PALANGKA RAYA – Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Mukhtaruddin, mendorong mahasiswa Universitas Palangka Raya (UPR) untuk berani mengambil peluang kerja di luar negeri. Menteri Mukhtaruddin mengatakan banyak pekerja migran Indonesia yang berhasil mengubah hidup setelah bekerja di mancanegara. Bahkan tidak sedikit yang kemudian menjadi diaspora dan berkiprah di berbagai sektor strategis dunia.
“Banyak pekerja migran yang sukses ketika kembali ke Indonesia. Ini harus menjadi motivasi bagi adik-adik mahasiswa UPR,” ujarnya. Meski begitu, ia menekankan bahwa peluang global hanya dapat diraih oleh mereka yang memiliki kompetensi kuat. “Yang memenangkan persaingan itu adalah yang punya pengetahuan dan skill yang baik,” tegasnya.
Menteri Mukhtaruddin meminta mahasiswa untuk mempersiapkan kemampuan secara serius sejak di bangku kuliah, sebab pasar tenaga kerja internasional kini bergerak ke sektor-sektor yang menuntut keahlian menengah dan tinggi. Menteri juga mengingatkan mahasiswa agar hanya mencari informasi resmi dari P2MI apabila ingin bekerja ke luar negeri demi menghindari praktik calo dan penipuan.
Ia mengungkapkan bahwa P2MI segera menjalin kerja sama dengan UPR untuk mendirikan Migrant Center sebagai pusat informasi dan edukasi tenaga kerja migran di kampus. “Di Migrant Center nanti, mahasiswa bisa mendapatkan informasi resmi tentang cara menjadi pekerja migran, syaratnya, hingga lembaga penempatan yang benar agar tidak tertipu,” jelasnya.
Ke depan, MoU antara KP2MI dan UPR akan dijajaki untuk memperkuat penyerapan tenaga kerja lulusan UPR, sekaligus memastikan jalur keberangkatan yang aman dan prosedural. Sinergi tersebut menjadi penting agar lulusan perguruan tinggi mendapatkan peluang kerja yang lebih luas, pelatihan keterampilan, serta pemberdayaan bagi keluarga pekerja migran.
Mukhtaruddin juga memaparkan berbagai program peningkatan kapasitas yang dilaksanakan KP2MI pada 2025, di antaranya: 4.630 peserta mengikuti peningkatan kapasitas, Pelatihan sektor domestik dan industri dasar. Pelatihan bahasa: Jepang, Korea, Inggris, English Nursing Prometric, Mandarin, Cantonese, dan Jerman.
Selain itu, Sekolah Vokasi Migran dikembangkan sebagai model pendidikan terpadu yang akan dimulai pada 2026, menggabungkan pendidikan formal adaptif, soft skills, dan pelatihan vokasional berbasis kebutuhan pasar global. KP2MI juga telah memetakan 37.535 lembaga vokasi dengan total kapasitas pelatihan 12 juta orang per tahun, mulai dari BLK pemerintah, LPK swasta, lembaga komunitas, hingga lembaga khusus pekerja migran.
Kolaborasi lintas kementerian juga digencarkan, mencakup 12 kementerian/lembaga dan 258 lembaga vokasi PMI dengan kapasitas 248 ribu orang per tahun serta Perguruan Tinggi dan Pihak swasta sebagai wadah Upgrading skill pada Pekerja Migran Indonesia. Dalam paparan tersebut, Mukhtaruddin menjelaskan bahwa Migrant Center akan menyediakan layanan:
Informasi lowongan kerja luar negeri, job matching, informasi lembaga vokasi dan pelatihan, data resmi penempatan, dan edukasi perlindungan pekerja migran. Program ini telah berjalan di berbagai kampus seperti Undip, UPI, UNP, Poltekkes Bengkulu, STIAMI Jakarta, UCB, Kupang, Unhas, UNAS, PASIM dan UPR disebut sebagai calon mitra berikutnya di Kalimantan Tengah.
Mukhtaruddin menutup kuliah umum dengan mengingatkan bahwa bonus demografi Indonesia hanya dapat menjadi keuntungan bila generasinya siap berkompetisi. “Kesempatan di luar negeri terbuka lebar. Jika dipersiapkan dengan benar, mahasiswa Kalteng bisa menjadi bagian dari tenaga global yang sukses,” pungkasnya.

Kalteng Siap Bangun Pos Layanan Migran, Lahan Mulai Disiapkan
Sementara itu, Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah menegaskan komitmennya mempercepat pembentukan kantor pos layanan lokal Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) di wilayah Kalteng. Hal itu disampaikan Wakil Gubernur Kalteng Edy Pratowo.
Edy menyebut keberadaan kantor BP3MI di Kalteng sangat diperlukan, mengingat tingginya minat masyarakat bekerja sebagai pekerja migran. Namun hingga kini, Kalteng belum memiliki kantor perwakilan sendiri. “Sampai sekarang kita masih bergantung ke Kalimantan Selatan. Masalahnya, jaraknya jauh dan banyak masyarakat yang tidak mengetahui prosesnya karena harus pergi ke luar daerah,” ungkapnya.
Menurut Edy, Pemprov Kalteng telah mengambil langkah awal dengan menyiapkan lahan dan memberikan rekomendasi kepada KP2MI. Selanjutnya pembangunan kantor bergantung pada koordinasi KP2MI dengan kementerian terkait. “Harapannya, tahun depan bisa terealisasi. Pak Menteri Mukhtarudin juga menginginkan agar ini dipercepat dan segera diwujudkan,” ujarnya.
Terkait kesiapan SDM lokal untuk menjadi pekerja migran, Edy memastikan Pemprov Kalteng melalui Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi telah mempersiapkan pelatihan, pembinaan, hingga peningkatan kompetensi. “Pelatihan sudah kita lakukan. Tapi yang paling penting saat ini adalah penguasaan bahasa. Itu kunci utama. Tanpa kemampuan bahasa, proses adaptasi dan komunikasi di negara tujuan akan sulit,” tegasnya.
Edy menambahkan bahwa peningkatan kompetensi bahasa akan terus menjadi penekanan Pemprov Kalteng agar calon pekerja migran dari daerah ini mampu bersaing di pasar kerja global. “Kesempatan kerja di luar negeri terbuka lebar. Tugas kita adalah memastikan SDM Kalteng siap dan memenuhi standar,” tutupnya.
(nra/matakalteng)









