SAMPIT – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) meningkatkan kewaspadaan menghadapi ancaman ganda berupa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kekeringan yang mulai dirasakan sejumlah wilayah seiring berlangsungnya musim kemarau.
Langkah antisipasi tersebut ditandai dengan pelaksanaan Apel Siaga dan Gelar Peralatan serta Gladi Kesiapsiagaan terhadap Bencana Karhutla Kabupaten Kotawaringin Timur Tahun 2026 di Halaman Parkir Stadion 29 November Sampit.
Wakil Bupati Kotim Irawati mengatakan kesiapsiagaan seluruh unsur menjadi hal penting mengingat Kotim merupakan salah satu daerah dengan tingkat kerawanan karhutla tertinggi di Kalimantan Tengah. Berdasarkan data yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, Kotim berada di posisi kedua setelah Kabupaten Pulang Pisau dalam jumlah titik panas (hotspot).
“Melalui apel ini kita ingin menunjukkan bahwa pemerintah daerah bersama TNI, Polri, BPBD, dunia usaha, dan seluruh elemen masyarakat siap melindungi masyarakat Kabupaten Kotawaringin Timur dari ancaman karhutla maupun kekeringan,” ujarnya, Rabu 15 Juli 2026.
Menurut Irawati, musim kemarau yang dipengaruhi fenomena El Nino berpotensi meningkatkan risiko kebakaran sekaligus memicu krisis air bersih di sejumlah wilayah, terutama kawasan pesisir selatan.
Ia mengungkapkan, hingga saat ini sudah ada empat desa yang menyampaikan surat permohonan bantuan distribusi air bersih kepada Pemerintah Kabupaten Kotim. Desa tersebut yakni Desa Kuin Permai, Desa Lempuyang, Desa Rantau Lestari, dan Desa Jaya Karet.
Keempat desa itu membutuhkan pasokan air bersih karena sumber air yang tersedia tidak lagi layak dikonsumsi.
“Kalau kemarau terus berlanjut, kemungkinan desa-desa lain juga akan menyusul mengajukan bantuan air bersih,” katanya.
Irawati menjelaskan, persoalan di wilayah selatan bukan semata-mata karena tidak ada air, melainkan kualitas air yang berubah menjadi asin saat musim kemarau akibat pengaruh air laut. Kondisi tersebut membuat air tidak layak digunakan untuk kebutuhan konsumsi masyarakat.
“Di daerah selatan itu bukan berarti tidak ada air, tetapi ketika musim kemarau airnya menjadi asin. Sedalam apa pun sumurnya, air tersebut tetap tidak layak dikonsumsi,” jelasnya.
Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten Kotim telah berkoordinasi dengan Perumdam Tirta Mentaya. Menurut Irawati, pihak Perumdam menyatakan siap membantu mendistribusikan air bersih secara bertahap kepada desa-desa yang membutuhkan.
Ia menambahkan, pemerintah daerah akan terus memantau perkembangan kondisi di lapangan agar distribusi air bersih dapat segera dilakukan apabila jumlah desa terdampak bertambah.
Selain persoalan air bersih, Irawati juga mengingatkan bahaya karhutla yang dapat menimbulkan dampak luas bagi masyarakat. Kabut asap akibat kebakaran berpotensi mengganggu kesehatan, aktivitas pendidikan, hingga transportasi apabila tidak ditangani sejak dini.
“Kalau sampai terjadi karhutla besar, dampaknya sangat luas, terutama terhadap kesehatan masyarakat. Karena itu pencegahan harus menjadi prioritas kita bersama,” tegasnya.
Di sisi lain, kekeringan yang berkepanjangan juga dikhawatirkan mengganggu sektor pertanian, khususnya di wilayah selatan Kotim yang selama ini menjadi salah satu kawasan penyangga produksi pangan daerah. Berkurangnya ketersediaan air dapat memengaruhi produktivitas lahan pertanian apabila musim kemarau berlangsung lebih lama.
Karena itu, Irawati mengajak seluruh pihak, mulai dari pemerintah, aparat keamanan, perusahaan pemegang konsesi, relawan hingga masyarakat untuk bersama-sama menjaga lingkungan dan mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan.
“Kita ingin Kabupaten Kotawaringin Timur tetap aman dari karhutla dan juga aman dari krisis air bersih. Sinergi semua pihak menjadi kunci agar masyarakat tidak merasakan dampak yang lebih besar akibat musim kemarau tahun ini,” pungkasnya.
(dia/matakalteng)

















Discussion about this post