Oleh: Nur Rahmawati, S.H ***
Memprihatinkan, perekonomian masyarakat Indonesia hingga kini menghadapi tantangan dan dilema yang kian berat. Berbagai indikator yang memengaruhi turunnya daya beli masyarakat, seperti naiknya angka pemutusan hubungan kerja (PHK), kemiskinan sebab utang rumah tangga yang tak berkesudahan, dan harga-harga kebutuhan pokok yang latah ikutan meroket. Semua ini terjadi hampir di banyak negara, di tengah situasi ekonomi global yang kian meredup.
Kondisi ini memaksa masyarakat untuk memutar otak agar kebutuhan sehari-hari tetap bisa terpenuhi. Tak sedikit dari mereka yang akhirnya mengambil jalan pintas dengan berutang, salah satunya melalui layanan paylater atau “beli sekarang bayar nanti”. Paylater kini menjadi fenomena yang cukup masif, terutama karena kemudahan aksesnya melalui platform belanja online.
Masyarakat yang terdesak kebutuhan, namun tak memiliki cukup uang tunai, melihat paylater sebagai solusi instan. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, per Ferbuarari 2025 total utang masyarakat Indonesia lewat layanan Buy Now Pay Later (BNPL) atau yang lebih akrab disebut PayLater di sektor perbankan menyentuh angka Rp 21,98 triliun (Liputan6.com, 11-4-2025).
Namun, di balik kemudahan itu, tersembunyi jebakan yang bisa membawa masyarakat pada krisis yang lebih dalam. Paylater pada dasarnya adalah bentuk utang berbunga, yang dalam Islam termasuk praktik riba dan hukumnya haram. Sistem ini bukan hanya menambah beban ekonomi masyarakat, tetapi juga membawanya ke dalam lingkaran dosa dan mengundang murka Allah SWT. Selain itu, paylater menjadi salah satu pemicu tumbuh suburnya budaya konsumtif.
Budaya Konsumerisme Buah Kapitalisme
Budaya konsumerisme saat ini telah menjadi bagian dari gaya hidup yang dianggap wajar, bahkan sering kali dipromosikan secara masif melalui media. Masyarakat diajak untuk mengejar kebahagiaan dengan ukuran materi – rumah mewah, gadget terbaru, kendaraan keren, dan sebagainya. Semua ini adalah hasil dari penerapan sistem sekulerisme kapitalisme, yang menempatkan materi sebagai tujuan hidup, dan memisahkan agama dari kehidupan. Sistem ini tidak peduli apakah cara yang ditempuh halal atau haram, selama mendatangkan keuntungan.
Dalam sistem kapitalisme, individu dijadikan sebagai pasar, bukan sebagai manusia yang perlu dijamin kesejahteraannya. Maka tidak mengherankan jika kemudian masyarakat “dipaksa” untuk terus membeli, terus konsumtif, meski harus berutang dan hidup dalam tekanan. Layanan seperti paylater, kartu kredit, dan pinjaman online bukan sekadar alat transaksi, melainkan alat kapitalisasi penderitaan masyarakat.
Solusi Islam
Kondisi ini tentu tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Masyarakat membutuhkan sistem alternatif yang benar-benar mampu menyejahterakan, baik secara ekonomi maupun spiritual. Islam, sebagai agama yang sempurna dan paripurna, memiliki sistem ekonomi yang adil dan solutif. Dalam sistem Islam yang diterapkan secara kaffah (menyeluruh), kesejahteraan rakyat bukan hanya slogan, tetapi tujuan utama dari negara.
Negara Islam (Khilafah) memiliki mekanisme yang menjamin kesejahteraan rakyat individu per individu. Kebutuhan dasar seperti sandang, pangan, dan papan dijamin negara. Negara juga akan memastikan lapangan kerja tersedia luas, dan distribusi kekayaan tidak hanya berpusat pada segelintir elite. Sistem zakat, sedekah, dan wakaf diberdayakan sebagai instrumen distribusi kekayaan yang efektif.
Yang tak kalah penting, sistem ekonomi Islam melarang segala bentuk riba. Negara akan menutup seluruh celah masuknya sistem ribawi, termasuk layanan seperti paylater yang kini marak. Dengan begitu, masyarakat akan terbebas dari jeratan utang berbunga yang menyiksa. Selain itu, negara juga bertanggung jawab membentuk masyarakat yang bertakwa, yang sadar akan tanggung jawabnya di hadapan Allah Swt..
Dalam sistem Islam, kebahagiaan tidak diukur dari banyaknya barang yang dimiliki, tetapi dari sejauh mana seseorang mendapatkan rida Allah. Maka budaya konsumerisme akan terkikis, tergantikan oleh gaya hidup sederhana dan penuh keberkahan. Masyarakat tidak akan lagi mudah tergoda oleh iklan dan tren konsumtif, karena mereka memahami bahwa hidup bukan untuk memuaskan hawa nafsu, tetapi untuk mengabdi kepada Sang Pencipta.
Dengan demikian, jelas bahwa sekulerisme kapitalisme telah gagal menyejahterakan masyarakat, bahkan justru menjerumuskan mereka dalam jurang utang, kemiskinan, dan kehampaan spiritual. Satu-satunya solusi hakiki adalah dengan kembali kepada aturan Allah Swt. secara kafah melalui penerapan sistem Islam dalam seluruh aspek kehidupan. Hanya dengan cara itulah keberkahan dan kesejahteraan sejati dapat diraih, baik di dunia maupun di akhirat.
Penulis merupakan salah satu pendidik di Kabupaten Kotawaringin Timur






















Discussion about this post