SAMPIT – Pulau Hanaut, salah satu wilayah yang secara geografis terpisah oleh Sungai Mentaya, kembali menjadi sorotan setelah Anggota DPRD Kotawaringin Timur (Kotim) Dapil III, Wahito Fajriannor, mengungkap sederet persoalan yang hingga kini belum juga tersentuh serius oleh pembangunan.
“Pulau Hanaut bukan daerah baru, tapi kondisinya masih seperti daerah terisolasi. Jembatan rusak, air bersih sulit, tempat ibadah pun tak layak. Ini harusnya jadi perhatian khusus,” kata Wahito, Kamis 3 Juli 2025.
Menurutnya, kondisi infrastruktur jalan dan jembatan di sana sudah sangat mengkhawatirkan. Dari pantauan dan laporan masyarakat, lebih dari 80 persen jembatan antar desa mengalami kerusakan berat. Bahkan, sebagian besar hanya bisa dilalui dengan penuh risiko oleh pejalan kaki maupun kendaraan roda dua.
“Mobilitas warga terganggu, distribusi barang tersendat. Tapi yang paling miris, anak-anak sekolah harus melintasi jembatan lapuk setiap hari. Ini bukan soal kenyamanan, tapi soal keselamatan,” tegasnya.
Tak hanya itu, krisis air bersih juga menjadi masalah kronis. Layanan PDAM belum menjangkau wilayah tersebut, memaksa warga menggantungkan hidup pada air hujan, sumur dangkal, hingga membeli air galon dari kecamatan tetangga.
Di tengah kondisi itu, tempat ibadah yang seharusnya menjadi sumber penguatan spiritual juga luput dari perhatian. Banyak masjid dan musala berdiri dalam keadaan memprihatinkan tanpa fasilitas yang layak.
“Bayangkan, rumah ibadah yang harusnya bersih dan nyaman, justru rusak dan minim fasilitas. Ini menyangkut martabat umat,” ujarnya.
Wahito menegaskan bahwa perjuangan untuk mendorong pembangunan di Pulau Hanaut akan terus ia suarakan dalam forum-forum resmi DPRD. Ia meminta agar Pemkab Kotim segera menetapkan langkah konkret untuk memperbaiki layanan dasar di daerah tersebut.
“Warga Pulau Hanaut tidak menuntut kemewahan, mereka hanya ingin hak dasar mereka dipenuhi. Kami dari Dapil III tidak akan tinggal diam,” tandasnya.
(dia/matakalteng)






















Discussion about this post