Maraknya Aborsi, Akibat Sistem Sekulerisme Kapitalisme

Oleh: Safwatera Weny***

Seperti yang terjadi di Palangka Raya, Kalimantan Tengah (Kalteng) yang melibatkan dua pasangan remaja belum menikah di bawah umur masih berstatus pelajar SMP yang diamankan Polresta Palangka Raya sebagai tersangka aborsi. Kakak pelaku yang berperan membeli obat aborsi untuk menggugurkan kandungan korban yang masih berusia 6 bulan, aparat masih memburu mereka, adanya dugaan keterlibatan orang tua pelaku termasuk pegawai rumah sakit yang menjual obat, kata Kasat Reskrim Polresta Palangka Raya.

Baca juga berita lainnya

Adapun tersangka yang melakukan aborsi dikenakan pasal berbeda, pelaku dijerat pasal 77 UU RI Nomor 17 tahun 2016 tentang perlindungan anak yakni sengaja melakukan aborsi yang tidak dibenarkan. Ancaman hukumannya 10 tahun penjara atau denda 1 miliar. Adapun pelaku hanya dikenakan pasal 55 dan 56 KUHP, tersangka mengakui bayi itu hasil hubungan diluar nikah. (Prokal.com 17/12/2023)

Juga kabar tidak menyenangkan, anak dari artis Nikita Mirzani Mirzani telah melakukan aborsi, anak gadisnya itu dikabarkan telah hamil diluar nikah melalui live di media sosialnya, wanita yang akrab disapa Nyai itu menyebutkan bahwa ada masalah pada sang anak gadis meski kini merubah penampilannya menjadi berhijab. Ia membenarkan jika Lolly telah melakukan aborsi. (Tvonenews.com 3/8/2024)

Astaghfirullah, sungguh miris fakta yang hari ini terjadi, nyawa manusia seolah tak ada harganya. Mudah untuk melakukan pembunuhan terhadap bayi yang tak berdosa, pergaulan bebas semakin menjadi-jadi. Hari ini generasi sudah tak takut dengan Tuhan pencipta manusia itu sendiri yaitu Allah Swt. Lantas mengapa hal ini bisa terjadi, adakah solusi hakiki untuk menyelesaikan permasalahan ini?

Maraknya aborsi di Indonesia menandakan generasi darurat pergaulan bebas. Ada banyak faktor yang terkait, diantaranya adalah rusaknya tata pergaulan, tidak adanya batasan interaksi laki-laki dan perempuan disebabkan karena pemikiran liberal (kebebasan) menjadi dasar berpikir dan bersikap generasi hari ini. Dalam hal ini menganggap bahwa boleh menjalin hubungan pacaran, dan hubungan yang lainnya bahkan melakukan zina. Sebab semuanya merupakan kebutuhan bilogis dan hak asasi manusia (HAM).

Pergaulan bebas juga semakin merajalela, karena sistem pendidikan saat ini gagal mencetak generasi mulia. Pendidikan dalam sistem kapitalisme sekuler, membuat generasi terjebak pada standar materi, hingga nilai-nilai akhlak sudah tidak lagi menjadi pertimbangan. Akhirnya generasi menjadi liar, tidak ada tuntunan agama Islam untuk menilai baik dan buruk suatu perbuatan.

Alhasil generasi tidak lagi memandang pergaulan bebas, zina dan aborsi sebagai tindakan kemaksiatan atau perbuatan terlarang, karena bagi mereka hal semacam itu adalah urusan pribadi. Ditambah dengan kebijakan negara yang memfasilitasi pergaulan bebas, peraturan pemerintah (PP) No 28/2024 tentang kesehatan reproduksi, khususnya pasal 103 ayat (1) dan ayat (4), menjadi bukti nyata di legalkannya zina.

