Konflik Lahan di Balik Topeng Pembangunan


Oleh: Nur Rahmawati, S.H***

Konflik lahan adalah satu keniscayaan dalam sistem kapitalisme demokrasi yang melahirkan politik oligarki. Tak bisa dimungkiri, banyaknya sengketa yang terjadi antara warga dan pengusaha makin bertambah setiap tahunnya. Terhitung pada tahun 2022 saja, sudah tercatat 212 konflik agraria berdasarkan laporan Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA). (Katadata.co.id, 6-11-2023).

Baca juga berita lainnya

Di Balik Topeng Pembangunan

Pembangunan digadang-gadang oleh pemerintah, menjadi alasan ekspansi lahan yang berujung Konflik agraria antara warga dan pengusaha atau perusahaan.

Terlebih, kemudahan yang disediakan oleh pemerintah baru-baru ini, seperti dikeluarkannya Peraturan Presiden Nomor 78 Tahun 2023 Tentang Perubahan Atas Peraturan Presiden Nomor 62 Tahun 2018 Tentang Penanganan Dampak Sosial Kemasyarakatan Dalam Rangka Penyediaan Tanah Untuk Pembangunan Nasional (Perpres 78/2023) oleh Joko Widodo (Walhi.or.id, 21-12-2023).

Lebih lanjut, adanya aturan dibukanya peluang investasi bagi siapa saja di bidang agraria ini membuka kran eksploitasi besar-besaran, sehingga berdampak terancamnya ruang hidup masyarakat juga eksploitasi potensi perempuan dan generasi. Hal ini salah satu sebab direstuinya rencana aksi nasional perkebunan kelapa sawit Indonesia yang berkelanjutan.

Lewat Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 6 Tahun 2019 tentang Rencana Aksi Nasional Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan (RAN KSB) Tahun 2019-2024 yang telah ditandatangani Joko Widodo, maka telah legal investor bebas menguasai lahan yang rata-rata hutan untuk dijadikan perkebunan kelapa sawit (Menpan.go.id, 28-11-2019).

Kapitalisme Biang Keroknya

Sudah menjadi rahasia umum, bahwa sistem kapitalisme menjadi biang kerok atas semua permasalahan di negeri ini, tidak terkecuali persoalan lahan. Sistem yang menjadikan asas manfaat sebagai fondasi dalam mengambil keputusan akan membawa pada kesengsaraan rakyat.

Apa pun yang membawa manfaat atau keuntungan, baik materi seperti uang maupun jabatan atau kekuasaan akan ditempuh dan diperjuangkan, meski menghalalkan segala cara. Maka tak heran, jika rakyat akan dikorbankan demi tercapainya tujuan tersebut.

Regulasi lahan oleh pemerintah sepanjang ini tidak sama sekali menunjukkan keberpihakannya pada rakyat. Aturan manusia ini sarat akan kelemahan dan pengkhianatan terhadap amanah yang telah dipikul oleh mereka.

Dibukanya peluang investasi untuk para pengusaha menambah deretan bukti, bahwa rakyat benar-benar diabaikan keberadaannya. Dirampasnya ruang hidup mereka demi ekspansi lahan untuk pembangunan, ataupun untuk membuka lahan.

Pada sistem kapitalisme demokrasi pemerintah menempatkan dirinya sebagai regulator yaitu pembuat aturan yang telah dibahas sebelumnya keberpihakannya kepada investor. Kemudian, pemerintah juga sebagai fasilitator yang berperan hanya memfasilitasi pihak-pihak yang berkepentingan, sayangnya lagi-lagi pihak yang kuat dimenangkan.

Tidak sampai di situ, sengketa lahan yang terus terjadi bahkan hampir di setiap wilayah yang mengalami ekspansi lahan belum juga mendapatkan keputusan final. Banyaknya korban jiwa dan luka-luka menambah catatan kelam sengketa lahan, seperti yang terjadi di Rempang, Riau, bahkan mereka dipaksa untuk meninggalkan tempat tinggal mereka yang telah turun temurun menjadi hunian dan hidup mereka.

Sungguh miris! Lain halnya yang terjadi di Seruyan, Kalimantan Tengah, adanya bentrokan yang memakan korban meninggal dunia dan luka-luka dari pihak masyarakat, di mana bentrokan yang terjadi antara warga dan pemilik perusahaan sebab adanya janji menyejahterakan warga setempat oleh perusahaan, tidak kunjung terealisasi (Umm.ac.id, 16-10-2023).

Hal tersebut, nyatanya meninggalkan kepiluan yang dirasakan masyarakat. Bagaimana tidak, seharusnya sengketa yang terus terjadi berkenaan dengan lahan, tidak terus bertambah dan dapat diselesaikan segera, mengingat pemerintah memiliki peran sebagai pelindung masyarakat, tapi justru sebaliknya, keberpihakan pemerintah bukan pada rakyat, terlihat dari dibuatnya aturan yang memudahkan perampasan tanah rakyat di balik topeng pembangunan yang nyatanya bukan untuk kepentingan rakyat ataupun menguntungkan rakyat.
Sebagaimana yang disampaikan sebelumnya.

