PALANGKA RAYA – Kerusakan ruas jalan nasional di wilayah Katingan Hulu menjadi sorotan setelah kondisi jalan viral di media sosial. Akses transportasi masyarakat terganggu hingga berdampak pada aktivitas ekonomi warga setempat.
Gubernur Kalimantan Tengah, Agustiar Sabran, menegaskan penanganan harus difokuskan agar jalan tetap dapat difungsikan masyarakat. Ia meminta seluruh pihak bergerak cepat menangani titik-titik kerusakan yang parah.
“Yang penting jalan itu fungsional dulu. Masyarakat tidak peduli statusnya, yang penting bisa dilewati,” ujarnya, Jumat 8 Mei 2026. Ia juga meminta perbaikan dilakukan paralel tanpa menunggu pekerjaan di satu titik selesai.
Menurut Agustiar, meski status jalan merupakan kewenangan pemerintah pusat, pemerintah daerah tetap menerima keluhan dari masyarakat. Karena itu, ia meminta pemerintah pusat melibatkan daerah dalam setiap perencanaan pembangunan infrastruktur.
“Saya minta ke depan, setiap perencanaan pusat harus melibatkan daerah. Gubernur ini perpanjangan tangan pusat di daerah. Supaya tahu kondisi riil di lapangan,” tegasnya. Ia menekankan pemerintah harus hadir sebagai pelayan masyarakat.
“Kami ini pelayan masyarakat, bukan dilayani. Keluhan masyarakat harus ditanggapi,” ucapnya. Ia juga meminta penindakan tegas terhadap kendaraan over dimension over load (ODOL) yang mempercepat kerusakan jalan.
“Kalau ada truk ODOL, laporkan. Harus ditindak. Perusahaan juga harus ikut bertanggung jawab,” tegasnya. Gubernur juga mengusulkan pembentukan pos pengawasan di titik rawan kerusakan jalan.
Wakil Gubernur Kalteng, Edy Pratowo, mengatakan kondisi lapangan menjadi dasar pemerintah dalam merumuskan solusi. Menurutnya, pemerintah berupaya agar masyarakat tidak mengalami kesulitan akses maupun kelangkaan bahan pokok.
“Yang terpenting, masyarakat jangan sampai terdampak hingga terjadi kesulitan akses atau kelangkaan,” ujarnya. Ia mengakui tantangan penanganan cukup berat akibat tekanan global dan kenaikan harga BBM.
Koordinator Aliansi Driver dan Masyarakat Katingan Hulu, Candra Wardana, menyebut kondisi jalan sangat memprihatinkan. Ia mengatakan beberapa titik bahkan berubah menjadi kubangan saat hujan turun.
“Titik-titik tersebut menjadi objek vital. Kalau dilalui, separuh kabin mobil bisa terendam air. Itu sudah bukan jalan lagi, karena sudah berbentuk kubangan,” katanya. Kerusakan parah disebut terjadi di ruas Tumbang Bemban hingga Tumbang Senamang.
“Sepanjang sekitar 40 kilometer, itu sekitar 14 titik yang kami hitung, yang dari Tumbang Bemban sampai Tumbang Senamang,” ujarnya. Akibat kerusakan tersebut, distribusi barang terganggu dan harga kebutuhan pokok mengalami kenaikan.
Kepala BPJN Kalteng, Robert Himawan Hamiseno, menjelaskan total ruas Tumbang Samba–Tumbang Hiran–Tumbang Sanamang mencapai sekitar 120 kilometer. Dari total itu, baru sekitar 40 kilometer yang telah beraspal.
“Tahun ini penanganan aspal sekitar 2,3 kilometer, kami juga menangani beberapa titik crossing yang rusak dengan pemasangan box culvert beton dan aramco, kurang lebih sekitar 30 titik,” ujarnya. Ia menambahkan penanganan dilakukan bertahap dari Tumbang Samba menuju arah barat.
“Kendala utama di lapangan adalah cuaca dan kendaraan ODOL. Jika tidak dikendalikan, jalan yang sudah diperbaiki bisa cepat rusak kembali,” katanya. Pemerintah daerah dan pihak terkait pun sepakat percepatan penanganan harus dibarengi pengawasan ketat agar jalan tidak kembali rusak dalam waktu singkat.
(nra/matakalteng)






















Discussion about this post