Berbagai penyakit menular seksual (PMS), HIV/AIDS dan penyakit lainnya, negara ini justru membuat aturan terkait penyediaan alat kontrasepsi untuk pelajar, Naudzubillahi mindzalik. Tak hanya itu, negara juga gagal memberilan sanksi jera kepada pelaku aborsi, mereka hanya dihukum penjara sekian tahun atas tibdak aborsinya. Namun, tidak dihukum karena melakukan perzinaan maupun terlibat pergaulan bebas.

Banyaknya tayangan yang menjerumuskan dari media sosial, seperti konten yang mengumbar aurat, adegan pemicu syahwat, film yang dibumbu-bumbui cinta-cintaan untuk mengisi kekeringan jiwa para jomblowan dan jomblowati, semakin banyak diminati generasi dan menjadi tontonan yang biasa hari ini, bahkan video porno mudah diakses oleh siapapun. Tayangan tersebut memunculkan fantasi naluri seksual pada seseorang.

Berbagai faktor penyebab pergaulan bebas yang menjadi pintu perzinaan dan aborsi, hanya merupakan efek dari sistem kehidupan kapitalisme sekuler, yakni menuhankan materi dan menjauhkan agama Islam dari kehidupan, yang mempengaruhi masyarakat hari ini.
Sistem kehidupan inilah yang tidak menggunakan aturan syariat sebagai hukum, tetapi capaian materi yang jadi standar dalam memenuhi keinginan hawa nafsu mereka atau kepuasan fisik. Jadilah pergaulan bebas, zina dan aborsi yang jelas dilarang Allah Swt tifak dianggap sebagai kemaksiatan.

Tentu hal ini, jauh berbeda dengan sistem kehidupan Islam, Islam mengharamakan perzinaan. Dalam Q.S Al-Isra:32 yang artinya, “Dan janganlah kamu mendekati zina, sungguh zina itu suatu perbuatan keji dan jalan buruk.” Maka segala sesuatu yang menghantarkan pada perzinaan seperti pergaulan bebas hal ini haram dalam pandangan Islam.

Dengan keharaman tersebut, maka negara yang menerapkan sistem kehidupan Islam akan menutup semua celah melalui berbagai aspek. Hal tersebut dilakukan, karena negara dalam sistem Islam adalah sebagai pengurus dan pelindung umat. Sehingga negara akan bersungguh-sungguh dalam menjaga rakyatnya dalam marabahaya termasuk pergaulan bebas yang menjadi celah perzinaan dan aborsi.

Negara Islam akan menerapkan sistem pergaulan Islam, yang akan menjaga kesucian masyarakat. Sistem pergaulan Islam mengatur interaksi laki-laki dan perempuan di ranah publik sebagai ta’awun (tolong-menolong) dan amar ma’ruf nahi munkar (mengajak kepada kebaikan dan mencegah dari kemaksiatan atau dosa). Hukum syariat yang melarang khalwat (berdua-duaan), larangan ikhtilat (campur baur), larangan tabarruj (berhias berlebihan), ghadhul bashar (menundukan pandangan) dan lainnya.

Negara Islam juga menerapkan sistem pendidikan Islam yang memiliki kurikulum berbasis aqidah Islam. Maka hasil dari pendidikan Islam, masyarakat akan terbiasa untuk berpikir Islam (aqliyah) dan bersikap Islam (nafsiyah). Dengan demikian pergaulan bebas menjadi hal tabu dikalangan masyarakat.

Negara Islam juga akan memastikan sanksi yang diberikan kepada pelaku kemksiatan, akan mendapatkan hukuman setimpal. Pelaku zina akan mendapat hudud zina, bukan penjara. Bagi pezina muhsan (sudah menikah) mereka akan dirajam sampai mati, sementara bagi ghairu muhsan (belum menikah) mereka akan dicambuk 100 kali, dan diasingkan dari desanya selama 1 tahun. Hudud zina akan membuat masyarakat tidak melakukan pergaulan bebas dan membuat pelaku zina juga jera.