Bahkan jika kita perhatikan adanya aturan UUD NRI 1945 Pasal 33 ayat 3 menegaskan bahwa segala sesuatu yang berkenaan dengan kekayaan alam Indonesia diperuntukan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat hanya isapan jempol. Lantas, mengapa kita masih berharap dan percaya dengan sistem kapitalisme demokrasi untuk menyelesaikan problematika saat ini?

Lingkungan Terdampak Ekspansi Lahan

Selain banyaknya konflik yang terjadi sebab ekspansi lahan oleh pihak perusahaan, ada pula dampak lain yaitu kerusakan lingkungan.

Islam Solusi Tepat

Islam memiliki konsep jelas atas kepemilikan lahan, dan menjadikan penguasa sebagai pengurus dan pelindung rakyat termasuk pelindung kepemilikan lahan. Proyek Pembangunan apa pun dalam negara Islam dilaksanakan untuk kepentingan rakyat dan didukung kebijakan yang melindungi rakyat dan membawa kemaslahatan rakyat. Sejatinya kepemilikan yang ada di langit dan di bumi adalah milik Allah Swt. sebagaimana yang tertuang dalam firman-Nya yang artinya

”Dan kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan kepada Allah-lah kembali (semua makhluk).” (QS An-Nuur [24] : 42). Kemudian, Allah SWT sebagai pemilik hakiki, memberikan kuasa (istikhlaf) kepada manusia untuk mengelola milik Allah ini sesuai dengan hukum-hukum Nya. Hal ini merupakan perintah langsung dari Allah, untuk pengelolaannya menggunakan hukum Islam itu sendiri.

Islam mengatur kepemilikan tersebut terbagi menjadi tiga yaitu Pertama kepemilikan individu adalah bentuk kepemilikan yang boleh dimiliki secara individu seperti emas, perak, kuda pilihan, binatang ternak, dan sawah ladang. (TQS Al ImranImran: 14). Kedua, kepemilikan negara adalah bentuk kepemilikan yang hanya boleh dimiliki oleh negara untuk dikelola negara di Baitul Mal seperti Fa’i, Kharaj dan Jizyah.

Ketiga, kepemilikan umum adalah bentuk kepemilikan yang tidak boleh dimiliki oleh individu maupun negara. Kepemilikan ini dikelola oleh negara dan dikembalikan 100% kepada rakyat. Misalnya Tanah, Air dan Udara. Sebagaimana terdapat pada hadis berikut, Ibnu Majah meriwayatkan dari Abdulah bin Said, dari Abdullah bin Khirasy bin Khawsyab asy-Syaibani, dari al-‘Awam bin Khawsyab, dari Mujahid, dari Ibnu Abbas ra. bahwa Rasulullah ﷺ. bersabda,

اَلْمُسْلِمُونَ شُرَكَاءُ فِي ثَلاَثٍ فِي الْمَاءِ وَالْكَلإِ وَالنَّارِ وَثَمنَهُ حَرَامٌ

Kaum muslim berserikat dalam tiga hal: air, padang rumput, dan api; dan harganya adalah haram.”

Berkenaan dengan lahan saat ini maka masuk dalam kepemilikan umum, artinya tidak boleh dikuasai oleh segelintir orang ataupun negara, tapi diperuntukkan sebesar-besarnya bagi kesejahteraan rakyat. Kalaupun negara menguasai hanya sebagai pihak yang mengelola dan seluruh hasilnya diserahkan untuk rakyat. Jadi, sangat jelas bahwa hukum merampas lahan atau tempat tinggal untuk ekspansi lahan atau dengan alasan apapun hukumya haram dilakukan, sebagaimana hadis menyatakan

“Barang siapa yang mengambil atau merampas hak orang lain walau hanya sejengkal tanah, maka akan dikalungkan ke lehernya (pada hari kiamat nanti) seberat tujuh lapis bumi.” (HR Bukhari dan Muslim). Sehingga, kembali kepada Islam adalah satu-satunya solusi untuk menyelesaikan segala persoalan hidup, tidak terkecuali masalah konflik lahan. Wallahu’alam bishawab !

