SAMPIT – Kepala BPBD Kotawaringin Timur, Multazam, melaporkan bahwa proses pencarian terhadap seorang lansia yang diduga disambar buaya di Sungai Rangkang terus dilakukan meski menghadapi tantangan medan yang cukup berat.
Sejak pagi, tim diterjunkan menggunakan Alut RIB milik SAR Sampit untuk memasuki kawasan sungai yang menjadi lokasi kejadian.
“Pagi ini, tim masuk ke Sungai Rangkang menggunakan Alut RIB SAR Sampit. Kondisi pasang surut air membuat unit lain tidak aman digunakan sehingga RIB menjadi satu-satunya yang memungkinkan menelusuri lokasi tersebut,” kata Multazam, Senin 24 November 2025.
Ia menjelaskan bahwa proses pencarian hari ini dilakukan dengan metode penyisiran, termasuk menyisir area pantai dan tepian sungai menggunakan perahu karet BPBD. Namun, hingga pencarian berlangsung sepanjang hari, korban belum ditemukan.
“Kegiatan 23 November 2025 dilakukan pencarian dengan cara menyisir di pantai menggunakan perahu karet BPBD, tetapi korban belum ditemukan,” lanjutnya.
Multazam mengungkapkan bahwa keterlambatan laporan perkembangan pencarian ke publik bukan karena kelalaian petugas, tetapi karena keterbatasan sinyal di lokasi. Dokumentasi dan informasi baru dapat diteruskan setelah tim mencapai area dengan jaringan yang lebih stabil.
“Kalau berita terlambat, itu karena sinyal terbatas. Dokumentasi baru bisa terkirim setelah tim keluar dari area tanpa jaringan,” ujarnya.
Ia menyebutkan, Sungai Rangkang merupakan habitat alami buaya. Hal tersebut juga disampaikan langsung oleh tim di lapangan setelah melakukan penelusuran hingga titik-titik yang diduga menjadi tempat keberadaan buaya pemangsa.
“Informasi tadi pagi dari tim, mereka menyatakan bahwa Sungai Rangkang ini memang habitatnya. Penyisiran dilakukan menuju wilayah yang diduga menjadi lokasi buaya yang memakan korban,” tambah Multazam.
Menurutnya, medan yang dihadapi tim gabungan cukup berat. Debit air yang berubah karena pasang surut membuat proses masuk ke area lebih dalam harus dilakukan dengan sangat hati-hati.
Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan mengapa hanya RIB milik SAR Sampit yang dapat digunakan untuk menembus jalur utama pencarian.
“Kesulitan yang kami hadapi adalah pasang surut air. Unit yang aman untuk penelusuran di lokasi hanya RIB milik SAR Sampit,” tegasnya.
Meski menghadapi banyak kendala, Multazam memastikan bahwa proses pencarian akan terus dilanjutkan hingga ditemukan tanda-tanda keberadaan korban. Tim gabungan BPBD, SAR, serta warga yang berada di lokasi terus memperluas area penyisiran sesuai perkembangan situasi di lapangan.
Ia menegaskan bahwa BPBD Kotim berkomitmen memberikan dukungan penuh, baik dari sisi personel maupun peralatan, untuk memastikan proses pencarian dilakukan seoptimal mungkin.
Hingga berita ini disampaikan, pencarian masih berlangsung dan tim terus berada di lapangan untuk melacak keberadaan korban di sepanjang aliran Sungai Rangkang.
(dia/matakalteng)





















Discussion about this post