SAMPIT – Kepala BKSDA Resort Sampit, Muriansyah, mengungkapkan sejak Januari hingga April 2025, sudah terjadi sebanyak tiga kali serangan buaya terhadap manusia di Kabupaten Kotawaringin Timur.
Tiga kasus itu kerap terjadi khususnya di Sungai Mentaya dan anak-anak sungainya. Kasus pertama terjadi pada Januari di Sungai Pasir, Desa Lempuyang, Kecamatan Teluk Sampit.
“Dalam kejadian tersebut, dua orang warga menjadi korban dengan luka di bagian kaki dan tangan. Kemudian pada April ini, terjadi lagi serangan di Desa Hanaut, Kecamatan Pulau Laut, yang menyebabkan satu orang warga meninggal dunia,” ujar Muriansyah, Rabu 23 April 2025.
Menurut Muriansyah, meningkatnya konflik ini disebabkan oleh kerusakan habitat buaya yang berdampak pada ketersediaan pakan alami.
“Dari tiga kejadian yang kami temukan di Kabupaten Kotawaringin Timur, penyebab konflik antara manusia dan buaya adalah rusaknya habitat buaya yang berdampak pada berkurangnya pakan alami. Akibatnya, buaya berpindah ke perairan permukiman dan menetap di sana,” katanya.
Ia mengidentifikasi tiga penyebab utama yang mendorong buaya mendekati pemukiman warga. Pertama, adanya aktivitas pemeliharaan ternak di atas atau di tepi sungai. Kedua, kebiasaan warga membuang bangkai binatang ke sungai. Ketiga, pembuangan sampah rumah tangga ke sungai.
Untuk mencegah konflik, Muriansyah mengimbau warga agar lebih berhati-hati, khususnya saat beraktivitas di sungai.
“Kami mengimbau warga yang biasa beraktivitas di Sungai Mentaya dan anak-anak sungainya agar selalu berhati-hati, terutama pada malam hari. Jangan membuang bangkai binatang, dan hindari memelihara ternak di atas atau di tepi sungai. Hindari juga melakukan aktivitas seperti mandi dan mencuci di sungai,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa saat ini pihaknya lebih fokus pada edukasi kepada masyarakat daripada sekadar menangkap buaya.
“Selama ini kami berusaha menangkap buaya yang masuk ke perairan permukiman, tetapi hasilnya kurang maksimal. Sekarang, fokus utama kami adalah edukasi kepada masyarakat. Karena meskipun kami menangkap satu, dua, bahkan sepuluh ekor buaya, itu tidak menjamin serangan tidak akan terjadi. Seperti kejadian terakhir di Hanaut, korban sedang mandi di Sungai Mentaya saat diserang. Jadi edukasi menjadi langkah yang paling penting,” jelasnya.
Muriansyah berharap masyarakat semakin sadar akan bahaya yang ditimbulkan dari kebiasaan membuang sampah dan bangkai, serta memelihara ternak di sekitar sungai.
“Mudah-mudahan ke depan masyarakat semakin sadar dan mengerti bahwa membuang sampah, membuang bangkai binatang, dan memelihara ternak di sekitar sungai dapat mengundang kehadiran buaya dan memicu konflik dengan manusia,” tutupnya.
(dia/matakalteng)




















Discussion about this post