PALANGKA RAYA – Menteri KP2MI Mukhtaruddin mengungkapkan bahwa jumlah pekerja migran asal Kalimantan Tengah yang tercatat secara resmi saat ini berada pada kisaran 700 orang.Data tersebut dihimpun melalui Balai Pelayanan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Kalimantan Selatan, mengingat Kalteng belum memiliki kantor balai mandiri.
Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Mukhtarudin menjelaskan bahwa seluruh layanan administrasi pekerja migran Kalteng sementara masih terpusat di Banjarbaru, Kalsel. “Karena di sini belum ada kantor UPT dari Jakarta, jadi masih menyatu dengan Kalimantan Selatan. Kantornya di Banjarbaru,” ujarnya. Mukhtaruddin mengungkapkan bahwa sektor pekerjaan para pekerja migran asal Kalteng yang tercatat umumnya berada pada bidang profesional.
“Plantation atau perkebunan, juga ada perawat. Di Jerman sudah ada, di Jepang, dan di Arab Saudi. Rata-rata sektor profesional. Itu yang terdaftar di kita. Yang ilegal, kita tidak tahu,” jelasnya. Untuk mempercepat layanan, KP2MI telah mengusulkan pembentukan Loket Pelayanan Pekerja Migran khusus Kalimantan Tengah ke KemenPAN-RB.
“Prinsipnya gubernur sudah mendukung, tempat kantornya sudah disiapkan. Tinggal menunggu persetujuan KemenPAN-RB,” ujar Mukhtaruddin. Dengan adanya kantor lokal, masyarakat tidak perlu lagi mengurus dokumen ke Kalsel. Proses layanan penempatan, perlindungan, hingga edukasi akan lebih mudah dijangkau.
Terkait upaya pencegahan pekerja migran non-prosedural, Mukhtaruddin menegaskan pentingnya edukasi hingga tingkat paling bawah. “Sosialisasi itu kunci. Karena itu kami membuat Desa Migran Emas sebagai pelayanan edukasi berbasis desa. Pemerintah daerah wajib membuat Perda sebagai implementasi UU 18/2017,” terangnya.
Dia menjelaskan bahwa peran RT, RW, lurah, camat hingga desa sangat penting untuk memastikan masyarakat memahami risiko dan prosedur yang benar sebelum berangkat ke luar negeri. Selain sosialisasi manual, KP2MI juga menyiapkan akses informasi digital melalui Siskop2MI.
“Kalau mau jadi pekerja migran yang aman, silakan masuk ke Siskop2MI. Di situ banyak informasi tentang peluang kerja luar negeri yang legal, bukan yang tidak prosedural,” jelasnya. Dengan pembentukan layanan BP3MI lokal dan penguatan edukasi desa, Kalteng diharapkan mampu mengoptimalkan potensi tenaga kerjanya sekaligus menekan risiko migrasi ilegal.

Farid Wajdi: “Proses Rekrutmen Migran Ongoing, Seleksi dilakukan Bertahap”
Sementara itu Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah bersama BP3MI Kalsel-Teng terus mendorong peningkatan penempatan tenaga kerja migran asal daerah ini. Hingga saat ini, minat masyarakat cukup tinggi, namun proses penerimaan masih berjalan bertahap sesuai mekanisme rekrutmen resmi.
Hal tersebut disampaikan Kadisnakertrans Kalteng Farid Wajdi dan Kepala Balai BP3MI Kalsel–Teng Aldy Eldiwan dalam wawancara usai kegiatan Job Fair migran di Universitas Palangka Raya, Jumat 28 November 2025. Kadisnaker Kalteng, Farid Wajdi mengungkapkan bahwa jumlah pendaftar awal mencapai sekitar 350 orang, dan terus bertambah.
“Andaikan semuanya terisi saat ini, luar biasa. Tapi prosesnya tidak bisa langsung diterima karena ini ongoing. Ada seleksi berkas, ada tes kompetensi, semuanya harus sesuai kebutuhan negara tujuan,” ujarnya. Dia menegaskan bahwa hasil akhir penerimaan baru dapat diketahui beberapa bulan ke depan setelah seluruh tahapan dilalui peserta.
Mengenai total pekerja migran asal Kalteng, Farid menjelaskan bahwa data resmi masih berada di BP3MI karena Kalteng belum memiliki UPT sendiri. “Data resmi itu adanya di BP2MI. Kalimantan Tengah belum punya Balai sendiri, baru akan diberikan,” jelasnya. Kepala Balai BP3MI Kalsel-Teng, Aldy Eldiwan, menambahkan bahwa tahun ini penempatan resmi tercatat sekitar 50 orang.
“Tapi dengan metode Job Fair seperti ini, kita ingin grafik penempatan meningkat,” katanya. Aldy menjelaskan bahwa sektor yang paling banyak diminati sekaligus dibutuhkan negara tujuan adalah caregiver dan perawat, baik di rumah sakit maupun fasilitas layanan lansia. “Sementara ini banyaknya caregiver dan perawat. Ini masuk kategori skill, karena tidak semua orang bisa. Perawat butuh kompetensi. Kalau domestik, semua orang bisa nyapu atau ngepel,” tegasnya.
Ia juga menyebut bahwa peluang kerja di sektor tersebut sangat besar, namun tenaga lokal yang mampu memenuhinya masih sedikit. “Peluangnya banyak, tapi yang mampu mengisi sedikit,” ujarnya. Melalui pelatihan, bimbingan bahasa, dan penguatan vokasi, pemerintah daerah berharap lebih banyak tenaga kerja Kalteng dapat bersaing di pasar global secara legal dan aman. Job Fair migran diharapkan menjadi langkah awal memperluas kesempatan kerja sekaligus mengurangi risiko keberangkatan non-prosedural.
(nra/matakalteng)






















Discussion about this post