur Rahmawati, S.H ***

Pendidikan tinggi seharusnya menjadi sarana bagi generasi muda untuk meningkatkan kualitas diri, mengembangkan ilmu pengetahuan, serta mempersiapkan diri menjadi sumber daya manusia yang unggul. Namun, realitas yang terjadi saat ini menunjukkan bahwa akses terhadap pendidikan tinggi semakin sulit dijangkau oleh masyarakat, terutama dari kalangan ekonomi menengah ke bawah.

Baca juga berita lainnya

Kekerasan Seksual Verbal, Cermin Kerusakan Sistem Sosial

Ratusan Nelayan Belawan Unjuk Rasa, Tolong Peka Wahai Penguasa!

MBG Berulang, Alarm Kelalaian Negara?

Gagalnya Sistem Kapitalisme, Menciptakan Pendidikan yang Suram

Menyusutnya subsidi negara terhadap pendidikan tinggi telah berdampak pada meningkatnya biaya kuliah, sementara kemampuan ekonomi masyarakat tidak mengalami peningkatan yang sebanding. Akibatnya, banyak mahasiswa terpaksa menghentikan studi mereka karena tidak mampu menanggung biaya pendidikan yang semakin mahal.

Subsidi Menyusut, Mahasiswa Terbebani

Berbagai laporan menunjukkan bahwa subsidi pemerintah untuk pendidikan tinggi masih jauh dari kebutuhan riil perguruan tinggi. Bantuan operasional yang diberikan negara hanya mampu menutupi sebagian biaya operasional kampus sehingga perguruan tinggi harus mencari sumber pendanaan lain, salah satunya melalui Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang dibebankan kepada mahasiswa. (Kompas.id, 15-5-2026)

Kondisi ini membuat biaya kuliah terus meningkat dari tahun ke tahun. Di sisi lain, banyak mahasiswa yang berasal dari keluarga kurang mampu kesulitan membayar UKT dan biaya hidup selama kuliah. Bahkan, terdapat fakta bahwa ratusan ribu mahasiswa terpaksa menghentikan pendidikan tinggi karena hambatan finansial.

Fenomena mahalnya biaya kuliah juga memicu berbagai aksi protes mahasiswa di sejumlah kampus karena kenaikan UKT yang dianggap memberatkan. Beban pendidikan yang semestinya menjadi tanggung jawab negara semakin banyak dialihkan kepada masyarakat.

Liberalisasi Kampus dalam Sistem Kapitalisme

Meningkatnya biaya kuliah tidak dapat dilepaskan dari kebijakan liberalisasi pendidikan tinggi. Dalam sistem yang diterapkan saat ini, kampus didorong untuk mandiri dalam pembiayaan sehingga harus mencari sumber pemasukan sendiri. Akibatnya, mahasiswa menjadi salah satu sumber pendapatan utama melalui pembayaran UKT.

Kondisi ini sangat terasa terutama di perguruan tinggi swasta (PTS) yang sebagian besar pembiayaannya bergantung pada mahasiswa. Ketika biaya operasional kampus meningkat, maka biaya pendidikan yang dibebankan kepada mahasiswa juga ikut naik. Pada akhirnya, rakyat yang memiliki keterbatasan ekonomi menjadi pihak yang paling dirugikan karena semakin sulit mengakses pendidikan tinggi.

Akar persoalan sebenarnya terletak pada paradigma kapitalisme yang memandang pendidikan sebagai komoditas ekonomi. Pendidikan tidak lagi diposisikan sebagai hak dasar rakyat yang wajib dijamin negara, melainkan sebagai layanan yang dapat diperjualbelikan. Dalam paradigma ini, negara hanya berperan sebagai regulator yang mengatur mekanisme pendidikan, sementara tanggung jawab pembiayaan semakin banyak diserahkan kepada individu dan lembaga pendidikan.