(Penulis merupakan Pendidik dan Pengamat Kebijakan di Kabupaten Kotawaringin Timur)

ad-space

Berita Terkait

Next Post Bupati Tegaskan Semua Masyarakat Kotim Berhak Mendapatkan Layanan Kesehatan 
rticle jnews_content_inline_ads ">Polda ads "> Ug sip 121 adsus Kboleatka J>Ketimpangan Global: Wajah Nyata Kegagalan Kapitalismelteng.com/kolom/opini/2026/02/14/gaga30 Mengan-global-wajah-nyataah-nyata-kegagalan-kumn_wid"i sebawaban-dan-keberpihakan-kemanusiaan" > Senin, 9 Februari 2026
< St menjTranshianuwn-kapitalisme-2" aria-label="Read article: Ketimpangan Global: Wajah Nyata Kegagalan Kapitalise70
Opini
Raih WTP Kba Phref= ken,, maii Ksmitiboisi-kabimur/20Kbesar-Kluta">< St menjTranshianuglobal-wajah-nyata-kegagalan-kapitalisme-2">Ketimpangan Global: Wajah Nyata Kegagalan Kapitalismematakalteng.com/kolom/opini/2026/04/249 Mengan-global-wajah-nyataah-nyata-kegagalan-kumn_wid"i sebawaban-dan-keberpihakan-kemanusiaan" > Senin, 9 Februari 2026
Lhak kkepeah/kalimraan Pimpi t-rev-pg renangm">n-kapitalisme-2" aria-label="Read article: Ketimpangan Global: Wajah Nyata Kegagalan Kapitalise70
>Gublanur ads "> Lhak kkepeah/kalimraan Pimpi t-rev-pg renangm"global-wajah-nyata-kegagalan-kapitalisme-2">Ketimpangan Global: Wajah Nyata Kegagalan Kapitalisme >ng.com/kolom/opini/2026/02/09/mel/ratu26 Mengan-global-wajah-nyataah-nyata-kegagalan-kumn_wid"i sebawaban-dan-keberpihakan-kemanusiaan" > Senin, 9 Februari 2026
mutimen-dugat-titleakan httrsleuruh-sharrik>
Opini
mutimen-dugat-titleakan httrsleuruh-sharrik>>Dt/karan-semua-mngkek Ch pi-partmlomasibclerqrlik Gm/koMutimen, Dugat-/17/eakan an-rsleuruh Lharrikglobal-wajah-nyata-kegagalan-kapitalisme-2">Ketimpangan Global: Wajah Nyata Kegagalan Kapitalisme mutimen-dugat-titleakan httrsleuruh-sharrik>>lteng.com/kolom/opini/2026/02/14/gaga23 Mengan-global-wajah-nyataah-nyata-kegagalan-kumn_wid"i sebawaban-dan-keberpihakan-kemanusiaan" > Senin, 9 Februari 2026
Opiniinpasitaslimikant TKetimpangan Global: Wajah Nyata Kegagalan Kapitalismeng.com/kolom/opini/2026/02/09/mel/ratu19 Mengan-global-wajah-nyataah-nyata-kegagalan-kumn_wid"i sebawaban-dan-keberpihakan-kemanusiaan" > Senin, 9 Februari 2026
> S> > mbang-asaderqr W�َ�negar Sorotqrlik TOpini> mbang-asaderqr W�َ�negar Sorotqrlik TKetimpangan Global: Wajah Nyata Kegagalan Kapitalisme Minggu, 18 Januari 2026
rticle jnewrticle jnews_content_bottom_ads ">
Keti Januari 2026Keticlasfeed_v>
-holdn>
clashor":"",wquare">

< yata-keag iboxor-ol_2o3",ag iboxor-hop-ol_2o3",ag iboxor-ag ibox,ag iboxor-ag ibox-af86a6a,ag iboxor-hiddak-mobit"sag iboxor-ol_2o3"-ore",sag iboxor-ol_2o3"-apital-:"defau ng iboxor-ol_2o3"-apital-:"defau ol_2o3"/17/170seturuh-ke{"t","secondit","second":"yata-ic"}yarakat Kotim ng iboxor-abel="Readng iboxor-ab"","-gap-:"defau ab"","hibou_ng iboxor srget"w7/170 srget_head> classhibou_ng iboxor.:"defau

: Wajah Nyata Kegagalan KapitalismeTMasaas Keminan" 0liarli1890270_gaou-iolomgaou-iolo-head-"header_fmgaou-iolo-object-s="emgaou-iolo-122497l: Wajah Nyata Kegagalan Kapitalismenan" 0liarli1890270_gaou-iolomgaou-iolo-head-"header_fmgaou-iolo-object-s="emgaou-iolo-122498l: Wajah Nyata Kegagalan KapitalismeKebija>K_rigknan" 0liar/ulcerpt_lepreloader square">
srget"w7/170 srget_head> html.:"defau

COPYRIGHT &ps:/; 2018rah/3 MATA KALTENG. ALL RIGHT RESERVED.ader squarestyclas:"",": #fff; f_ri="htt: 10px; f_ri=wpital: bold; mar"jeg_op:-8pxw>PROUDLY POWERED BYopini">OpiniTEKNO HOLISTIKnan".dule-preloader jeg_preloader square">
ab"","h"fa fa_ng iboxor srget"w7/170 srget_head> classh"fa fa_ng iboxor.:"defau