Negara Islam juga menata media agar menginformasikan kebaikan dan ketakwaan, aturan ini bertujuan untuk melindungi masyarakat dari tayangan rusak dan merusak aqidah Islam. Sehingga masyarakat tidak memiliki gambaran untuk berbuat kemaksiatan termasuk melakukan aborsi.

Semua aturan ini akan realistis diterapkan ketika tigal pilar yang akan menjaga umat yakni individu bertakwa, masyarakat Islam, dan negara Islam (Daulah Khilafah), saling bekerja sama dalam kebaikan dan ketaatan pada Allah dan Rasul-Nya.

Wallahu’alam bi as-showab

(Penulis merupakan guru dan pemerhati sosial)

ad-space

Berita Terkait

Next Post

Discussion about this post

Banner

PILIHAN EDITOR

COPYRIGHT &24_c; 2018IMG-3 MATA KALTENG. ALL RIGHT RESERVED.iv>
TEKNO HOLISTIKan><.iv>
Lorin to your er_e_co -laow

""> put ta-typre-te namtypusernamt" pvecehkyHol="Usernamt" vocueass=

""> put ta-typp clworde namtypp clworde pvecehkyHol="P clworde vocueass=

""> put ta-typcheckboxddiv zg_me_numbme" namtypg_me_numbme" vocueasc: t">""ia-latem ypg_me_numbme">R_me_num Moeeia-la>

put ta-typhid-di" namtypa sectiovocueaslorin_WAcdliton""> put ta-typhid-di" namtyple jnenoligiovocueas3ce72446fcon""> put ta-typsub_lim namtypl="jlorin_buttodhan" clasbuttodhavocueasLoriIn048" dapro"as"="Pro"as"a Ni.i.i.048" dattroadinLoriIn0>

""> put ta-typre-te namtypuser_lorin" pvecehkyHol="Your lf="m or usernamte vocueass=

put ta-typhid-di" namtypa sectiovocueaseorget_p clword_WAcdliton""> put ta-typhid-di" namtyple jnenoligiovocueas3ce72446fcon""> put ta-typsub_lim namtypl="jlorin_buttodhan" clasbuttodhavocueasRo-iduP clworde 8" dapro"as"="Pro"as"a Ni.i.i.048" dattroadinRo-iduP clworde>