Akibatnya, pendidikan tinggi berjalan dengan logika bisnis. Kampus dituntut mencari keuntungan atau setidaknya mampu menutup biaya operasionalnya sendiri. Ketika pemasukan kurang, maka solusi yang paling mudah adalah menaikkan biaya kuliah. Dampaknya sangat jelas: angka partisipasi pendidikan tinggi menjadi rendah dan risiko putus kuliah karena faktor ekonomi semakin tinggi. ([Kompas][4])

Solusi Islam: Pendidikan Gratis dan Tanggung Jawab Negara

Islam memiliki pandangan yang berbeda secara mendasar mengenai pendidikan. Dalam Islam, pendidikan merupakan kebutuhan dasar masyarakat dan faktor penting yang menentukan kemajuan peradaban. Pendidikan tidak hanya bertujuan mencetak tenaga kerja, tetapi juga membentuk generasi yang berkepribadian Islam, bertakwa, serta memiliki kepakaran di berbagai bidang kehidupan.

Karena itu, pendidikan tidak boleh dikomersialkan. Negara dalam Islam berfungsi sebagai raa’in (pengurus rakyat) yang bertanggung jawab memenuhi kebutuhan masyarakat, termasuk kebutuhan pendidikan. Rasulullah Saw bersabda: “Imam (khalifah) adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas rakyat yang diurusnya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Berdasarkan prinsip tersebut, negara wajib menyelenggarakan pendidikan secara gratis bagi seluruh warga negara, termasuk pendidikan tinggi. Setiap individu diberi kesempatan seluas-luasnya untuk melanjutkan pendidikan tanpa dibatasi oleh kemampuan ekonomi. Dengan demikian, tidak akan ada mahasiswa yang terpaksa putus kuliah karena alasan biaya.

Pendanaan pendidikan dalam sistem Islam berasal dari Baitulmal yang memiliki berbagai sumber pemasukan, seperti pengelolaan kepemilikan umum, kharaj, fai’, jizyah, dan sumber-sumber syar’i lainnya. Dengan sumber pemasukan yang besar dan beragam, negara mampu membiayai pendidikan secara optimal tanpa membebani rakyat.

Selain itu, sekolah dan kampus swasta tetap dapat berdiri dalam naungan Khilafah. Namun, pendidikan yang mereka selenggarakan juga tidak berorientasi bisnis. Pembiayaan sekolah atau kampus swasta dapat berasal dari wakaf yang dikelola secara profesional. Kurikulum yang diterapkan pun harus mengikuti kurikulum negara sehingga kualitas pendidikan tetap terjaga dan merata.

Khatimah

Meningkatnya biaya kuliah dan tingginya angka putus kuliah merupakan konsekuensi dari kebijakan pendidikan yang berlandaskan paradigma kapitalisme. Ketika negara mengurangi peran dan membiarkan pendidikan mengikuti mekanisme pasar, akses pendidikan menjadi semakin mahal dan tidak merata.

Islam menawarkan solusi yang berbeda dengan menjadikan pendidikan sebagai hak dasar rakyat yang wajib dijamin negara secara gratis. Dengan dukungan pembiayaan dari Baitulmal dan pengelolaan pendidikan yang berorientasi pelayanan, seluruh rakyat memiliki kesempatan yang sama untuk meraih pendidikan tinggi tanpa terbebani biaya, sehingga lahir generasi unggul yang mampu membangun peradaban yang mulia.

(Penulis dan Pendidik di Kotim)

Share1Tweet1SendShareShareSendScan
ad-space
Previous Post

163 Jemaah Haji Kotim Tiba di Sampit, Seluruhnya Dilaporkan dalam Kondisi Sehat

Berita Terkait

Opini

Kekerasan Seksual Verbal, Cermin Kerusakan Sistem Sosial

Jumat, 24 April 2026
Opini

Ratusan Nelayan Belawan Unjuk Rasa, Tolong Peka Wahai Penguasa!

Minggu, 8 Maret 2026
Opini

MBG Berulang, Alarm Kelalaian Negara?