Opini
Opini
Opini
Opini
ol_2o3"/17/170seturuh-ke{"t","secondit","second":"yata-ic"}yarakat Kotim ng iboxor-abel="Readng iboxor-ab"","-gap-:"defau ab""," srget"w7/170 srget_head> html.:"defau

TENTANG KAMInan"o |  lacstyclas:"",": #ffffff;/ajah Nyata Kegagalan KapitalismePEDOMANnan"o |  lacstyclas:"",": #ffffff;/ajah Nyata Kegagalan Kapitalismeltstar"et="erpank" ass="noext=ea">DISCLAIMER="jeg_oeloader_dot'>KEBIJAKAN PRIVASInan"o |  lacstyclas:"",": #ffffff;/ajah Nyata Kegagalan KapitalismeKONTAK="jeg_oeloader_dotpreloader square">
srget"w7/170 srget_head> html.:"defau

JL. BUMI RAYA I, PERUM.ZAHRANA, RT.01/RW.01ader squarestyclas:"",": #fff; f_ri="htt: 11px; f_ri=wpital: 400; oad"-asset: s/stor; mar"jeg_op:-8pxw>KEL. BAAMANG BARAT, KEC. BAAMANGader squarestyclas:"",": #fff; f_ri="htt: 11px; f_ri=wpital: 400; oad"-asset: s/stor; mar"jeg_op:-8pxw>SAMPIT, KOTAWARINGIN TIMUR, KALIMANTAN TENGAHader squarestyclas:"",": #fff; f_ri="htt: 12px; oad"-asset: s/stor; f_ri=wpital: bold">PROUDLY POWERED BYopini">OpiniTEKNO HOLISTIKnan"dule-preloader jeg_preloader square"> ORg_oeloader_dotpreloap>Lo"je to your rousum/ altowbawabuare">
opinput head> oad": namd> usernamd" p">ceholdn>="Usernamd" vfauev"yabawabpe">
opinput head> p pceholdn>="P
opinput head> checkbox asmeage_sme" vfauev"true">opakaltm> asmeage_sme">Rsmeage_ Ma.7akalt>bawabuare">
opinput head> hiddak" namd> a_2o3"/1vfauev"lo"je_haidlor/oopinput head> hiddak" namd> classnots//1vfauev"88d90f12f9/oopinput head> sub":"l namd> laslo"je_buttouww2">Ketibuttouwwvfauev"Lo",Inta-src=pro"bsi="Pro"bsiruh . . .ta-src="trACH5BLo",Int>bawabuare">
Opi#clas
Forgottbois
con p>con pgrousum/kol>
bg_ck-o">
Keticav_>Ketiiolo_y":"nner">
asidetiolommpan"earch_>Opi#/1w.matakaltenSearch Buttouww2">Ketimpan"earch_toggdakola>
Ketimpan"earch_> s"w2">Ketimpan"earch_input" p">ceholdn>="Search..." head> oad": vfauev"y akale""buttouaw.matakaltenSearch Buttouwwhead> sub":"l 2">Ketimpan"earch_buttouastnkola>
"earch_resfau div>"earch_hidi sth_resfau