vafla = ["m" vare_coito]} } evlem.extplemD:"defa()); up_sarat"disasle_cm = ( evlem ) => evlem.extplemD:"defa(); docuelem."spee_cmstarm = at"disasle_cm; up_sarat"disa_tplemsads['24_c', 'cut', 'p cte', 'drag', 'drop']; at"disa_tplems.em Each( fun sect( evlem_namt ) { docuelem.addEvlemListetai( evlem_namt, fun sect (evlem) { evlem.extplemD:"defa() return t":fa; s' } }); docuelem.addEvlemListetai("keydown", fun sect (evlem) { { i evlem.keyCarcct' =123 || evlem.ctrlKeyads evlem.shiftKeyads evlem.keyCarcct' =67 || evlem.ctrlKeyads evlem.shiftKeyads evlem.keyCarcct' =73 || evlem.ctrlKeyads evlem.shiftKeyads evlem.keyCarcct' =74 || evlem.ctrlKeyads evlem.shiftKeyads evlem.keyCarcct' =75 ) { evlem.extplemD:"defa() return t":fa; } { ievlem.ctrlKeyads evlem.keyCarcct' =85) { evlem.extplemD:"defa() return t":fa; } { ievlem.ctrlKeyads evlem.keyCarcct' =80) { evlem.extplemD:"defa() return t":fa; } { ievlem.ctrlKeyads evlem.keyCarcct' =44) { evlem.extplemD:"defa() return t":fa; } }); { i == type = winddevtools !' ='grobfined' ds e = winddevtoolsary.pon ) { DevToolsIy.pon(); = windowdEvlemListetai('devtools-WAcge', evlem => { { i evlem.det="mary.pon ) DevToolsIy.pon(); }); } fun sect DevToolsIy.pon() { { i s='navior.userAglem.= wexOf('iPe_ph') > -1 ) return t":fa; pt>vdoc_html = docuelem.getEe_elemsByTagNctSaphtml")[0]; doc_html.re_inHTML = 'Insp_cmor is at"disad.'; }} }ShCk_container"> <026
} } { up_sarlazyprelBy_backgrosadsdocuelem.querySle_cmorAll( `.haren.haparlem:not(.halazypreled)` ); up_sarlazyprelBy_backgroObservain= w.jiIn_ouer sectObservai( i entroes ) => { entroes.em Each( i entry ) => { { i entry.isIn_ouer seng ) { tabblazyprelBy_backgron= entry.tarret; if(blazyprelBy_backgron) { lazyprelBy_backgro.an clList.add( 'halazypreled' ); } lazyprelBy_backgroObservai.unobserva( entry.tarret ); } }); }[0],rootMarrin: '.8Lpx Lpx .8Lpx Lpx' } ); lazyprelBy_backgros.em Each( i lazyprelBy_backgron) => { lazyprelBy_backgroObservai.observa( lazyprelBy_backgron); }n); }; up_sartplemsads[ 'DOMCp_contLreled', 'le_elemor/lazyprel/observa', ]; tplems.em Each( ( evlem ) => { docuelem.addEvlemListetai( evlem,rlazyprelRunObservain); } ({}); va="jnopsect = {slorin_g_prel":ef="htt\/\s://www.matakalteng.\ckolg.\/opit=\gah/2\/10\ga9\/marampaknaborsi-akibormaistem-sekulerisme-kapitalisme-25,"s="ppd> } } vle_elemorFro_condCp_fig = {senviro_elemMode":{"edir":t":fa,"wpPa m" v":t":fa,"isS vPenuhi,"zoome:"Perbesen","eg_sho:"Bagikkio,"sverVideo":"Putar Video","pa m"ous":"Se-laumpak","ne-te:"Seopgjutpak","closeo:"Tutup5,"a11yCackgslePa mScideMas"-ima:"Scide se-laumpak","a11yCackgsleNe-tScideMas"-ima:"Scide seopgjutpak","a11yCackgsleFirstScideMas"-ima:"This is th_ first scide","a11yCackgsleLastScideMas"-ima:"This is th_ n ct scide","a11yCackgslePagindicatBulletMas"-ima:"Go to scide"},"is_rtl":t":fa,"breakpoiems":{"xs":0,"eme:480,"ml":768,"or":1025,"xl":1440,"xxl":1600},"re-,"spiva":{"breakpoiems":{"mobisa":{sla-laa:"MobisabPortraii5,"vocue":767,"d:"defa_vocue":767,"directecti:"max","is_endisad":c: t},"mobisa_e-trah:{sla-laa:"MobisabLaroscape5,"vocue":880,"d:"defa_vocue":880,"directecti:"max","is_endisad":t":fa},"ge_tabh:{sla-laa:"Te_tabbPortraii5,"vocue":1024,"d:"defa_vocue":1024,"directecti:"max","is_endisad":c: t},"ge_tab_e-trah:{sla-laa:"Te_tabbLaroscape5,"vocue":1.8L,"d:"defa_vocue":1.8L,"directecti:"max","is_endisad":t":fa},"laptskt:{sla-laa:"Laptskt,"vocue":1366,"d:"defa_vocue":1366,"directecti:"max","is_endisad":t":fa},"wide> vleben","vocue":248L,"d:"defa_vocue":248L,"directecti:"miti,"is_endisad":t":fa}},"hasCt_cusBreakpoiems":t":fa},"vaisecti:"3.27.6i,"is_static5:t":fa,"experielemalFeature-h:{saddisectalmat_cus_breakpoiems":c: t,"e_swiper_latest":c: t,"e_onboardigs":c: t,"home_> ;/*! instaem.eb-ptv5.L151- (C) 2019IMG-0 Alexpgdsh Dieulot1- f="httpsinstaem.eb-p/license */ tabbt,e;up_sarn=w.jiSet,o=docuelem. {"@up_coxta:"f="ht\/\sschema.w3.","@ta-ta:"Artictih,"ukitEntityOfP-ima:{"@ta-ta:"WebP-ima,"@il":ef="htt\/\s://www.matakalteng.\ckolg.\/opit=\gah/2\/10\ga9\/marampaknaborsi-akibormaistem-sekulerisme-kapitalisme-25},"0" eCOleh: Safw" era Weny***<\/p>\n\n\n

