PALANGKA RAYA – Merebaknya kembali virus Nipah (NiV) di negara bagian Benggala Barat, India Timur, memicu kewaspadaan sejumlah negara, termasuk Indonesia. Virus zoonosis mematikan dengan tingkat kematian hingga 75 persen ini dinilai berpotensi menimbulkan wabah luas jika tidak diantisipasi secara serius.
Meski demikian, Kementerian Kesehatan memastikan hingga kini belum ditemukan kasus virus Nipah di Indonesia. Pemerintah tetap meningkatkan kewaspadaan menyusul laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terkait munculnya kembali kasus di kawasan Asia.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Tengah, Suyuti Syamsul, menegaskan bahwa sampai saat ini belum ada temuan virus Nipah di wilayah Kalimantan Tengah. “Belum ada satupun fasilitas kesehatan yang mendeteksi keberadaan virus Nipah di Kalimantan Tengah,” ujar Suyuti, Kamis 29 Januari 2026.
Sebagai langkah pencegahan, Dinas Kesehatan mengimbau masyarakat untuk menghindari konsumsi makanan dari hewan liar atau hewan yang tidak lazim dikonsumsi, serta tidak mengonsumsi daging mentah. “Kalau menyangkut kesehatan hewan, agar dikonfirmasi ke dinas pertanian. Kami hanya mengeluarkan imbauan pencegahan kepada masyarakat,” jelasnya.
Terkait pengawasan mobilitas antarwilayah, Suyuti menyampaikan bahwa belum ada pembatasan atau pengawasan khusus di tingkat provinsi, mengingat belum ada daerah yang menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) atau wabah.
“Pengawasan antar daerah baru dilakukan jika ada daerah yang menetapkan KLB. Untuk dari luar negeri, pengawasan dilakukan oleh Balai Karantina Kesehatan di setiap pelabuhan,” katanya. Suyuti juga memastikan bahwa fasilitas kesehatan di Kalimantan Tengah telah memiliki pedoman penanganan virus Nipah.
Pedoman tersebut telah disusun sejak 2021 dan menjadi acuan jika sewaktu-waktu ditemukan kasus. “Fasilitas kesehatan sudah punya pedoman dan tahu harus bagaimana jika menemukan kasus. Arahan teknis dari Kementerian Kesehatan juga sudah ada,” pungkasnya.
Virus Nipah pertama kali ditemukan di Malaysia pada 1998 dan sejak itu dilaporkan muncul di sejumlah negara Asia seperti India, Bangladesh, Singapura, dan Filipina. Virus ini menular dari hewan ke manusia, dengan kelelawar pemakan buah sebagai sumber utama penularan, serta babi sebagai hewan perantara.
(nra/matakalteng)






















Discussion about this post