PALANGKA RAYA – Penanganan kerusakan ruas jalan nasional di wilayah Katingan Hulu terus dilakukan secara bertahap oleh Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Kalimantan Tengah, meski dihadapkan pada berbagai kendala.
Kepala BPJN Kalteng, Robert Himawan Hamiseno, mengungkapkan kerusakan terjadi di sejumlah titik pada ruas Tumbang Samba–Tumbang Hiran hingga Tumbang Senamang. “Ruas dari Tumbang Samba ke Tumbang Hiran sampai dengan Tumbang Senamang ada beberapa titik yang mengalami kerusakan,” ujarnya saat diwawancarai, Selasa 28 April 2026.
Menurutnya, kondisi jalan yang masih berupa tanah menjadi faktor utama kerusakan, terutama saat curah hujan tinggi dan tingginya aktivitas kendaraan berat. “Karena memang kondisinya masih berupa jalan tanah, belum berupa perkerasan, karena kondisi cuaca yang cukup sering hujan, kemudian tadi juga disampaikan banyaknya truk ODOL yang lewat sana. Kerusakan jalan itu cepat sekali terjadi,” jelasnya.
Ia mengatakan, pihaknya telah menerima permintaan masyarakat untuk segera melakukan penanganan di titik-titik kerusakan tersebut. “Pada prinsipnya mereka meminta dari kami, dari pihak balai untuk dapat segera menangani beberapa kerusakan di titik-titik yang tadi disampaikan,” katanya. Robert mengungkapkan, BPJN sebenarnya telah mulai bekerja sejak awal tahun, namun pelaksanaan dilakukan bertahap hingga akhir 2026.
“Kami sudah menyampaikan bahwa kami sudah laksanakan dari awal tahun, tapi karena kendalanya cuaca dan sebagainya, pelaksanaan ini dilakukan secara bertahap sampai akhir tahun 2026,” ujarnya. Penanganan yang dilakukan tidak hanya berupa pengaspalan, tetapi juga perbaikan fungsional agar jalan tetap bisa dilalui.
“Yaitu dengan mengaspal jalan sepanjang 2,3 kilo, kemudian sisanya sampai dengan Tumbang Hiran, Tumbang Samba, kita memelihara jalan sehingga tetap operasional dengan meratakan, memperbaiki kondisi tanah, memasang box culvert, memasang aramco di beberapa titik sehingga jalannya bisa beroperasional, berfungsional dan bisa dilalui masyarakat dengan baik,” paparnya.
Ia juga berharap dukungan dari berbagai pihak untuk memperlancar pekerjaan di lapangan. “Harapannya cuaca tidak terlalu sering hujan, kemudian ODOL bisa lebih dikendalikan, kemudian masyarakat sekitar juga membantu kami dalam pelancaran pekerjaan kami,” tambahnya.
Untuk tahun ini, anggaran yang dialokasikan dalam penanganan ruas tersebut sekitar Rp36 miliar. “Kalau kami untuk menangani jalan di sana, kurang lebih ada sekitar 36 miliar, di mana di antaranya kami mengaspal sepanjang 2,3 kilo, kami membangun box culvert di kurang lebih 5 titik, serta memasang aramco di kurang lebih 30-an titik,” jelasnya.
Secara keseluruhan, panjang ruas Tumbang Samba–Tumbang Senamang mencapai sekitar 120 kilometer, dengan kondisi beraspal baru sekitar 40 kilometer. Namun demikian, keterbatasan anggaran menjadi kendala utama dalam percepatan pembangunan. “Kalau kita bicara sebetulnya berapa, kita hitungan di atas kertas saja itu mungkin sampai dengan Tumbang Senamang bisa hampir 1T,” ungkapnya.
Sehingga, pembangunan infrastruktur jalan saat ini masih harus menyesuaikan dengan prioritas nasional. “Bahwasannya sebetulnya prioritas pemerintah pada pemerintahan Presiden Prabowo kan program Asta Cita, seperti MBG, swasembada pangan, kemudian sekolah rakyat, irigasi dan sebagainya,” ujarnya.
Selain itu, ketersediaan bahan bakar juga menjadi tantangan dalam operasional di lapangan. “Truk, alat berat butuh bahan bakar, dan itu solar. Kalau solar langka, itu jadi kendala. Tadi kami juga minta solusi kepada bapak gubernur,” katanya. Meski demikian, ia menyebut masyarakat telah memahami kondisi tersebut dan menyambut baik langkah penanganan yang dilakukan. “Kita sampaikan dalam audiensi dan masyarakat tentunya senang,” pungkasnya.
(nra/matakalteng)





















Discussion about this post