PALANGKA RAYA – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Tengah merilis Berita Resmi Statistik (BRS) terkait perkembangan inflasi dan sejumlah indikator ekonomi pada momen Ramadan 2026.
Kepala BPS Kalteng, Agnes Widiastuti, memaparkan lima BRS, yakni Indeks Harga Konsumen (IHK) Februari 2026, Nilai Tukar Petani (NTP) Februari 2026, Perdagangan Luar Negeri Januari 2026, Pariwisata Januari 2026, serta Jasa Transportasi Januari 2026.
NTP Kalimantan Tengah pada Februari 2026 tercatat sebesar 136,33 atau naik 1,23 persen dibanding Januari 2026 yang sebesar 134,67. Peningkatan terjadi karena indeks harga yang diterima petani (It) naik 1,32 persen, lebih tinggi dari kenaikan indeks harga yang dibayar petani (Ib) sebesar 0,08 persen.
“Secara keseluruhan, beberapa subsektor mengalami kenaikan dan penurunan NTP pada Februari 2026,” ujar Agnes, Selasa 3 Maret 2026. Kenaikan NTP terjadi pada subsektor hortikultura sebesar 4,09 persen, tanaman perkebunan rakyat 1,37 persen, peternakan 0,76 persen, dan tanaman pangan 0,26 persen.
“Kenaikan dipicu naiknya harga karet, kelapa sawit, cabai rawit, durian, gabah, dan ayam ras pedaging. Sementara itu, subsektor perikanan mengalami penurunan NTP sebesar 0,11 persen,” ungkap Agnes. Nilai ekspor Kalimantan Tengah pada Januari 2026 tercatat sebesar US$257,07 juta, turun 13,56 persen dibanding periode yang sama tahun 2025.
Penurunan terbesar terjadi pada ekspor hasil pertambangan yang turun 10,07 persen. Nilai impor Januari 2026 mencapai US$0,32 juta, turun 92,34 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, dengan penurunan tertinggi pada sektor industri pengolahan. Meski demikian, neraca perdagangan Kalimantan Tengah pada Januari 2026 tetap surplus sebesar US$256,75 juta.
“Komoditas utama ekspor adalah batu bara, minyak kelapa sawit, lignit, kayu olahan, karet remah, bijih zirconium, niobium, dan tantalum, serta bungkil dan residu. Jepang, India, dan Korea Selatan masih menjadi negara tujuan utama ekspor, sementara Malaysia dan Tiongkok menjadi negara pemasok impor utama,” jelas Agnes.
Pada Januari 2026, perjalanan wisatawan nusantara asal Kalimantan Tengah tercatat mencapai 1.013.301 perjalanan, meningkat 4,62 persen dibanding bulan sebelumnya dan naik 0,61 persen dibanding Januari 2025. Sementara itu, perjalanan wisatawan nusantara yang menjadikan Kalimantan Tengah sebagai tujuan mencapai 999.644 perjalanan, naik 8,36 persen dibanding Desember 2025 dan meningkat 1,99 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel bintang pada Januari 2026 tercatat 43,58 persen, turun 14,06 poin dibanding bulan sebelumnya, namun naik 3,28 poin dibanding Januari 2025. Adapun TPK hotel nonbintang dan akomodasi lainnya sebesar 22,47 persen, turun 1,85 poin dibanding Desember 2025, tetapi meningkat 0,81 poin secara tahunan.
“Jumlah tamu hotel bintang tercatat 47.217 orang, turun 19,34 persen dibanding bulan sebelumnya, dengan 99,17 persen merupakan tamu domestik. Namun secara tahunan meningkat 21,47 persen. Hotel bintang empat dan lima masih menjadi pilihan utama,” papar Agnes. Kemudian pada hotel nonbintang dan akomodasi lainnya, jumlah tamu mencapai 114.080 orang, naik 5,74 persen dibanding Desember 2025 dan melonjak 88,79 persen dibanding Januari 2025.
Sebanyak 99,93 persen tamu merupakan domestik, dengan hotel berkapasitas 10–24 kamar menjadi pilihan utama. “Rata-rata lama menginap tamu (RLMT) di hotel bintang mencapai 1,35 malam, naik 0,01 poin dibanding bulan sebelumnya. Sementara pada hotel nonbintang dan akomodasi lainnya terjadi penurunan 0,02 poin.” Jelasnya
BPS juga mencatat frekuensi penerbangan di Kalimantan Tengah pada Januari 2026 turun 2,43 persen dibanding Desember 2025. Jumlah penumpang udara ikut turun 7,77 persen, dari 136.129 orang menjadi 125.548 orang. Lalu lintas barang melalui udara juga turun 2,55 persen, dari 2.236 ton menjadi 2.179 ton.
Di sektor angkutan laut, jumlah penumpang turun 9,96 persen dari 32.908 orang menjadi 29.631 orang. Arus barang melalui laut jugaa merosot 45,86 persen, dari 2,59 juta ton menjadi 1,40 juta ton. Rilis BRS ini menjadi gambaran dinamika ekonomi Kalimantan Tengah menjelang Ramadan 2026, dengan sejumlah indikator menunjukkan penguatan, sementara sektor lain mengalami perlambatan.
(nra/matakalteng)






















Discussion about this post