PALANGKA RAYA – Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) mendorong UMPR sebagai salah satu mitra strategis pembentukan Migrant Center di Kalimantan Tengah, guna memperkuat ekosistem penyiapan SDM untuk peluang kerja luar negeri
Menteri Mukhtaruddin menjelaskan kehadirannya di sejumlah Perguruan Tinggi di Palangka Raya untuk mensosialisasikan kebijakan strategis Kementerian KP2MI, termasuk program Quick Win Presiden yang menargetkan penyiapan 500 ribu pekerja migran pada tahun 2026.
“Penyiapan tenaga kerja itu harus dimulai dari hulu vokasi, penempatan, hingga perlindungan. Semua harus terintegrasi,” ujar Mukhtaruddin. Dia menjelaskan, pemerintah bekerja sama dengan berbagai kementerian, pemerintah daerah, BLK, LPK, hingga sekolah dan kampus, guna memperkuat pelatihan vokasi bagi calon pekerja migran. Kalteng menjadi salah satu daerah yang dijajaki karena infrastrukturnya dinilai semakin siap.
“Perguruan tinggi di Kalimantan Tengah, termasuk Muhammadiyah dan Universitas Palangka Raya, sudah go global. Ada program magang dan KKN ke luar negeri. Infrastruktur dan SDM mereka sangat memadai,” katanya. Karena itu, pemerintah memilih memanfaatkan fasilitas kampus dan SMK sebagai pusat pelatihan, alih-alih membangun lembaga baru yang membutuhkan biaya besar dan waktu panjang.
Seluruh proses diarahkan untuk mencetak SDM yang siap bersaing di pasar kerja internasional, tidak hanya di sektor domestik, tetapi profesional dan teknis. Mukhtaruddin menegaskan bahwa antara PP Muhammadiyah dan KP2MI telah memiliki MoU nasional, yang kini disiapkan untuk diturunkan ke tingkat perguruan tinggi di daerah.
Melalui kerja sama ini, Perguruan Tinggi didorong membangun Migran Center, pusat ekosistem penyiapan SDM dari pelatihan hingga penempatan. “Semua ini agar lulusan perguruan tinggi dan SMK bisa mengisi kebutuhan tenaga kerja global. Migran Center menjadi ekosistem dari hulu sampai hilir,” ujarnya.
Terkait waktu pembentukan, Mukhtaruddin menjelaskan bahwa setelah kunjungan ini akan digelar pertemuan teknis untuk finalisasi MoU dan penyusunan PKS. Tahap awal tim dari UMPR akan berkomunikasi dan berkoordinasi langsung dengan tim Kementerian P2MI.
“Setelah penyusunan nota kesepahaman (MoU), perjanjian kerja sama (PKS), kami akan dampingi untuk membangun Migran Center. Muhammadiyah sangat mampu untuk itu,” tegasnya. Migrant Center akan menyediakan layanan terpadu seperti: Informasi lowongan dan job matching, Akses pelatihan dan lembaga vokasi, Data resmi penempatan, Edukasi perlindungan pekerja migran.
Mengenai jangkauan kerja sama, Menteri menyebut bahwa inisiatif ini berlaku nasional. “Saat ini sudah delapan perguruan tinggi yang memiliki Migran Center. Angka 500 ribu pekerja migran tidak bisa dipenuhi satu kampus saja, jadi kami kembangkan dari Sabang sampai Merauke,” jelasnya.
Mukhtaruddin berharap kunjungan ke Kalteng dapat segera diikuti dengan realisasi Migran Center di Palangka Raya dengan KP2MI. “Prosesnya tidak akan lama. Infrastruktur dan SDM di Kalteng sudah siap,” pungkasnya.
Sementara itu, Rektor UMPR, Assoc. Dr. Muhammad Yusuf, menyambut baik arahan Menteri P2MI saat melakukan kunjungan kerja di kampus tersebut. Ia menyatakan bahwa pihaknya akan segera membentuk tim dan berkoordinasi dengan Kementerian P2MI untuk menindaklanjuti rencana pembentukan Migran Center di Provinsi Kalimantan Tengah.