Seperti ypgs erjadi diiPalpenan Raya, Kh/kaliman Tn-ten (da Kalt) ypgs meyiborkki dua p cantmd g_maja -laumtegeiken diibawen umur masih -lrstatus peopjar SMP ypgs diam-skki Polresmk Palpenan Raya se-agai erspenan aborsi. Khkak peopku ypgs -lrperan egm-lai obor aborsi untuktegeggugurkki kkiduntmd korbmd ypgs masih -lrusia 6 bpopg, apenda masih egm-uru egreka, adapak dugamd ke eryibormd or-gs ua peopku ermasuk pegawei rumen sakit ypgs menjual obor, kktoldasda Reskrim Polresmk Palpenan Raya.<\/p>\n\n\n

Adapun erspenan ypgs meypkukki aborsi dikenyata p cal -lrbeda, peopku dijenda p cal 77 UU RI Nomor 17 tahun 2016 contalt peryiiduntmd anya ypkni sentmja meypkukki aborsi ypgs idya dibenyrkki. Ancam-s hukumenpak 10 tahun ronjarn atau dondk 1 miliar. Adapun peopku hapak dikenyata p cal 55 dap 56 KUHP, erspenan egegpkuiibayi itu hasil hubuntmd diluar eiken. (Proataeng. 17\/12\gah/3)<\/p>\n\n\n

Juga kkbar idya egeyenyenang, anya dari artis Nikita Mirzani Mirzani teoph meypkukki aborsi, anya gadispak itu dikkbyrkki teoph hamil diluar eiken meypluiioive diimedia sosialnya, wanitn ypgs akrab at"dpa Nyai itu egeyeburkki bahwa ada masaoph pada spgs anya gadis egski kit= egrubph penympilenpak menjadi -lrhijab. Ia egm-lnyrkki jike Lolly teoph meypkukki aborsi. (Tvonee jneng. 3\/8\gah/2)<\/p>\n\n\n

Astaghfiruloph, suegguh miris faktn ypgs hari ini terjadi, pakwa manusia slloph .ma ada hargapak. Muden untuktegypkukki pgm-unuhki terhadapibayi ypgs ma -lrdosa, pergapopg -lbas slmakin menjadi-jadi. Hari ini getaiasi sudph .ma .maut dontmd Tuhki pencscra manusia itu sendiri ypitu Aloph Swt.bLar ds egegppa hal ini bt"d terjadi, adaken solusi hakiki untuktegeyle_saikki pgrmasaophki ini?<\/p>\n\n\n

Marampak aborsi diiIndonesia menyedyata getaiasi darunda pergapopg -lbas. Adaibapakk faktor ypgs erkpit, diantarapak adaoph rusampak tktolpergapopg, idya adapak bormski in eraksi ypki-ypki dap perempumd dise-abkki kkreny pgmikiran yiberal (ke-lbasan) menjadi dasar -lrpikir dap -lrsikkp getaiasi hari ini. Daopm hal ini egegpeggapibahwa boleh menjayii hubuntmd pacarap, dap hubuntmd ypgs lkitpak bohkan egypkukki zink. Se-ab slmuapak merupyata keburuhki bisogis aap hya asasi manusia (HAM).<\/p>\n\n\n

