Oleh: Nur Rahmawati, S.H ***
Kasus kekerasan terhadap anak yang berulang kali terjadi menjadi bukti jelas bahwa jaminan keamanan bahkan di dalam keluarga masih sangat lemah di negeri ini. Fenomena ini mirip dengan gunung es, di mana angka kasus yang terjadi mungkin lebih banyak daripada yang dilaporkan. Hal ini menunjukkan kegagalan sistem perlindungan anak yang seharusnya menjadi tanggung jawab semua pihak, termasuk tataran keluarga, masyarakat, dan negara, dalam menjaga keamanan anak-anak.
Parahnya Kekerasan Terhadap Anak
Kekerasan terhadap anak terjadi lagi, kali ini korban JAP, balita 3 tahun yang merupakan anak dari selebgram Hifdzan Silmi Nur Emyaghnia atau biasa disapa Aghnia Punjabi. Terungkap penganiayaan dilakukan oleh pengasuhnya IPS (27) di kediaman orangtua korban di Malang, Jawa Timur. Hal tersebut dibenarkan oleh Kompol Danang Yudanto, Kepala Satuan Reserse Kriminal (Kasatreskrim) Kepolisian Resor Kota (Polresta) Malang (liputan6.com, 30-3-2024).
Kekerasan terhadap anak tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga psikis, seksual, dan lain-lain. Jenis kekerasan yang paling banyak terjadi di Indonesia adalah kekerasan seksual, diikuti oleh kekerasan fisik dan psikologis. Angka kasus ini menunjukkan betapa parahnya masalah kekerasan terhadap anak di negeri ini.
Regulasi yang ada, seperti Undang-Undang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga (UU PKDRT) tampaknya belum mampu menyelesaikan masalah ini. Meskipun UU PKDRT telah diberlakukan selama 20 tahun, namun belum mampu melindungi dan menjadi jaminan bagi seseorang untuk tidak melakukan kekerasan terhadap anak. Hal ini menunjukkan bahwa rasa jera belum tercipta di kalangan pelaku dan belum menjadi pembelajaran di tengah masyarakat.
Sistem Kapitalisme Gagal Atasi Kekerasan Terhadap Anak
Ideologi Kapitalisme Sekularisme yang fokus pada nilai-nilai dunia dan mengakui banyak ketidakadilan pada aspek kesejahteraan juga menjadi faktor yang memengaruhi terjadinya kekerasan terhadap anak. Tekanan ekonomi, permasalahan hidup, dan kurang jernihnya pikiran sering kali memicu perilaku kekerasan. Maka, kegagalan sekularisme kapitalisme sudah tampak di permukaan. Bahkan, sekularisme kapitalisme memberikan pengaruh sebagai berikut:
Pertama, Pengurangan Pengaruh Agama : Sekularisme mengurangi pengaruh agama dalam masyarakat. Bahkan, memisahkan agama dari kehidupan yang bisa berdampak pada cara seseorang mendapatkan nilai-nilai moral dan etika. Tanpa pendidikan agama yang kuat, orang tua kurang mendapatkan panduan tentang bagaimana berperilaku etis dan menghindari kekerasan. Bahkan, tak jarang orang terdekat anak yang harusnya melindungi justru menjadi ancaman disebabkan tidak pahamnya bahwa perbuatan yang dilakukan akan dihisap kelak di akhirat.
Kedua, Kurangnya Dukungan Sosial : Dalam sistem sekular, anak mungkin tidak mendapatkan dukungan moral dan sosial yang cukup dari komunitas atau keluarga mereka. Ini bisa meningkatkan risiko mereka terhadap kekerasan, baik fisik maupun psikologis. Terlebih jika beban hidup makin berat, termasuk meningkatkan stres, sehingga mengakibatkan mudahnya melakukan kekerasan.
Ketiga, Kurangnya Pendidikan Moral : Sekularisme sering kali memberikan tekanan pada pendidikan secara umum dan tidak spesifik terhadap nilai-nilai moral dan etika. Ini bisa berdampak pada mereka yang kurang memahami pentingnya menghindari kekerasan dan bagaimana menanggapi emosi atau sebab lain sehingga melakukan kekerasan terhadap anak.
Keempat, kurangnya Perlindungan Hukum : Dalam sistem sekular, ada kemungkinan bahwa anak yang mengalami kekerasan tidak mendapatkan perlindungan hukum yang cukup. Ini bisa meningkatkan risiko mereka terhadap kekerasan dan trauma. Sebaliknya, tidak tegasnya aturan hukum yang memberikan efek jera bagi pelaku, sehingga akan menumbuh suburkan kasus yang sama. Perlindungan anak seharusnya menjadi tanggung jawab semua pihak, baik keluarga, masyarakat, maupun negara. Mirisnya hari ini tidak berfungsi dengan baik.
