SAMPIT – Ketua DPRD Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) Rimbun menjelaskan alasan dirinya tidak langsung menemui massa aksi yang mengatasnamakan Mandau Talawang dan sejumlah koperasi serta kelompok tani, terkait penarikan rekomendasi dukungan kemitraan KSO.
Rimbun menegaskan, lembaga DPRD Kotim sejak awal telah siap memberikan klarifikasi terbuka. Bahkan, menurutnya, ia bersama anggota DPRD sudah bersiaga sejak pukul 07.30 WIB untuk menjawab dan meluruskan persoalan yang dipersoalkan massa.
“Pertama, terkait kesiapan kami sebagai lembaga, kami tidak menghindar. Dari setengah delapan kami sudah stand by untuk menjawab dan meluruskan apa yang sudah kami sampaikan dan putuskan,” ujarnya, Jumat 13 Februari 2026.
Namun, ia menyebut aksi dialog terbuka tidak terjadi karena pimpinan massa aksi atau Panglima Mandau Talawang tidak berada di lokasi dalam waktu lama. Menurutnya, yang bersangkutan hanya hadir sebentar dan langsung mengarahkan massa untuk membubarkan diri.
“Kami menunggu penanggung jawab atau Panglima Mandau Talawang hadir di tengah-tengah anggotanya. Ternyata beliau datang sebentar lalu langsung membawa massa untuk balik kanan,” katanya.
Rimbun menilai kondisi tersebut membuat forum dialog yang diharapkan tidak dapat terlaksana. Padahal, DPRD Kotim telah menyiapkan penjelasan lengkap terkait pencabutan sebagian rekomendasi yang dipersoalkan.
Ia menegaskan bahwa DPRD Kotim terbuka untuk klarifikasi dan tidak menutup ruang komunikasi dengan masyarakat, koperasi, maupun kelompok tani. Menurutnya, semua keputusan yang diambil tidak dilakukan secara sepihak, melainkan berdasarkan dokumen, kondisi lapangan, serta aspirasi masyarakat setempat.
“Saya kira ini sudah clear. Kami tidak berniat menghindari. Justru kami ingin semua persoalan dibuka secara terang agar tidak terjadi kesalahpahaman di tengah masyarakat,” tegasnya.
Rimbun juga menegaskan bahwa DPRD Kotim tidak memiliki niat mendzolimi masyarakat lokal. Sebaliknya, lembaga legislatif berkewajiban menampung dan menyeimbangkan seluruh aspirasi yang masuk agar tidak menimbulkan konflik baru di kemudian hari.
(dia/matakalteng)






















Discussion about this post