Minggu, 22 Februari 2026
Opini

Gagalnya Sistem Kapitalisme, Menciptakan Pendidikan yang Suram

Sabtu, 14 Februari 2026
Opini

Menimbang Arah Diplomasi Perdamaian dan Keberpihakan Kemanusiaan

Senin, 9 Februari 2026
Opini

Ketimpangan Global: Wajah Nyata Kegagalan Kapitalisme

Minggu, 18 Januari 2026
Load More

Discussion about this post

Banner

PILIHAN EDITOR

Pendidikan Tinggi Kian Mahal, Akses Rakyat Kian Terbatas

Minggu, 14 Juni 2026

178 Penumpang Antar Super Air Jet Mendarat Perdana di Sampit, Otoritas Bandara Minta Penerbangan Dijaga Berkelanjutan

Jumat, 12 Juni 2026

Minyakita Jadi Sorotan, Pemkab Kotim Sidak Pabrik dan Distribusi untuk Tekan Inflasi

Jumat, 12 Juni 2026

Penerbangan Baru Lancarkan Arus Barang, Bupati Kotim Temukan Solusi Kendalikan Inflasi

Rabu, 10 Juni 2026

Bazar UMKM Dorong Produk Lokal Tembus Pasar Luar Daerah

Rabu, 10 Juni 2026

Polda Kalteng Ungkap 121 Kasus Kejahatan Jalanan Selama 2026, 233 Tersangka Berhasil Diamankan

Sabtu, 30 Mei 2026

  • Hakim Nyatakan Penangkapan Tidak Sah, Rudiyanto Resmi Bebas dari Tahanan

    12227 shares
    Share 4891 Tweet 3057
  • TPP Bukan Hak bagi ASN

    5949 shares
    Share 2380 Tweet 1487
  • Ini Jadwal Libur Siswa saat Bulan Ramadhan

    4269 shares
    Share 1708 Tweet 1067
  • 317.000 Hektare Kebun Sawit Behasil Disita Satgas PKH

    3799 shares
    Share 1520 Tweet 950
  • Satgas PKH Dari Jakarta Akan Mendarat di Sampit, Tinjau Penyitaan Lahan Perusahaan Nakal

    3618 shares
    Share 1447 Tweet 905
  • Kunjungi Kalteng, Kasum TNI Pantau Langsung Penyitaan Lahan Satgas Garuda di Kotim

    2782 shares
    Share 1113 Tweet 696
  • PT HMBP dan Polda Kalteng Didenda Rp 335 Juta

    2363 shares
    Share 945 Tweet 591
  • Tentang Kami
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman
  • Kontak
COPYRIGHT © 2018-2023 MATA KALTENG. ALL RIGHT RESERVED.
PROUDLY POWERED BY TEKNO HOLISTIK.
TENTANG KAMI  |  PEDOMAN  |  DISCLAIMER
KEBIJAKAN PRIVASI  |  KONTAK
© 2018-2023 MATA KALTENG. ALL RIGHT RESERVED.
PT RAJA DIGITAL MEDIA
JL. BUMI RAYA I, PERUM.ZAHRANA, RT.01/RW.01
KEL. BAAMANG BARAT, KEC. BAAMANG
SAMPIT, KOTAWARINGIN TIMUR, KALIMANTAN TENGAH
PROUDLY POWERED BY TEKNO HOLISTIK

Welcome Back!

Sign In with Facebook
Sign In with Google
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • News
  • Daerah
    • Kalimantan Tengah
    • Palangka Raya
    • Barito Selatan
    • Barito Timur
    • Barito Utara
    • Gunung Mas
    • Kapuas
    • Katingan
    • Kotawaringin Barat
    • Kotawaringin Timur
    • Lamandau
    • Murung Raya
    • Pulang Pisau
    • Seruyan
    • Sukamara
  • Legislatif
    • DPRD Kalimantan Tengah
    • DPRD Kota Palangka Raya
    • DPRD Barito Selatan
    • DPRD Barito Timur
    • DPRD Gunung Mas
    • DPRD Kapuas
    • DPRD Katingan
    • DPRD Kotawaringin Barat
    • DPRD Kotawaringin Timur
    • DPRD Lamandau
    • DPRD Murung Raya
    • DPRD Pulang Pisau
    • DPRD Seruyan
  • Hukrim
  • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Politik
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Kolom
    • Advetorial
    • Opini

COPYRIGHT © 2018-2023 MATA KALTENG
PROUDLY POWERED BY TEKNO HOLISTIK