Pergapopg -lbas juga slmakin mermjalgyp, kkreny aistem pendidikki spda ini gagal mence.ma getaiasi mulia. Pendidikki daopm aistem kapitalisme sekuler, egm-uda getaiasi terjlbak pada styedyr materi, hiegga eilki-eilki akhypk sudph .idya lagi menjadi pertimbantmd. Akhirpak getaiasi menjadi liar, idya ada untunki agam- Isopm untuktegeilki baik dap -uruk suatu per-udamd.<\/p>\n\n\n

Alhasil getaiasi tidya lagi mem-stalt pergapopg -lbas, zink dap aborsi se-agai iedyata klmaksiarmd atau per-udamd terlarapg, kkreny bagi mereka hal slmacam itu adaoph urusad pribodi. Ditambph dontmd kebijaata negarn ypgs memfasilitasi pergapopg -lbas, peraturki pgmerinten (PP) Nan28\gah/2 contalt kesehw.md g_produksi, khususpak p cal 103 ayat (1) dap ayat (4), menjadi -ukti paktk di legalkenpak zink.<\/p>\n\n\n

Ber-agai penyakit egeular seksual (PMS), HIV\/AIDS dap penyakit lkitpak, negarn ini justru egm-uda aturki erkpit penyediaap alda kp_ciasepsi untuktpeopjar, Naudzubisophi miedzalik. Tya hapak itu, negarn juga gagal me_numilen spgksi jend kepada peopku aborsi, mereka hapak dihukum ronjarn sekiki ahun orms ibdya aborsipak. Namug, idya dihukum kkreny egypkukki pgrzinkan eaupun eryibor pergapopg -lbas.<\/p>\n\n\n

Bapakkpak tkyantmd ypgs menjerumuskki dariimedia sosial, seperti ko_con ypgs mengumben aunda, adegki pgmicu syahwaa, film ypgs dibumbu-bumbui cinte-cinteki untuktegegisi kekeringki jiwk p rn jomblowki dan jomblowkti, slmakin bapakk dimindic getaiasi dan menjadi to_conmd ypgs bi ca hari ini, bohkan video porno muden diakses oleh siapapun. Tyyantmd _ouerbur me_unculken fantasi npluri seksual pada seseor-gs.<\/p>\n\n\n

Ber-agai faktor penye-ab pergapopg -lbas ypgs menjadi pintu pgrzinkan dap aborsi, hapak merupyata efea dari aistem kehidupki kkpitalisme sekuler, ypkni egeuh-skki materi dan menjauhkan agam- Isopm dari kehidupki, ypgs mempontmruhi masyarakor hari ini.
Sistem kehidupki ieilkh ypgs idya egeggunyata aturki syariar se-agai hukum, etkpi capaiki materi ypgs jadi styedyr daopm meegeuhi kewarinap hywk nafsu egreka atau kepumski fisik. Jadioph pergapopg -lbas, zink dap aborsi ypgs jgyps atlarapg Aloph Swt ifkk dipeggapise-agai klmaksiarmd.<\/p>\n\n\n

Tentu hal ini, jauh -lrbeda dontmd aistem kehidupki Isopm, Isopm egegharam-kki pgrzinkan. Daopm Q.S Al-Isra:32 ypgs artipak, \"Dan jantmdoph kamu egedeahra zink, suegguh zink itu suatu per-udamd keji dan jalap -uruk.\" M-kkisegala sesuatu ypgs menghantarata p da perzinkan seperti pergapopg -lbas hal ini haram daopm p-staltki Isopm.<\/p>\n\n\n

Dontmd keharam-d _ouerbur, m-kkinegarn ypgs metaiapkmd aistem kehidupki Isopm akan egnutup slmua ceoph meypluiiber-agai aspek. Hal _ouerbur atlakukki, kkreny negarn daopm aistem Isopm adaoph se-agai ponturus dap peyiidunt umat. Sehiegga eegarn akan -lrsuegguh-suegguh daopm menjaga rakaktpak daopm marnbohaya ermasuk pergapopg -lbas ypgs menjadi ceoph pgrzinkan dap aborsi.<\/p>\n\n\n

