PALANGKA RAYA – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kalimantan Tengah menyoroti fenomena panjangnya antrean pembelian bahan bakar minyak (BBM) di Kota Palangka Raya yang masih terjadi di sejumlah SPBU dalam beberapa hari terakhir hingga memakan badan jalan.
Wakil Ketua III DPRD Kalteng, Junaidi, menilai kondisi tersebut harus segera ditangani melalui langkah konkret, bukan sekadar penyampaian imbauan kepada masyarakat. “Terkait edaran dari wali kota tentang pembatasan pemakaian BBM, khususnya Pertalite dan Pertamax di Kota Palangka Raya, kami dari DPRD Kalteng menyoroti hal itu,” ujarnya, Jumat 8 Mei 2026.
Junaidi mengatakan, apabila gelombang protes masyarakat maupun aksi mahasiswa terkait persoalan BBM kembali terjadi, DPRD menilai hal tersebut sebagai bentuk aspirasi yang wajar. “Kalau memang hari ini, besok, atau lusa ada demo dari mahasiswa maupun elemen masyarakat lain, kita mendukung saja. Artinya memang Pertamina harus didemo oleh masyarakat kita,” katanya.
Menurutnya, antrean panjang yang terjadi hampir merata di sejumlah SPBU diduga bukan disebabkan stok BBM yang kosong di tingkat Pertamina, melainkan distribusi ke SPBU yang dinilai belum maksimal. “Menurut praduga kami, stok di Pertamina mungkin cukup, tapi pengiriman ke SPBU yang kurang,” ungkapnya.
Ia mengaku DPRD juga telah melakukan peninjauan langsung ke sejumlah SPBU dan menemukan adanya dugaan pengurangan pasokan dibanding kebutuhan normal. “Hasil temuan kami di lapangan, kebutuhan mereka rata-rata 16 tangki per bulan, tapi yang datang hanya delapan tangki,” katanya.
Karena itu, DPRD mendesak adanya langkah cepat dari Pertamina dan pemerintah daerah untuk menambah distribusi BBM ke SPBU agar antrean dapat segera terurai. “Yang dibutuhkan masyarakat sekarang bukan retorika, tapi langkah nyata dari Pemprov, pemerintah kota, maupun Pertamina,” tegasnya.
Junaidi meminta Pertamina segera meningkatkan distribusi Pertalite dan Pertamax hingga dua kali lipat untuk sementara waktu guna memenuhi kebutuhan masyarakat. “Tolong Pertamina tambah 100 persen atau dua kali lipat pengiriman Pertamax dan Pertalite ke SPBU supaya antrean ini terurai,” ujarnya.
Ia menambahkan, masyarakat sebenarnya tidak akan membeli BBM secara berlebihan apabila kebutuhan di kendaraan mereka sudah terpenuhi. “Kalau stok di mobil dan motor mereka cukup, masyarakat juga tidak akan membeli lagi. Pertamax ini kan memang untuk pemakaian umum,” pungkasnya.
(nra/matakalteng)