mobit"_profile_>Opi#claslo"je>Ketimpancon panguaola>
Homenan" 0liarli1890270_gaou-iolomgaou-iolo-head-taxonomymgaou-iolo-object-oategorymgaou-iolo-122419l: Wajah Nyata Kegagalan KapitalismeNlasnan" 0liarli1890270_gaou-iolomgaou-iolo-head-taxonomymgaou-iolo-object-oategorymgaou-iolo-has-childrboigaou-iolo-122415l: Wajah Nyata Kegagalan KapitalismeDta-exnan" ul1890270_subttakuKnd="700" TPalan ha Rayanan" 0liarli1890270_gaou-iolomgaou-iolo-head-taxonomymgaou-iolo-object-oategorymgaou-iolo-122425l: Wajah Nyata Kegagalan KapitalismeGuru=h Masnan" 0liarli1890270_gaou-iolomgaou-iolo-head-taxonomymgaou-iolo-object-oategorymgaou-iolo-12243">: Wajah Nyata Kegagalan KapitalismeKnpua"nan" 0liarli1890270_gaou-iolomgaou-iolo-head-taxonomymgaou-iolo-object-oategorymgaou-iolo-122431>: Wajah Nyata Kegagalan KapitalismeK_ class="je Blr> nan" 0liarli1890270_gaou-iolomgaou-iolo-head-taxonomymgaou-iolo-object-oategorymgaou-iolo-122433"i Wajah Nyata Kegagalan KapitalismeMpuu=h Rayanan" 0liarli1890270_gaou-iolomgaou-iolo-head-taxonomymgaou-iolo-object-oategorymgaou-iolo-122437l: Wajah Nyata Kegagalan Kapitalisme: Wajah Nyata Kegagalan KapitalismeLegisl Kifnan" ul1890270_subttakuDPRD Knd="700" TDPRD K_ c Palan ha Rayanan" 0liarli1890270_gaou-iolomgaou-iolo-head-taxonomymgaou-iolo-object-oategorymgaou-iolo-122441>: Wajah Nyata Kegagalan KapitalismeDPRD Guru=h Masnan" 0liarli1890270_gaou-iolomgaou-iolo-head-taxonomymgaou-iolo-object-oategorymgaou-iolo-122445l: Wajah Nyata Kegagalan KapitalismeDPRD Knpua"nan" 0liarli1890270_gaou-iolomgaou-iolo-head-taxonomymgaou-iolo-object-oategorymgaou-iolo-122446l: Wajah Nyata Kegagalan KapitalismeDPRD K_ class="je Blr> nan" 0liarli1890270_gaou-iolomgaou-iolo-head-taxonomymgaou-iolo-object-oategorymgaou-iolo-122449l: Wajah Nyata Kegagalan Kapitalisme: Wajah Nyata Kegagalan Kapitalisme: Wajah Nyata Kegagalan KapitalismeDPRD Mpuu=h Rayanan" 0liarli1890270_gaou-iolomgaou-iolo-head-taxonomymgaou-iolo-object-oategorymgaou-iolo-122452"i Wajah Nyata Kegagalan KapitalismeHukrimnan" 0liarli1890270_gaou-iolomgaou-iolo-head-taxonomymgaou-iolo-object-oategorymgaou-iolo-122456l: Wajah Nyata Kegagalan KapitalismePrndidikpunan" 0liarli1890270_gaou-iolomgaou-iolo-head-taxonomymgaou-iolo-object-oategorymgaou-iolo-122454"i Wajah Nyata Kegagalan KapitalismeEkonominan" 0liarli1890270_gaou-iolomgaou-iolo-head-taxonomymgaou-iolo-object-oategorymgaou-iolo-122457l: Wajah Nyata Kegagalan KapitalismePolitiknan" 0liarli1890270_gaou-iolomgaou-iolo-head-taxonomymgaou-iolo-object-oategorymgaou-iolo-122458l: Wajah Nyata Kegagalan KapitalismeOlahraganan" 0liarli1890270_gaou-iolomgaou-iolo-head-taxonomymgaou-iolo-object-oategorymcurrbox-copy_ancesxor gaou-iolo-has-childrboigaou-iolo-122596l: Wajah Nyata Kegagalan KapitalismeOpininan" 0liar/ulcerliar/ulcerpt_lepreloauare">
asidetiolom"fa fafs srget"nobgy-opini">Opini
Opini
Opini
Opini
Opini
COPYRIGHT © 2018rah/3 inhegor="Mppe ads ">/ajah Nyata Kegagalan KapitalismeMATA KALTENGlobalbr> PROUDLY POWERED BYopinhegor="Tekno Hol"sti=/ajah Nyata Kegagalateknohol"sti="jeg/">TEKNO HOLISTIKnan"du;trong>bawabule-preloader jeg_preloader square">
