PALANGKA RAYA – Kepala BNN Kota Palangka Raya, Kombes Pol I Wayan Korna, menegaskan bahwa jalur pesisir dan laut masih menjadi pintu masuk utama peredaran narkotika berskala besar ke Indonesia. Selain itu, jaringan narkoba juga memanfaatkan pesawat kecil dengan berbagai modus penyelundupan.
Dia mengungkapkan, sejumlah pengungkapan kasus menunjukkan pola yang sama, termasuk kasus besar di Yogyakarta, di mana jalur masuk narkotika diketahui berasal dari laut. “Sebagian besar narkotika skala besar masuk melalui jalur pesisir dan laut. Bahkan ada juga yang menggunakan pesawat kecil dengan berbagai modus,” ujarnya saat paparan Press Release Akhir Tahun 2025 BNN Kota Palangka Raya.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadikan penguatan pengawasan wilayah pesisir sebagai fokus penting dalam strategi pencegahan peredaran narkotika. “Karena itu, penguatan wilayah pesisir harus menjadi perhatian agar memiliki daya tangkal yang lebih kuat,” katanya.
Selain pesisir, pengawasan wilayah perbatasan juga menjadi perhatian BNN. Meski Kota Palangka Raya tidak memiliki perbatasan langsung, Kalimantan Tengah berbatasan dengan Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara. Dia menilai pergerakan pendatang dari wilayah perbatasan menjadi salah satu indikator yang perlu diwaspadai. “Palangka Raya memang tidak berbatasan langsung, tetapi pergerakan orang dari wilayah perbatasan tetap harus dicermati,” jelasnya.
BNN Palangka Raya Fokus Pencegahan, Pemberantasan, dan Rehabilitasi Narkoba Sepanjang 2025
Sementara itu, ditengah dinamika dan tantangan peredaran narkotika yang terus berkembang, Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Palangka Raya melaporkan capaian kinerja sepanjang tahun 2025, mencakup upaya pencegahan, pemberantasan, dan rehabilitasi melalui penerapan Strategi Indonesia Bersinar sebagai pendekatan komprehensif memerangi narkoba.
Kepala BNN Kota Palangka Raya Kombes Pol I Wayan Korna menjelaskan, strategi tersebut meliputi penguatan kolaborasi, penguatan intelijen, penguatan wilayah pesisir, penguatan wilayah perbatasan, serta pendekatan ikonik dan tematik sebagai upaya komprehensif menekan peredaran narkotika.
“Strategi Indonesia Bersinar kami jalankan melalui penguatan kolaborasi dan intelijen, termasuk fokus pada wilayah pesisir dan perbatasan, serta pendekatan ikonik dan tematik agar pesan pencegahan lebih mengena di masyarakat,” ujar I Wayan Korna, saat press rilis. Dari sisi anggaran, BNN Kota Palangka Raya masih menghadapi keterbatasan. Pada tahun 2025, anggaran tercatat sekitar Rp1,5 miliar setelah beberapa kali mengalami pengurangan.
Meski demikian, kegiatan tetap berjalan melalui kolaborasi lintas sektor, khususnya dukungan Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah yang mengalokasikan sekitar Rp4 miliar. Realisasi anggaran tahun 2025 pun mencapai 99,9 persen. “Walaupun anggaran terbatas, dengan kolaborasi dan dukungan pemerintah provinsi, seluruh program utama tetap bisa dilaksanakan secara optimal,” katanya.
Pada bidang pemberantasan, layanan asesmen terpadu bagi pelaku tindak pidana narkotika mencapai target 100 persen, yakni lima layanan dari target lima. Sepanjang 2025, BNN Kota Palangka Raya juga menjalin 14 Perjanjian Kerja Sama (PKS) sebagai bagian dari strategi kolaboratif dalam menghadapi tantangan narkotika.
Sementara di bidang pencegahan, Indeks Tanggap Narkoba Kota Palangka Raya berada pada angka 2,84 dengan klasifikasi “tanggap”. Indeks Ketahanan Diri Remaja berdasarkan survei eksternal mencapai 60,28 dengan klasifikasi “sangat tinggi”, sedangkan Indeks Kemandirian Partisipasi Masyarakat tercatat 3,54, yang menunjukkan partisipasi masyarakat cukup baik dan didukung regulasi daerah.
“Partisipasi masyarakat sudah cukup baik, dan ini menjadi modal penting dalam pencegahan berbasis komunitas,” jelasnya. Penguatan ketahanan keluarga menjadi salah satu fokus utama, mengingat banyak kasus penyalahgunaan narkoba berakar dari kondisi keluarga yang tidak harmonis.
Program pembinaan dilakukan melalui pendekatan desa dan kelurahan, dengan 30 kelurahan di Kota Palangka Raya menjadi sasaran. Selain itu, sekitar 50 relawan dibina sepanjang 2025, serta program pemberdayaan alternatif dilaksanakan di kawasan rawan narkoba seperti Pahandut melalui pelatihan keterampilan ekonomi.
Pada bidang rehabilitasi, keterbatasan fasilitas rawat inap masih menjadi kendala. Saat ini, rehabilitasi rawat jalan dapat dilakukan di dalam kota, sementara rawat inap harus dirujuk ke luar daerah. Sepanjang 2025, capaian pasca rehabilitasi rawat inap mencapai 26 orang dari target 25, sedangkan rehabilitasi rawat jalan mencapai 36 orang dari target 30.
Layanan rehabilitasi didukung oleh lembaga seperti Yayasan Galilea, Puskesmas Pahandut, dan Puskesmas Menteng. Selain itu, BNN Kota Palangka Raya mengembangkan Intervensi Berbasis Masyarakat (IBM) dengan capaian enam klien dari target lima, serta memperkuat peran agen pemulihan berbasis masyarakat.
“Ke depan, tantangan kami adalah keterbatasan anggaran asesmen, terutama menjelang penerapan pendekatan restorative justice pada 2026. Ini menjadi perhatian agar layanan tetap berjalan optimal,” pungkas I Wayan Korna.
(nra/matakalteng)





















Discussion about this post