Oleh : Herliana Tri M ***
Barak militer akhir-akhir ini menjadi ramai perbincangan publik. Masyarakat awam yang tak tahu menahu akhirnya mencoba mencari informasi tentang barak militer ini. Barak militer merupakan gagasan baru Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, yang kebijakan baru tersebut banyak menuai kontroversial dan kritik, yaitu pendidikan karakter di barak militer (radarbogor, 13/06/2025)
Seolah mendapat angin segar atas solusi kenakalan remaja di kota Bogor, Wali Kota Bogor Dedie Rachim mengunjungi barak militer Yonif 315 di Gunung Batu, Kota Bogor, Minggu (1/6/2025) yang dipersiapkan sebagai tempat bagi siswa ‘spesial’ yang membutuhkan penanganan khusus. Barak militer yang berada di kawasan Gunung Batu Bogor, akan dijadikan lokasi pendidikan karakter bagi para siswa bermasalah. Kapasitas awal mencapai 100 peserta, 80 anak laki-laki dan 20 anak perempuan.
Barak militer merupakan fasilitas tempat tinggal prajurit yang dirancang untuk mendukung operasi, pelatihan, dan kegiatan militer. Barak militer tak sekedar tempat beristirahat militer, tetapi juga pusat pelatihan yang menanamkan disiplin, kerjasama, dan ketahanan fisik. Barak militer di bawah komando TNI sering menjadi simbol ketertiban dan keteguhan.
Asal Usul Barak Militer Bagi Remaja
Barak militer dianggap sebagai solusi saat ini untuk mengatasi permasalahan kenakalan remaja. Salah satu kenakalan remaja yang sering meresahkan masyarakat adalah tawuran pelajar. Tawuran ini tak hanya beresiko bagi pelajar yang sedang berantem, tetapi juga membahayakan nyawa warga yang melintas.
Tawuran pelajar tak hanya adu mulut dan adu jotos, tetapi membawa senjata tajam seperti golok, celurit, parang serta benda tajam lainnya. Tak jarang, tawuran ini mengancam nyawa dan ada korban jiwa baik dari kelompok yang ikut tawuran maupun warga yang melintas dan turut menjadi korban amukan tawuran. Selama bulan April hingga Juni 2025 saja, polresta telah menangkap 32 remaja kasus penganiayaan dan perkelahian (radarbogor, 03/06/2025).
Seolah tak ada solusi untuk masalah ini, usulan dan akhirnya menjadi kebijakan keberadaan barak militer disetujui pemerintah daerah dan disambut lapang dada oleh orantua yang merasa sudah ’angkat tangan’ menghadapi kenakalan buah hatinya.
Barak untuk Remaja, Solusikah?
Sebagai kebijakan yang diambil, patut menjadi pertanyaan, apakah solusi ini efektif menyelesaikan kenakalan remaja saat ini? Kenakalan tak biasa bahkan mengancam nyawa diri dan orang lain. Apakah solusi ini sudah sesuai dengan pangkal permasalahan dan ketepatan solusinya?
Sebagai masalah yang saling terkait, kompleksnya masalah remaja harus melibatkan keefektifan kebijakan negara, kurikulum pendidikan serta peran orangtua. Tiga peran ini yang harusnya menjadi perhatian khusus untuk dioptimalkan guna menyelesaikan masalah remaja. Sehingga melibatkan militer untuk solusi masalah, rasanya jauh panggang dari api.
Kebijakan yang menjauhkan masalah dengan solusi. Kenapa bisa demikian? Militer sebagai penjaga keamanan negara baik dari darat, laut dan udara pasti memiliki kurikulum pembelajaran yang berbeda dengan apa yang dibutuhkan oleh pelajar.
Tentara sebagai garda terdepan bangsa punya peran yang sangat besar melindungi bangsa dari serangan musuh. Tentu kedisiplinan, kewaspadaan, keahlian serta kecakapan khusus yang dibutuhkan dan diramu dalam kurikulum militer levelnya tak sama dengan solusi yang dibutuhkan untuk menangani kenakalan remaja.
Andai masalah remaja adalah kedisiplinan secara fisik, solusi militer ini ’mungkin’ dianggap tepat. Tetapi saat remaja yang dianggap bermasalah ini berasal dari keluarga ’broken home’ karena perceraian orangtua, yang berdampak pada masalah psikis anak, atau adanya ’luka pengasuhan’ akibat minimnya ilmu parenting orangtua, atau kesibukan orangtua dan minimnya interaksi dengan anak, maka solusi militer ini tentu tak tepat.
Pada saat anak merasa gersang akan kasih sayang, maka keberadaan psikolog untuk mengurai masalah anak serta pendampingan dan curahan perhatian orangtua lebih dibutuhkan untuk menyembuhkan dan mengembalikan keharmonisan hubungan anak dan orangtua.
Disamping itu, kurikulum pendidikan yang bertujuan membentuk karakter, kepribadian siswa didik haruslah menjadi perhatian utama bagi output pendidikan. Permasalahan yang muncul dalam dunia pendidikan saat ini adalah perubahan yang sering terjadi dalam kurikulum. Seolah-olah, opini ganti menteri maka ganti kurikulum benar adanya.
Tak mantap dan punya pegangan kurikulum seolah nyata bagi pendidikan di negeri ini. Pihak sekolah sibuk beradaptasi dengan kurikulum yang baru dan bahan ajarnya, sehingga perhatian dalam membenahi karakter ini kurang mendapat porsinya. Disisi lain, keberadaan rohis sekolah, sebagai wadah keagamaan siswa justru mendapat stigma negatif seolah menjadi sarang berkembangnya terorisme.
Pemberitaan yang pernah mengemuka tentang bibit terorisme pada Rohis (Rohani Islam), menjadikan wadah siswa untuk berada dalam lingkungan Islami yang terbina menjadi takut dan menghindari aktivitas tersebut. Akhirnya, menjadi pertanyaan besarnya, dimana remaja ini mendapatkan tempat membina karakter dan tsaqofahnya? Pada saat keluarga tak hadir, lingkungan yang kondusif juga hilang?
Kondisi ini diperparah dengan kebijakan negara yang setengah -setengah memandang kenakalan remaja. Tak secara tegas dalam sanksi hukum bagi remaja yang sudah baligh. Remaja dianggap masa transisi menuju dewasa dengan sanksi tak tegas saat ’kenakalan remaja’ berbuah petaka. Berlindung atas nama remaja, hukum tak mampu hadir memberikan sanksi yang bisa membuat jera.
Berbagai peran yang tak optimal berjalan, menjadikan masalah remaja tak menemukan jalan keluar. Solusi tambal sulam bak benang kusut tak memberi solusi nyata. Bahkan solusi bisa menghadirkan masalah baru. Semoga negara ini mau mendengarkan suara kebaikan dari berbagai pihak. Selama kebaikan itu memberikan jalan keluar, maka sudah sepantasnya diambil demi perbaikan generasi.
(Penulis adalah pegiat literasi di Kota Bogor)






















Discussion about this post