SAMPIT – Di saat sebagian wilayah mulai menikmati pembangunan jalan dan jembatan megah, masyarakat Pulau Hanaut masih hidup dalam cerita lama yang tak kunjung berubah. Puluhan tahun berlalu, pergantian pemimpin datang dan pergi, namun satu hal tetap sama: janji pembangunan jembatan di Sungai Mentaya masih sebatas wacana.
Kini, di tengah harga bahan bakar minyak (BBM) yang terus melonjak dan semakin sulit didapat, warga Pulau Hanaut kembali dihadapkan pada kenyataan pahit yang harus mereka jalani setiap hari. Mereka tidak punya banyak pilihan. Di atas Sungai Mentaya yang luas dan ganas, klotok-klotok kayu tua masih menjadi urat nadi kehidupan masyarakat.
Dari alat transportasi sederhana itulah warga menggantungkan harapan untuk pergi ke Samuda, Sampit, maupun wilayah lainnya demi bekerja, berbelanja, sekolah, hingga mencari pengobatan. Meski harga BBM naik berkali-kali lipat, aktivitas penyebrangan tetap berjalan seperti biasa. Tidak ada kata berhenti bagi masyarakat yang hidup di wilayah seberang sungai. Namun konsekuensinya mulai terasa.
Tarif penyebrangan kendaraan roda dua yang sebelumnya Rp15 ribu kini naik menjadi Rp20 ribu per unit. Kenaikan itu dianggap tak terelakkan karena biaya operasional klotok ikut melonjak akibat mahalnya BBM. Bagi sebagian orang, kenaikan Rp5 ribu mungkin terlihat kecil. Tapi bagi masyarakat yang hampir setiap hari harus menyeberang sungai, tambahan biaya itu menjadi beban baru di tengah kondisi ekonomi yang semakin sulit.
Fitri, warga Desa Hanitipan, mengaku penyebrangan menggunakan klotok sudah menjadi bagian dari hidup masyarakat Pulau Hanaut sejak puluhan tahun silam. “Dari saya kecil sudah seperti ini. Klotok ini jadi andalan kami untuk belanja ke Samuda, ke Sampit, dan ke mana-mana,” katanya. Sabtu 9 Mei 2026. Menurutnya, masyarakat sebenarnya ingin mengeluh terhadap kondisi yang tak pernah berubah tersebut.
Namun pada akhirnya mereka hanya bisa pasrah karena tidak memiliki alternatif lain. “Kadang pengen juga mengeluh, tapi mau bagaimana lagi. Ini satu-satunya jalan kami,” katanya lirih. Pantauan di lapangan menunjukkan aktivitas penyebrangan berlangsung nyaris tanpa henti setiap harinya. Sedikitnya dua hingga tiga klotok dioperasikan secara bergantian untuk melayani mobilitas warga Pulau Hanaut dan daerah sekitarnya.
Sejak sebelum matahari terbit, aktivitas di Pelabuhan Palingkau, Desa Sei Ijum, sudah mulai ramai. Para guru yang mengajar di wilayah Kecamatan Pulau Hanaut terlihat menunggu untuk menyeberang demi bisa tiba tepat waktu di sekolah tempat mereka mengabdi. Sebagian besar tenaga pengajar itu diketahui tinggal di luar wilayah Pulau Hanaut. Mau tidak mau, setiap hari mereka harus menghadapi derasnya arus Sungai Mentaya demi menjalankan tugas mendidik anak-anak di daerah seberang.
Bagi masyarakat di sana, menyeberangi sungai bukan lagi soal keberanian. Itu sudah menjadi rutinitas yang harus dijalani, meski nyawa menjadi taruhannya. Sungai Mentaya dikenal memiliki ombak besar yang berubah mengikuti musim dan cuaca. Saat angin kencang datang, permukaan air bisa berubah ganas dalam hitungan menit.
Belum lagi ancaman predator liar yang hidup di perairan tersebut. Buaya muara kerap disebut masih sering muncul di sekitar aliran sungai, menjadi ketakutan yang diam-diam hidup di benak warga setiap kali klotok mulai bergerak meninggalkan dermaga. Beberapa insiden transportasi sungai, baik klotok maupun taksi penyeberangan yang menghubungkan warga Pagatan, pernah terjadi sebelumnya. Namun anehnya, semua ancaman itu seakan tak lagi mampu menghentikan langkah masyarakat.
Karena bagi warga Pulau Hanaut, sungai bukan sekadar hamparan air yang memisahkan wilayah. Sungai adalah jalan hidup yang harus dilalui setiap hari, apa pun risikonya. Ditengah mahalnya BBM, sulitnya akses transportasi, dan janji pembangunan jembatan yang terus menguap bersama pergantian kekuasaan, masyarakat Pulau Hanaut hanya bisa berharap satu hal sederhana, suatu hari nanti mereka tak lagi harus mempertaruhkan nyawa untuk sekadar menyeberang.
(gus/matakalteng)




















Discussion about this post