Islam Punya Solusi
Sebaliknya, landasan Islam menawarkan solusi yang berbeda. Sistem pemerintahan Islam mewajibkan setiap orang untuk memahami pentingnya perlindungan anak dan berperan serta dalam mewujudkannya. Islam menekankan pada aspek fisik, intelektual, moral, ekonomi, dan lainnya untuk mewujudkan generasi berkualitas yang jauh dari pengalaman buruk, termasuk menjadi korban kekerasan.
Islam memiliki mekanisme yang kuat dalam memberikan perlindungan terhadap anak, terutama dalam konteks hukum dan etika. Berikut adalah beberapa solusi yang dapat diambil untuk mengatasi kekerasan terhadap anak dalam kerangka Islam:
Pertama, Pemahaman Hukum : Islam memiliki ajaran yang kuat mengenai hak-hak anak, termasuk hak untuk hidup bebas dari kekerasan dan diskriminasi. Pemahaman hukum Islam dapat membantu orang tua dan masyarakat memahami hak-hak anak dan bagaimana melindungi mereka dari kekerasan.
Kedua, Peran Orang Tua : Dalam Islam, orang tua memiliki peran penting dalam melindungi dan merawat anak mereka. Mereka diberi tanggung jawab untuk memastikan bahwa anak-anak mereka mendapatkan pendidikan yang baik dan diberi kesempatan untuk berkembang secara seimbang. Orang tua juga diberi tanggung jawab untuk menghindari kekerasan fisik dan psikologis terhadap anak mereka.
Ketiga, Sistem Hukum Islam : Sistem hukum Islam memiliki mekanisme untuk melindungi hak-hak anak, termasuk hak untuk mendapatkan perlindungan dari kekerasan. Misalnya, dalam hukum Islam, ada hukum yang melarang kekerasan terhadap anak dan memberikan sanksi bagi mereka yang melanggar hukum tersebut. Hukum Islam selain memberikan efek jera, juga memberikan keadilan bagi korban dan pelaku, sehingga merasa tenang dan menentramkan.
Keempat, Komunitas dan Masyarakat : Masyarakat dan komunitas Islam juga memiliki peran penting dalam melindungi anak dari kekerasan. Melalui komunitas, anak dapat mendapatkan dukungan dan perlindungan dari kekerasan. Masyarakat juga dapat berperan dalam mengawasi dan melaporkan kasus kekerasan terhadap anak kepada otoritas yang berwenang.
Kelima, Pendidikan dan Kesadaran : Pendidikan dan kesadaran tentang hak-hak anak dan pentingnya melindungi mereka dari kekerasan sangatlah penting. Melalui pendidikan, anak dapat belajar tentang hak-hak mereka dan bagaimana melindungi diri mereka dari kekerasan. Pun dengan orang tua yang memahami dan sadar akan peran dan tanggung jawabnya sebagai pelindung bagi keluarganya, tidak hanya di dunia tetapi juga akhirat.
Dengan menerapkan solusi Islam yang dapat memberikan perlindungan terbaik kepada anak dari kekerasan, akan membawa anak dalam pengawasan dan pertumbuhan yang baik.
Sanksi Dalam IsIam
Dalam konteks hukum Islam, sanksi yang diberikan kepada mereka yang melanggar hukum perlindungan anak, khususnya dalam kasus kehamilanan anak, fokus pada hukuman ta’zir (hukuman yang bertujuan untuk menghukum dan menghentikan perbuatan yang melanggar hukum) karena anak tidak dianggap sebagai harta yang dapat dicuri .
Landasan hukumnya adalah hadis yang diriwayatkan oleh imam al-Bukhari, Muslim, dan Ahmad bin Hambal yang bersumber dari Aisyah ra Ini menunjukkan bahwa dalam hukum Islam, hukuman berupa potong tangan tidak diterapkan terhadap pelaku pembunuhan anak.
Hukuman ta’zir dalam konteks ini mungkin berupa hukuman yang bertujuan untuk menghentikan perbuatan yang melanggar hukum, seperti pembayaran ganti rugi kepada keluarga anak yang telah diculik, atau hukuman lain yang dianggap sesuai dengan hukum Islam dan hukum negara untuk menghukum pelaku penculikan anak.
Untuk mengatasi masalah kekerasan terhadap anak, negara perlu menegakkan hukum dengan tegas, berlandaskan nilai-nilai yang mampu memberikan sikap jera, dan mendukungnya dengan segala fasilitas. Selain itu, pendidikan dan sosialisasi tentang pentingnya perlindungan anak juga perlu ditingkatkan di seluruh tingkat masyarakat.
(Penulis adalah Pegiat Literasi di Kabupaten Kotawaringin Timur)






















Discussion about this post