SAMPIT – Komando Distrik Militer (Kodim) 1015/Sampit memetakan secara rinci potensi kerawanan bencana di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) sepanjang tahun 2025.
Analisa dan evaluasi situasi kewilayahan ini menegaskan bahwa banjir dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi dua ancaman utama yang perlu diantisipasi secara serius dan terpadu oleh seluruh pemangku kepentingan.
“Pemetaan dilakukan sebagai bagian dari upaya deteksi dini dan pencegahan agar dampak bencana dapat diminimalisir sejak awal,”kata Pasi Operasi Kodim 1015/Sampit, Kapten Inf Syahidin, Rabu 31 Desember 2025.
Menurutnya, kondisi geografis Kotim yang didominasi daerah aliran sungai, lahan gambut, serta wilayah permukiman yang berkembang pesat turut mempengaruhi tingkat kerawanan bencana.
“Analisa kewilayahan tahun 2025 menunjukkan bahwa banjir masih menjadi bencana dominan di Kotim, khususnya pada wilayah-wilayah yang berada di dataran rendah dan sepanjang aliran sungai,” ujar Kapten Inf Syahidin.
Dalam pemetaan daerah rawan banjir, Kodim 1015/Sampit mencatat sejumlah kecamatan dengan tingkat kerawanan cukup tinggi.
Di antaranya Kecamatan Mentaya Hulu yang meliputi Desa Kawaan Batu, Pahirangan, Tangsar, Baampah, Penda Durian, dan Tanjung Bantur. Kecamatan Telawang juga masuk dalam kategori rawan, terutama di Desa Tanah Putih dan Sebabi.
Selain itu, potensi banjir juga terpetakan di Kecamatan Mentaya Hilir Utara yang mencakup Desa Natai Baru, Pondok Damar, Sumber Makmur, Bagendang Hulu, dan Bagendang Tengah.
Wilayah lainnya yang perlu diwaspadai yakni Kecamatan Antang Kalang, Parenggean, Cempaga Hulu, serta Kecamatan Kotabesi yang mencakup Desa Hanjalipan, Simpur, Rasau Tumbuh, Palangan, Pamalian, hingga Soren.
“Wilayah-wilayah ini menjadi titik perhatian karena secara historis kerap terdampak banjir saat intensitas hujan tinggi dan debit sungai meningkat,” jelasnya.
Sebagai langkah antisipasi banjir, Kodim 1015/Sampit mendorong pembentukan posko penanganan terpadu dengan melibatkan seluruh unsur terkait. Kesiapsiagaan perlengkapan darurat seperti perahu karet, perlengkapan SAR, genset, lampu emergensi, hingga senter menjadi hal yang wajib disiapkan.
Selain itu, sinergitas antar-stakeholder terus diperkuat melalui rapat koordinasi berkelanjutan serta pelaksanaan latihan personel di lapangan.
“Kami juga menekankan percepatan penyaluran bantuan kepada masyarakat terdampak, termasuk pengawasan distribusi bantuan agar tepat sasaran,” tambah Kapten Inf Syahidin.
Selain banjir, Kodim 1015/Sampit juga menyoroti potensi karhutla yang masih menjadi ancaman serius, terutama memasuki musim kemarau.
Pemetaan titik hotspot dan daerah rawan karhutla menunjukkan hampir seluruh kecamatan di Kotim memiliki potensi kebakaran, baik di kawasan hutan, perkebunan, maupun lahan gambut.
Daerah rawan karhutla tersebut meliputi Kecamatan Antang Kalang, Bukit Santuai, Mentaya Hulu, Telawang, Ketapang, Mentaya Hilir Utara, Mentaya Hilir Selatan, Teluk Sampit, Pulau Hanaut, Baamang, Kotabesi, Cempaga, Cempaga Hulu, Parenggean, hingga Tualan Hulu.
“Karhutla membutuhkan penanganan serius karena dampaknya luas, bukan hanya kerusakan lingkungan tetapi juga kesehatan masyarakat dan aktivitas ekonomi,” katanya.
Untuk mengantisipasi karhutla, Kodim 1015/Sampit menekankan pentingnya kegiatan pemantauan pos lapangan yang disesuaikan dengan tingkat kerawanan wilayah, dengan mengedepankan prinsip sinergitas, efektivitas, dan efisiensi.
Pelibatan dewan adat Dayak dan organisasi kemasyarakatan adat lainnya juga menjadi strategi penting dalam upaya pencegahan.
“Kami terus memperkuat kerja sama dengan instansi terkait serta melakukan sosialisasi, pembinaan, dan penyuluhan kepada masyarakat sesuai karakteristik wilayah. Patroli rutin ke daerah rawan karhutla juga menjadi langkah preventif yang terus kami lakukan,” tegas Kapten Inf Syahidin.
Melalui analisa dan evaluasi situasi kewilayahan ini, Kodim 1015/Sampit berharap seluruh elemen, baik pemerintah daerah, aparat keamanan, maupun masyarakat, dapat meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana di tahun 2025, sehingga risiko dan dampak yang ditimbulkan dapat ditekan semaksimal mungkin.
(dia/matakalteng)






















Discussion about this post