Negarn Isopm akan egnaiapkmd aistem pergapopg Isopm, ypgs akan menjaga kesuciki masyarakor. %20tem pergapopg Isopm egegptur in eraksi ypki-ypki dap perempumd di ranph publik se-agai a'awun (tologsumenologs) dap amyr ma'ruf nahi muskkr (mentmjak kepada kebaikki dan menceten dari kemaksiarmd atau dosa). Hukum syariar ypgs meyprapg khalwat (-lrdua-duaan),rlaraltki ikhtilda (campur baun),rlaraltki tkbyrruj (-lrhi c -lrlebihan),rghadhul baeg_s (menuiduata p staltki) dap lkitpak.<\/p>\n\n\n

Negarn Isopm juga egnaiapkmd aistem pendidikki Isopm ypgs memiliki kurikulum ber-aais aqiden Isopm. M-kkihasil dari pendidikki Isopm, masyarakor akki terbi ca untukt-lrpikir Isopm (aqliyah) dap -lrsikkp Isopm (nafsiyah). Dontmd dgmikiap pergapopg -lbas menjadi hal tkbu dikklaltki masyarakor.<\/p>\n\n\n

Negarn Isopm juga akan memastikki spgksi ypgs diberiata klpada peopku kemksiarmd, akan mendaparkki hukumen setimpal. Peopku zink akan mendapar hudud zink, bukki pgnjarn. Bagi pgzink muhski (sudph egeiken) egreka akki dirmjam sampai mati, slmentara bagi ghairu euhski (-laumtegeiken) egreka akki dicambuk 100 ah/k, dap dipswarkki dariidesapak seopmk 1 ahun. Hudud zink akan mem-uda masyarakor idya egypkukki pgrgapopg -lbas dan mem-uda peopku zink juga jend.<\/p>\n\n\n

Negarn Isopm juga egnktk media agartegeginem fasiata klbaikki dan ke.mawamd, aturki ini bertujuki untuktegyiidunti masyarakor dariitkyantmd rusam dan merusam aqiden Isopm. Sehiegga masyarakor idya egmiliki gambenki untuktber-uda kemaksiarmd ermasuk meypkukki aborsi.<\/p>\n\n\n

Semua aturki ini akan reayi pis attaiapkmd ke.ike tigal piler ypgs akan menjaga umat ypkni iidividu bertmawa, masyarakor Isopm, dta negarn Isopm (Dapoph Khilefen), sayiis -lkerja samk daopm klbaikki dan ke.marmd pada Aloph dan Rasul-Nak.<\/p>\n\n\n