ogress_>Ketiiv claogress_abel="Readtopn"l; g_oeloader_dotprelo""Name('g-recapttha')).>Lhar.abel="Rs('s='mod')){ grecapttha.rboder(vfaue, vfaue.7/17set."htekey); vfaue.ript>Lhar.add("s='mod") //see au9giVDk } }); }"","css":"""","css":""ol_2o3"Observea( ( entrAes ) => { entrAes.> { if ( entry.isInan>ol_2ong ) { t"tslazys='mB","secondd= entry.tar"et; if(slazys='mB","secondd) { lazys='mB","second.ript>Lhar.add( '"-lazys='med' ); } lazys='mB","secondObservea.unobserve( entry.tar"et ); } }); }, { rootMar"je: 'la0px 0px la0px 0px' } ); lazys='mB","seconds.> { docuibox.addEvboxLhart=ea( evbox,llazys='mRunObservead); } );"","css":""" oad"/java"earch":"1w,"co" id":"1-loadw,"isblo"":"1w,"admje_blr":"0w,"follow_video":"w,"follow_co"i2o3"/:"hop0rital","rtl":"0w,"gif":"w,"la=h":{"invfaid_recapttha":"Invfaid Recapttha!w,"empty_usernamd::"Pgease /stor your usernamd!w,"empty_ertic/:"Pgease /stor your ertic!w,"empty_p"lu"":"\/w,"site>dompi"/:"galan Kapitalisme oad"/java"","css":""![rndif]--:"" oad"/java oad"/java\/":"swiper",""eturuh-w:{"pf;ba:[],"edi2orPahferbos/sw:[]},"kitw:{"a_2ove>breakpoioxs":["viewpor"nmobit"","viewpor"n45st"tw],"globfa_omf;b_litalbox<:"y/sw,"litalbox_enost"tpsum/or/:"y/sw,"litalbox_enost"tfull ='' da">;/*! instaox.l="emv5.1.1 - (C) 2019rah/0 Alexa=d#" Dieulot - ata Kegainstaox.l="e/license */ t"tst,e;muas ln=cla,Set,o=docuibox.a eateEg ibox("link"),i=o.assLhar&&o.assLhar.suppor"s&&o.assLhar.suppor"s("pahfetth")&& sndow.Inan>ol_2o3"Observea&&"isInan>ol_2ong"in,Inan>ol_2o3"ObserveaEntry.protohead,iv instaoxAllowQueryStrACH"in,docuibox.body.7/17set,av instaoxAllowExan>nudLngus"in,docuibox.body.7/17set,rv instaoxWhitel"st"in,docuibox.body.7/17set,cv instaoxMcosndownShor"cut"in,docuibox.body.7/17set,d=1111;t"tsl=65,u=!1,f=!1,m=!1;if( instaoxInang"ity"in,docuibox.body.7/17set){muas lt=docuibox.body.7/17set.instaoxInang"ity;if( mcosndown"==r.substr(0,9))u=!0,"mcosndown-only"==r&&(f=!0);e":" if( viewpor""==r.substr(0,8))_squareor.muanl_2o3"&&(_squareor.muanl_2o3".saveD/17||_squareor.muanl_2o3".effe_2oveTead&&_squareor.muanl_2o3".effe_2oveTead.include<("2g"))||( viewpor""==r?docuibox.docuiboxEg ibox.cliboxWidth*docuibox.docuiboxEg ibox.cliboxHpital<45e4&&(m=!0): viewpor"-all"==r&&(m=!0));e":"{muas le=parseIna(t);isNaN(e)||(l=e)}}if(i){muas ln={capture:!0,p{v(o.jah ),t=void 0}),l))}),n),c&&docuibox.addEvboxLhart=ea("mcosndown",(fun_2o3"(t){if(per>1||t.metaKey||t.ctrlKey)return;if(!n)return;n.addEvboxLhart=ea("click",(fun_2o3"(t){1337!=x.dettic&&x.l_imboxD"defau()}),{capture:!0,p{requesxIdleCallt","(t,{tiibcut:1500})}:t=>{u()})((()=>{muas lt=cla,Inan>ol_2o3"Observea((e=>{e.>{if(e.isInan>ol_2ong){muas ln=e.tar"et;t.unobserve(n),v(n.jah )}}))}));docuibox.querySng cxorAll("a").>{h(e)&&t.observe(e)}))}))}}fun_2o3" p(e){e.relatedTar"et&&e.tar"et.closesx("a")==e.relatedTar"et.closesx("a")||t&&(ngearTiibcut(t),t=void 0)}fun_2o3" h(t){if(t&&t.jah &&(!r|| instaox"in,t.7/17set)&&(a||t.origin==locpagin.origin|| instaox"in,t.7/17set)&&[iniMadChild(e),n.add(t)}"","css":euare">
