Oleh: Nur Rahmawati, S.H ***
Larangan mendekati pusat distribusi bantuan kemanusiaan bagi warga Palestina di Jalur Gaza yang diberlakukan oleh otoritas militer Israel kembali menelanjangi wajah sejati rezim Zionis: kejam, tak berperikemanusiaan, dan tanpa ampun. Perlakuan ini kian menegaskan bahwa yang dihadapi rakyat Palestina bukan sekadar penjajahan, melainkan proyek pemusnahan manusia yang terus dibiarkan oleh dunia (Beritasatu.com, 4/6/2025).
Kapitalisme: Akar Matinya Nurani Kemanusiaan
Penderitaan rakyat Palestina bukanlah tragedi yang baru kemarin sore. Lebih dari tujuh dekade, mereka hidup di bawah bayang-bayang penjajahan, kekerasan, dan pengusiran. Namun dunia tetap memilih bungkam. Bahkan ketika bayi-bayi meregang nyawa karena kelaparan, ketika rumah sakit dan tempat ibadah dihantam bom, suara negara-negara besar hanya sebatas kecaman diplomatik tanpa satu pun tindakan nyata.
Kekejaman yang terus berlangsung kini bahkan menjelma menjadi genosida perlahan. Kelaparan dijadikan senjata pembunuh yang tak kalah mengerikan dari rudal dan senapan. Hak Asasi Manusia yang kerap dielu-elukan negara-negara Barat ternyata tak lebih dari jargon kosong, tak berlaku bagi Palestina.
Tragedi ini tentu tak terjadi di ruang hampa. Diamnya negara-negara besar, bahkan hanya berani beretorika tanpa langkah konkret, menjadi cermin hilangnya rasa kemanusiaan dari pemimpin dunia. Seolah empati sudah sirna. Padahal, naluri untuk membela sesama, terlebih anak-anak yang tak berdosa, adalah bagian tak terpisahkan dari fitrah manusia.
Tumpulnya nurani ini sejatinya bersumber dari sistem kapitalisme global yang memengaruhi arah kebijakan negara-negara di dunia. Kapitalisme menempatkan keuntungan materi dan dominasi kekuasaan di atas nilai-nilai kemanusiaan. Dalam sistem ini, keadilan tak lebih dari alat tawar-menawar, dan kepedulian hanya berlaku jika ada kepentingan yang menyertainya.
Sudah menjadi rahasia umum: kapitalisme tak hanya menciptakan ketimpangan, tetapi juga menjadi mesin pembunuh umat Islam di berbagai penjuru dunia. Palestina hanyalah satu dari sekian luka yang dibiarkan menganga.
Di Mana Para Pemimpin Muslim?
Yang lebih menyayat hati, dunia Islam pun tak mampu menjawab jeritan rakyat Palestina. Tak satu pun pemimpin negeri-negeri Muslim yang berani mengerahkan pasukan bersenjata untuk membela saudara mereka yang tertindas. Padahal, Islam jelas menegaskan bahwa membela sesama Muslim adalah kewajiban. Rasulullah bersabda:
“Barang siapa tidak peduli terhadap urusan kaum Muslimin, maka ia bukan bagian dari mereka.” (HR. Thabrani).
Namun, seruan jihad untuk membebaskan Palestina justru dianggap tabu. Para pemimpin Muslim lebih sibuk menjaga sekat nasionalisme warisan penjajah, yang memecah belah umat dan menghambat persatuan. Lebih tragis lagi, sebagian dari mereka justru menjalin hubungan mesra dengan penjajah Zionis, mengabaikan jeritan rakyat Palestina yang kian sekarat.
Jihad, Jalan Pembebasan Palestina
Fakta ini harus membawa kita pada satu kesimpulan: tak ada jalan lain untuk membebaskan Palestina selain jihad. Dan jihad bukan sekadar gerakan perorangan, melainkan seruan negara. Hanya institusi khilafah, sebuah negara Islam yang berdaulat dan independen yang memiliki otoritas dan keberanian untuk mengirimkan pasukan guna membebaskan tanah suci itu dari penjajahan.
Namun, khilafah tak akan lahir di tengah sistem kapitalisme-sekular yang telah mencengkeram dunia Islam hari ini. Sebab, penguasa yang tunduk pada kepentingan negara-negara besar tak akan pernah memilih jalan jihad. Mereka lebih takut pada sanksi dan tekanan politik daripada pada kemurkaan Allah. Padahal Allah telah menjanjikan dalam firman-Nya:
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa.” (QS. An-Nur: 55).
Maka, perjuangan untuk membebaskan Palestina harus dimulai dari perjuangan menegakkan khilafah. Perjuangan ini bukan tugas satu-dua orang, melainkan proyek besar umat yang dipimpin oleh jamaah dakwah ideologis yang konsisten menyeru pada perubahan sistemik.
Jamaah ini bertugas menyadarkan umat, menumbuhkan kesatuan visi, serta memimpin langkah-langkah strategis untuk membangun kembali peradaban Islam yang adil dan mulia. Sudah saatnya umat merapatkan barisan, menjawab seruan dakwah ini, dan bersama-sama menjemput pertolongan Allah (nashrullah).
(Penulis adalah Pendidik di Kabupaten Kotawaringin Timur)






















Discussion about this post