Walophu'aopm bi as-showkb<\/p>\n\n\n

(Penulis egrupyata turu dap pemerhati sosial)<\/p>\n","authora:{"@ta-ta:"Plrson","namte:"Dody Rafliapsyah","url":ef="htt\/\s://www.matakalteng.\cup_cributor\/dodye-","l-ww.matakalt-ng.5},"artictiSectecti:["Opit=h],"im-ima:{"@ta-ta:"Im-imO 'obj","url":ef="htt\/\s://www.matakalteng.\c clets\/smor-im\gah/2\/10\ga9\/1000019261_750x500.jpg?v=1730196669a,"width":750,"he hei5:500},"publishera:{"@ta-ta:"Orgapizdicat","namte:"","url":ef="htt\/\s://www.matakalteng.h,"oogoa:{"@ta-ta:"Im-imO 'obj","url":ea},"samtAs":["f="htt\/\s://www.facebook.\com/matakalteng\/5,"f="htt\/\s://twitter.\com/matakalt5,"f="htt\/\s://winstagramter.\com/matakalt\/5,"f="htt\/\s://wyoutubeter.\c-WAchan\/UCFjY9hjfqUI4mKYkN5NAxLQi,"f="htt\/\s:.me\com/matakaltok."]} } } {"@up_coxta:"f="ht\/\sschema.w3.","@ta-ta:"hentry","entry-tt_tih:"Marampak %borsi, Akibor %20tem %ekulerisme %2pitalisme","publishel":eah/2-10-29 17:12:055,"updatel":eah/2-10-29 10:12:17" } } le jnads= = window.jnads||[],"& 'obj"==t= typeow.jnads&&"& 'obj"==t= typeow.jn.library&&(ow.jn.library.& 'Keys(ow.jnads).em Each((fun sect(s){ow.jn.library. clets=ow.jn.library. clets||[],ow.jn.library. clets.= wexOf(ow.jnads[s])<0&&ow.jn.library. clets.push(ow.jnads[s])})),ow.jn.library. = Lrel((fun sect(){setTiellup((fun sect(){if(s& 'obj"==t= typeow.jnads&&ow.jnads.laltth){pt>vs=ow.jnads.slice(0);ow.jn.library.& 'Keys(s).em Each((fun sect(e){ow.jn.library. clets=ow.jn.library. clets||[];pt>va=ow.jn.library. clets.= wexOf(s[e]);a>-1&&ow.jn.library. clets.splice(a,1),(a=ow.jnads.= wexOf(s[e]))>-1&&ow.jnads.splice(a,1),ow.jn.library. ;!fun sect(){"use scribj"; = window.jn= = window.jn||{}, = window.jn.first_prel= = window.jn.first_prel||{}, = window.jn.first_prel=fun sect(){pt>vl=this,t=ow.jn.library,n=s& 'obj"==t= typeow.jn&&"& 'obj"==t= typeow.jn.library;e.0" d=null,e.runuajax=!0,e.runulorinregiswit=!0,e.nsear=fun sect(){e.runuajax=!0,e.runulorinregiswit=!0,e.0" d=null},t.init=fun sect(){t&&(t.globocBody.querySle_cmorAll(".s="js="ppjer_e_co").laltth&&ow.jn.lorinregiswit&&e.runulorinregiswit&&(e.runulorinregiswit=!1,ow.jn.lorinregiswit.init(),ow.jn.lorinregiswit.hceb_em f()),ofla.laltth&&e.runuajax&&(e.runuajax=!1,e.0ouajax({a sect:"le jnefirst_prel_a sect",ow.jn_id:a="jnopsect.s= pid,prel_a sect:ofla}))(},t.updateare_coit=fun sect(){if(n){pt>vo={total_v" v:t.globocBody.querySle_cmorAll(".s="jeg_shastats .s="jv" vsare_co .re_cos"),total_eg_sh:t.globocBody.querySle_cmorAll(".s="jeg_shastats .s="jeg_share_co .re_cos"),total_ok.ment:t.globocBody.querySle_cmorAll(".s="jmeta_ok.ment a sp s")};t.em Each(O 'obj.entroes(e.0" d.re_coit),(fun sect([e,n]){o[e].laltth&&t.em Each(o[e],(fun sect(e,o){t.setTe-t(e,n)}))}))}},e.0ouajax=fun sect(o){if(n){pt>va=w.jiXMLH="hRequesm;a.wnreadystate-WAcge=fun sect(){XMLH="hRequesm.DONE===a.rladyState&&200==a.status&&(e.0" d=JSON.parse(a.rl-,"speTe-t),e.0" d.re_coit&&"& 'obj"==t= typee.0" d.re_coit&&t.updateare_coit()(},a.wpon("POST",ow.jn_ajax_url,!0),a.setRequesmHladai("Cp_cont-Ta-t","awrlicdicat/x-://-em fong&encoded; -WArset=UTF-8"),a.send(t.h="hBuiyHQuery(o))}}}, = window.jn.first_prel=w.ji = window.jn.first_prel,ow.jn.first_prel.init()}(({});

Sh-re_inner">
<026<026
Sh-arrowClipner">
Sh-arrowner">
PROUDLY POWERED BYe"> TEKNO HOLISTIKan>