licpagin/ld+json'>{"@mua Mxta:"ata e\/\aschema.org","@heada:"Articorw,"mpi"EntityOfPf;ba:{"@heada:"WebPf;ba,"@im":yata Ke\/\agalan Kapitalisme Oleh: Nur Rahmawpag, S.H***<\/p>\n\n\n\n soKonflik io/qr adaio/ satu keniscayaln daiom shartm kapitalisme demokrasi ya=h melahirkpu politik oligarki. Tak bisa dimungkirg, baiyakiya st=hkett ya=h an>jadi,700"ra war"a dpu pt=huso/q makin,bertamba/ setiap tahuniya. Terhitu=h pada tahun 2022 saja, suda/ an>cpaat 212 konflik agraria,berdaslrkpu laporpu Konsorsium 54mbarupu Agraria,(KPA).,(Kpaa7/17me<.id, 6-11rah/3).<\/p>\n\n\n\n sol;trong>Di,Balik Text=h 54mbaigurnu<\u;trong>b\/p>\n\n\n\n so54mbaigurnu diga7/=htga7/=h oleh ptmerjetah,mgaojadi,7>\n\n\n\n soTerlebih,mkemuda/qr ya=h disedia> \n\n\n\n soLebih la=jut, adaiya aturancamnya rul=h hid p masy"rak K juga,ekoeloixasi poang"i ptrempuln dan gt=eaasi. Hal ini saio/ satu sebab direstuinya rencana ak"i naso3"al ptrkeburnu kelapa sawit,Indonesia ya=h berkela=jutan. b\/p>\n\n\n\n soLewpa,Instruk"i Presiden (Inpahs) Nomor 6 Tahun 2019 Masaas Rencana Ak"i Naso3"al Ptrkeburnu Kelapa Sawit,Berkela=jutan (RAN KSB) Tahun 2019rah/4 ya=h anio/ dixan7/17ugari Joko Widodo, maka anio/ legal invesxor bebasmgaogu\n\n\n\n sol;trong>Kapitalisme Bia=h Kerokiya<\u;trong>b\/p>\n\n\n\n soSuda/ gaojadi,ro/qsia umum, bahwa shartm kapitalisme gaojadi,bia=h kerok /17s semua pe/iasaio/ln di,negerj ini, ti7/k an>kecuali pe/soalan io/qr. Shartm ya=h menjadikpu asasmganfapa,sebagni fon7/"i daiom gaogambil keputudnu a>\n\n\n\n soApa pun ya=h meagawp ganfapa,/17u keuntuugar, baik n Kerj septrti ul=h maupun jab Kau /17u kekucppainya tujuan an>olbut.<\/p>\n\n\n\n soRegulasi io/qr oleh ptmerjetah sepa=jl=h ini ti7/k sama stand=mgaou=jukknu keberpihakpuiya pada rakyat. Aturhadap aminah ya=h anio/ dipikul oleh mertan. b\/p>\n\n\n\n soDibukaiya pelul=h invesxasi untuk p"ra pt=huso/q mtrnmba/ dertKau bukti, bahwa rakyat btrnr-ben"#"diabaiknu keberadaaniya. Dirampasnya rul=h hid p mertan demi ekoelosi io/qr untuk p4mbaigurnu, /17upun untuk meaguka io/qr. b\/p>\n\n\n\n so5ada shartm kapitalisme demokrasi ptmerjetah mtrlopat>\n\n\n\n soTi7/k sampai di,situ, st=hkett io/qr ya=h ttrus an>jadi,ba/kan hampir di,setiap wilayah ya=h mengalami ekoelosi io/qr altum juga,mendapat>jadi,di,Rlopang, Riau,,ba/kan mertan dipaksa untuk menonggal>\n\n\n\n soSuugguh miris! Lain haliya ya=h an>jadi,di,Seruyau, Knd="700" Tjadi,700"ra war"a dpu ptmilik ptruso/qan sebab adaiya jl=j=mgaoyejahan>akan war"a setlopat oleh ptruso/qan, ti7/k ku=ju=h an>ealisasi (Umm.ac.id, 16-10rah/3).<\/p>\n\n\n\n soHal an>olbut, iyataiya menonggal>us an>jadi,berkenaln dus bertamba/ dan dapat diselesli>a,mgaogruhat ptmerjetah mtmiliki pe/an sebagni pelindu=h masy"rak K,,tapi justru sebalikiya, keberpihakpu ptmerjetah bukpu pada rakyat, an>lihat dari dibuatiya aturSebagnimina ya=h disampai>\n\n\n\n soBa/kpu jikp kita ptrhatikpu adaiya aturmur\n\n\n\n sol;trong>Lruhkuugar Terdampak Ekoelosi Lahln<\u;trong>b\/p>\n\n\n\n soSnioin,baiyakiya konflik ya=h an>jadi,sebab ekoelosi io/qr oleh pihak ptruso/qan, ada n la dampak ioin,yaitu ktrusokpu lruhkuugar.<\/p>\n\n\n\n sol;trong>Isiom Solusi Tepat<\u;trong>b\/p>\n\n\n\n soIsiom mtmiliki kag"epcjllas /17s keptmilikin io/qr, da= gaojadikpu pt=huus dpu ptlindu=h rakyat te/iasuk p4lindu=h keptmilikin io/qr. Proyek 54mbaigurnu apa pun daiom rlgara Isiom dilaksanakpu untuk kept=uruhau rakyat dan diduku=h kebijakan ya=h melindu=hi rakyat dan meagawp keaasio/qt\n\n\n\n so\uah1dDhluk).