Oleh: Pita***
Banjir bandang dan longsor yang melanda Kabupaten Aceh Tamiang pada akhir November 2025 kini menyisakan luka yang mendalam bagi masyarakat Aceh. Sebagian besar wilayah tersebut beberapa infrastrukturnya dan layanan publik banyak yang rusak, menurut Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud), ada 439 bangunan sekolah yang rusak.
Bahkan dikutip dari (kompas.com, 6-1-2026), dalam rapat koordinasi Satuan Tugas (Satgas) pemulihan bencana Sumatera yang di gelar DPR RI di Aceh, terdapat sebanyak 4.839 rumah warga yang hilang akibat tersapu banjir.Pasca banjir di Aceh, kini menyisakan lumpur tebal setinggi betis orang dewasa dan menutupi pemukiman warga. Jalan-jalan yang juga dipenuhi lumpur mengakibatkan sulitnya akses transportasi, bahkan ribuan kayu gelondongan yang ikut terbawa banjir kini mulai dibersihkan secara perlahan.
Namun disisi lain, Presiden mengungkap bahwa tumpukan lumpur di wilayah yang terdampak bencana Aceh tersebut menarik minat beberapa pihak Swasta, sehingga Presiden pun dengan sedia mempersilahkan pihak swasta untuk memanfaatkan lumpur tersebut sebagai upaya membantu pendapatan daerah, karena daerah Aceh sendiri pun ekonominya masih belum benar-benar pulih, sehingga peluang dari pemanfaatan lumpur dengan sedia dilakukan.
Upaya pemerintah dalam menangani masalah ekonomi yang ada di Aceh hari ini sudah mulai dilakukan, termasuk lumpur menjadi peluang untuk menghasilkan keuntungan. Namun sungguh ironi, di balik lumpur yang masih berada di wilayah tersebut alih-alih di selesaikan dengan jalan bantuan pembersihan secara keseluruhan namun justru kini lumpur pun menjadi soroton tersendiri oleh pihak swasta untuk diambil manfaatnya. Alhasil tanggapan serius dari pemerintah pun dilakukan.
Watak Buram Kapitalis dalam Menangani Bencana
Upaya yang dilakukan pemerintah justru menjadi tanda tanya besar, apakah ini adalah bentuk pemerintah dalam melemparkan tanggung jawab kepada pihak swasta? karena pada faktanya sistem Kapitalis yang bercokol di negeri ini tidak memandang musibah sebagai upaya perenungan diri, tapi justru bagaimana bisa mengambil manfaat dari musibah tersebut demi segelintir keuntungan.
Aceh belum pulih total, tapi justru keadaan ini dimanfaatkan sebaik mungkin, alih-alih membantu pendapatan daerah namun justru boleh jadi jatuh kepada para penguasa maupun pengusaha, yang mana masyarakatnya masih menjerit kelaparan diatas sebuah kebijakan. Kebijakan sistem sekuler Kapitalis yang sering kali salah prioritas menjadikan bantuan yang harusnya lebih utama dilakukan namun justru terabaikan.
Masyarakat Aceh yang belum sepenuhnya dapat bekerja kini satu-satunya jalan untuk bertahan hidup hanya berharap dari bantuan yang datang. Sehingga prioritas dari kebijakan terhadap kebutuhan masyarakat Aceh harusnya lebih dulu dilakukan. Kemana peran pemerintah dalam mengkaji masalah tersebut?, harusnya memberikan solusi tapi justru solusi yang dihadirkan pun bersifat pragmatis, tidak disertai aturan yang jelas sehingga memungkinkan pihak swasta justru akan melakukan eksploitasi besar-besaran dan sering kali berujung kepada kerusakan dan merugikan banyak orang.
Negara adalah Ra’in dan Junnah
Berbeda dengan negara yang berlandaskan sistem Islam. Negara adalah pengurus dan pelindung bagi masyarakatnya, yang mana negara harus bertanggungjawab penuh pada masyarakat terlebih dalam penanggulangan bencana.
Kebijakan pembangunan yang dilakukan oleh negara Islam tentu mempunyai strategi yang teratur demi kemaslahatan ummat bukan mendahulukan kepentingan meterill saja. Seorang pemimpin dalam negara Islam akan segera mengutamakan urusan masyarakatnya. Apalagi terkait swastanisasi sumberdaya alam yang menjadi kepemilikan umum, hal ini sudah jelas dilarang.
Upaya penanggulangan bencana tidak dengan mudah diserahkan kepada pihak swasta begitu saja, karena negara punya upaya tersendiri untuk masyarakatnya. Beberapa upaya yang dilakukan negara Islam dalam hal menangani bencana yaitu:
Pertama, Respon Spritual dan Sosial
Pemimpin dalam Islam akan segera memimpin masyarakatnya untuk berdoa kepada Allah atas apa yang terjadi. Pemimpin yang mempunyai empati luar biasa kepada masyarakatnya, bahkan ikut serta langsung terjun kelapangan agar bisa merasakan apa yang diderita oleh masyarakatnya.
Kedua, Mobilisasi Sumber Daya Negara
Bencana yang terjadi akan segera ditangani dengan pemanfaatan dana baitul mal ( kas negara), zakat, sedekah dan lainnya untuk segera membeli barang yang dibutuhkan dan segera didistribusikan kepada daerah yang terdampak, tidak hanya sembako, pakaian tetapi juga kebutuhan pokok lainnya.
Ketiga, Tindakan Praktis dan Mitigasi
Pembangunan infrastruktur segera dilakukan untuk mengatasi bencana yang berulang, seperti halnya membangun irigasi, tanggul, dan lainnya. Tidak hanya itu, bahkan upaya penanggulangan sebelum bencana yang terjadi dilakukan untuk mencegah bencana besar lainya.
Begitulah kepemimpinan dalam Negara Islam, kesadaran akan kewajiban terhadap pengurus rakyat segera dilakukan, pemimpin dalam Islam akan sadar bahwasanya kepemimpinan yang ia lakukan akan diminta pertanggungjawaban diakhirat kelak. Rasulullah SAW pernah menyampaikan: “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Begitupula Nasihat menonjol oleh Ibnu Khaldun memuat surat Thir bin Al-Husain kepada Putranya, Abdullah bin Tahir, ketika Khalifah Al-Makmun Ar-Rasyid mengangkat Putranya itu menjadi Gubernur di Riqqah, Mesir dan sekitarnya, ” Amma ba’du. Berpeganglah engkau pada ketakwaan kepada Allah Yang Esa, yang tiada Sekutu bagi-Nya, merasa diawasi-Nya, dan jauhilah murka-Nya. Jagalah rakyatmu siang dan malam. Peliharalah keselamatan yang dikenakan oleh Allah kepadamu dengan cara memgingkat tempatmu kembali, dimana engkau menghadap-Nya dan meminta pertanggungjawabanmu terhadapnya”.
Hanya negara yang menerapkan sistem Islam lah yang mampu mengatasi segala persoalan negeri ini terlebih bencana yang terjadi. Maka kembali kepada sistem yang menerapkan Islam secara Kaffah adalah solusi yang hakiki.
(Penulis berprofesi sebagai tenaga pendidik d Kabupaten Kotim)






















Discussion about this post