Oleh: Rasidah, ST ***
Ditengah kesulitan ekonomi datanglah musuh yang tak terduga, curanmor. Kejahatan ini makin merajalela, membuat rakyat merasa tidak aman dan gelisah. Apa yang harus dilakukan?
Dilansir dari katakata.co.id, 09-11-2025 Terjadi pencurian motor matic merah kesayangan Lina pada Selasa (4/11/2025) dini hari. Di lihat rekaman CCTV menunjukkan sosok pria berjaket hitam dengan hoodie menutupi wajah. Pencuri mendekati dua motor yang terparkir di depan salon, lalu membawa salah satunya kabur tanpa suara sedikit pun. Gerakannya tenang, menunjukkan sudah berpengalaman.
Peristiwa ini menambah daftar panjang kasus pencurian kendaraan bermotor yang marak terjadi di Sampit dalam beberapa bulan terakhir. Warga diimbau meningkatkan kewaspadaan, terutama di malam hari, dengan menambah kunci ganda atau memindahkan kendaraan ke tempat lebih aman.
Mengapa Pencurian Kian Merebah?
Tingginya kejahatan tidak bisa terlepas dari motif ekonomi. Harga kebutuhan cenderung semakin naik, sehingga penghasilan tidak mampu mencukupi kebutuhan. Ditambah susahnya cari lapangan pekerjaan bagi para ayah dan banyak pabrik yang terpaksa mem-PHK banyak karyawannya beberapa waktu belakangan ini. Kondisi tersebut makin menstimulus orang-orang melakukan kejahatan.
Sistem pemerintahan yang kapitalistik ini menyerahkan seluruh urusan rakyat kepada individu atau swasta. Sehingga, masyarakat merasa berat, tidak mampu memenuhi kebutuhan akhirnya dengan gelap melakukan kejahatan. Sanksi peradilan disistem ini juga tidak akan menjerakan sehingga pelaku kejahatan akan terus bertambah. Apalagi pelaku memiki uang yang banyak atau jabatan yang tinggi, maka tumpullah hukum yang menindaknya.
Selain negara yang menganut sistem kapitalistik, penyebab utama seseorang mudah terjerumus ke dalam kejahatan ialah lemahnya keimanan. Walau kondisi ekonomi seseorang sulit, bila hati dipenuhi iman dan ketakwaan, ia akan tetap bersabar, berusaha sesuai aturan Allah, dan menjauhi perbuatan yang dilarang. Situasi ini muncul karena sistem pendidikan sekuler masa kini tidak cukup mendukung penanaman nilai‑nilai keagamaan. Agama hanya ditempatkan pada ibadah ritual semata, sedangkan kehidupan umat disetir oleh aturan buatan manusia yang lemah.
Akhirnya, banyak orang tidak lagi menyadari tujuan sebenarnya penciptaan manusia, yakni sebagai hamba yang diciptakan untuk menyembah Allah. Mereka cenderung mengejar kemewahan dunia karena menganggap kebahagiaan terletak pada pemuasan kebutuhan fisik. Hal ini memicu peningkatan kejahatan, sebab seseorang merasa puas memiliki harta meskipun cara memperolehnya melanggar syariat.
Sistem Kehidupan Dalam Islam
Islam memiliki cara hidup yang khas, yang didasarkan pada akidah. Dari kecil, orang‑orang Muslim diajarkan bahwa agama adalah satu‑satunya jalan keselamatan, dan tujuan utama hidup mereka adalah beribadah kepada Allah. Karena itu, setiap tindakan diukur dengan keridhaan‑Nya serta standar halal‑haram. Pemahaman ini memperkuat keimanan, umat akhirnya lebih banyak melakukan amal kebaikan dan menjauhi perbuatan yang sia‑sia atau mendatangkan murka Allah. Kontrol internal semacam ini secara alami mengurangi potensi kejahatan.
Selain itu, pemerintahan Islam menempatkan rakyat sebagai prioritas utama. Pemimpin berfungsi sebagai pengurus dan pelindung, yang wajib menjamin kebutuhan dasar setiap warga. Sistem peradilan Islam juga menerapkan hukuman yang tegas misalnya potong tangan bagi pencuri dengan tujuan menurunkan angka kriminalitas dan menciptakan rasa aman.
Keberhasilan semua ini bertumpu pada tiga pilar yaitu ketakwaan individu, pengawasan sosial, dan negara yang berperan sebagai penjaga. Negara menjadi aktor utama dalam menyelesaikan masalah, termasuk pemberantasan kejahatan, serta menjamin ketersediaan kebutuhan pokok dan rasa aman bagi seluruh umat.
Sungguh, kejahatan seperti pencurian motor akan terus terjadi selama sistem kehidupan sekuler dan sistem pemerintahan kapitalistik masih bercokol di negeri ini. Membuangnya dan menggantinya dengan sistem kehidupan Islam adalah perkara yang wajib dan urgen dilakukan. Wallahua’lam.
(Penulis merupakan aktivis dakwah di Kabupaten Kotawaringin Timur)






















Discussion about this post