UMPR Jadi Arena Pembentukan SDM Berdaya Saing Global melalui Kunjungan Menteri P2MI
Sementara itu, Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah menegaskan komitmennya mendukung percepatan penyiapan sumber daya manusia daerah untuk mengisi peluang kerja global, termasuk melalui program nasional 500 ribu pekerja migran.
Hal ini disampaikan Plt. Sekda Kalteng, Leonard S. Ampung, saat mewakili Gubernur Agustiar Sabran mendampingi Menteri P2MI Mukhtaruddin dalam kunjungan kerja ke Universitas Muhammadiyah Palangka Raya (UMPR), di Aula Kampus 3 UMPR.
Kegiatan tersebut dirangkai dengan stadium general bersama ratusan mahasiswa UMPR untuk membuka wawasan mengenai peluang kerja luar negeri yang aman, legal, dan memiliki daya saing tinggi, sekaligus mendorong kesiapan generasi muda menghadapi kompetisi kerja global.
“Kalau beliau bisa, kalian juga pasti bisa. Tidak ada yang tidak mungkin. Yang penting ada kemauan, tekad, ikhtiar, dan doa. Man Jadda Wajada,” ujar Leonard memberi motivasi. Dia menekankan bahwa kecerdasan dan keterampilan saja tidak cukup. “Attitude, mindset, dan character adalah kunci. Mental berani dan tahan banting sangat penting agar mampu bersaing hingga tingkat global,” tegasnya.
Leonard juga menyampaikan bahwa Pemprov Kalteng siap bersinergi dengan Kementerian P2MI dalam mendukung program Presiden Prabowo Subianto, khususnya penyiapan 500 ribu pekerja migran profesional. “Kesempatan bekerja di luar negeri itu sangat baik, tetapi yang wajib dipastikan adalah hak, martabat, dan keamanan mereka terlindungi. Kami mohon dukungan Kementerian P2MI untuk membina anak-anak Kalteng agar siap dan mampu bersaing,” katanya.
Dalam kesempatan yang sama, Menteri KP2MI Mukhtaruddin menegaskan bahwa peningkatan kualitas pendidikan harus menyentuh tiga aspek utama: kognitif, keterampilan, dan karakter. “Yang kita butuhkan adalah menjembatani knowledge, skill, dan mental. Banyak anak sekarang mudah menyerah ketika menghadapi masalah. Karena itu pendidikan harus membangun mental juang,” ujarnya.
Menteri mencontohkan sistem pendidikan berdisiplin tinggi seperti sekolah taruna yang menghasilkan lulusan bermental kuat dan adaptif. Dia menilai perguruan tinggi dan pemerintah daerah perlu memperkuat pendekatan pembinaan karakter, tidak hanya akademik. “Yang memenangkan persaingan adalah mereka yang punya ilmu, punya skill, dan punya attitude yang baik,” tegasnya.
Dalam paparan kinerja, KP2MI mencatat sejumlah program 2025, antara lain: 4.630 peserta pelatihan di sektor domestik dan industri dasar, Pelatihan bahasa Jepang, Korea, Inggris, Mandarin, Cantonese, hingga Jerman, Pengembangan Sekolah Vokasi Migran yang akan dimulai 2026, Pemetaan 37.535 lembaga vokasi dengan kapasitas 12 juta peserta per tahun, Kolaborasi 12 kementerian/lembaga, 258 lembaga vokasi PMI, serta kerja sama perguruan tinggi dan swasta
Mukhtaruddin menegaskan bahwa peluang pasar kerja global terbuka luas, terutama di sektor-sektor keahlian menengah dan tinggi. Dia juga mengingatkan mahasiswa untuk mencari informasi resmi hanya melalui P2MI agar terhindar dari calo dan penipuan. Mengakhiri paparannya, Mukhtaruddin menegaskan bahwa bonus demografi Indonesia akan menjadi potensi besar jika generasinya disiapkan dengan benar. “Kesempatan di luar negeri terbuka lebar. Jika dipersiapkan dengan baik, mahasiswa Kalteng bisa menjadi bagian dari tenaga global yang sukses,” pungkasnya.
(nra/matakalteng)






















Discussion about this post