\uah1d (QS An-Nuur [24] : 42). Kemudiau, Alio/ SWT sebagni pemilik hakiki, meage_iknu ku\n\n\n\n soIsiom mtuhatur keptmilikin an>olbut an>bagi gaojadi,tiga,yaitu Pertama keptmilikin individu adaio/ bentuk keptmilikin ya=h boleh diiiliki seclra individu septrti eaas, ptrak, kuda nilihar, bi= Kauh te/nak, d\n\n\n\n soKetiga, keptmilikin umum adaio/ bentuk keptmilikin ya=h ti7/k boleh diiiliki oleh individu maupun rlgara. Keptmilikin ini dikelola oleh rlgara dan diktmbalikin 100% kepada rakyat. Misaliya Tarnh, Air doabda,<\up>\n\n\n\n so\u0627\u064e\u0644\u0652\u0645\u064f\u0633\u0652\u0644\u0650\u0645\u064f\u0648\u0646\u064e \u0634\u064f\u0631\u064e\u0643\u064e\u0627\u0621\u064f \u0641\u0650\u064a \u062b\u064e\u0644\u0627\u064e\u062b\u064d \u0641\u0650\u064a \u0627\u0644\u0652\u0645\u064e\u0627\u0621\u0650 \u0648\u064e\u0627\u0644\u0652\u0643\u064e\u0644\u0625\u0650 \u0648\u064e\u0627\u0644\u0646\u064e\u0651\u0627\u0631\u0650 \u0648\u064e\u062b\u064e\u0645\u0646\u064e\u0647\u064f \u062d\u064e\u0631\u064e\u0627\u0645\u064c
\uah1c
Kaum musd=" bn>oe_iknt daiom tiga,hal: air, pada=h rumput, dnu api; dpu har"aiya adaio/ haram.\uah1d<\/p>\n\n\n\n soBerkenaln da
\n\n\n\n so\"Blr>=h shapa ya=h mengambil a17u mtrampas hak orpug ioin,waiou haiya sejt=hkal aarnh, maka a>\n\n\n\n so(Penulis merupakpu Prndidik d '/a>licpagin/ld+json'>{"@mua Mxta:"ata e\/\aschema.org","@heada:"hentryw,"entry-hegorw:"Konflik Lahln di,Balik Text=h 54mbaigurnuw,"publ"shem":y clasads= sndow. clasads||[],"object"==readof clasads&&"object"==readof clas.library&&( clas.library.objKeys( clasads).>licpagin/x-gal->500&&a.cliboxWidth>500?500:370),O=n.exelod,P=O*n.exeFacxor),q2&&v>2&&!t.hidden?(q=P,G=0):q=v>1&&G>1&& <6?O:I;>ce)if(H)if((g=o[i][s]("7/17-exelod"))&&(f=1*g)||(f=q),h!== &&(L=in=eaWidth+f*T,B=in=eaHpital+f,m=-1*f,h=f),r=o[i]."etBcondingCliboxRect(),(k=r.m">=m&&(F=r.alp)<=B&&(S=r.rital)>=m*T&&(R=r.ltft)<=L&&(k||S||R||F)&&(u&& <3&&!g&&(v<3||G<4)||K(o[i],f))){if(ae(o[i]),d=!0,j>9)break}e":"!d&&u&&!l&& <4&&G<4&&v>2&&(c[0]||".cass='mAfterL='m)&&(c[0]||!g&&(k||S||R||F||"akal"!=o[i][s](n.sizasAt r)))&&(l=c[0]||o[i]);e":" ae(o[i]);l&&!d&&ae(l)}Y()},U=M(Q),V=fun_2o3"(e){z(e,n.s='medCipt>),y(e,n.s='mingClpt>),y(e,n.afterL='medCipt>)},X=fun_2o3"(e){z(e.tar"et,n.afterL='medCipt>),Y()},Y=fun_2o3"(){if(W.lt=hth>0)>=i&&(F=e.alp)<=B&&(S=e.rital)>=i*T&&(R=e.ltft)<=L&&(k||S||R||F)&&h(r,n.afterL='medCipt>)&&V(r)}},Z=fun_2o3"(e,t){try{e.mua MasWsndow.locpagin.rep">ce(t)}catth(n){e.srcNt}},ee=fun_2o3"(e){="#"t,a,i=e[s](n.srcsetAt r);(t=n.or":""Media[e[s]("7/17-media")||e[s]("media")])&&d.setAt ributd("media",t),i&&d.setAt ributd("srcset",i),t&&((a=e.larboxNode)ainsertBe>):d.setAt ributd("sizas",i)),l=e[s](n.srcsetAt r),r=e[s](n.srcAt r),o&&(u=(c=e.larboxNode)&&f.test(c.nodeName||"")),h=x.firesL='m||"src"in,a&&(l||r||u),v={tar"et:e},h&&(p(e,J,!0),ngearTiibcut(m),m=d(J,2500),z(e,n.s='mingClpt>),p(e,X,!0)),u&&g.call(c.getEg iboxsByTagName("source"),ee),l?d.setAt ributd("srcset",l):r&&!u&&(D.test(e.nodeName)?Z(e,r):d.srcNr),(l||u)&&b(e,{src:r})),e._lazyR>ce&&dng te e._lazyR>ce,y(e,n.sazyClpt>),N((fun_2o3"(){h&&!ne(e)||(h?J(v):j--)}),!0)}));fun_2o3" ne(e){return!!e"jegpg te&&(void 0===e.natur))&&(t=C(e,"lazyunveilrbad").dettic,o&&x.updateEg i(e,!0,e.offsetWidth),e._lazyR>ce=!0,j++,te(n,t,o,i,a))},ie=fun_2o3"(){if(!u)if(i.now()-E<999)d(ie,999);e":"{="#"n=_((fun_2o3"(){n.s='mMode=3,U()}));u=!0,n.s='mMode=3,U(),l("sa oll",(fun_2o3"(){3==n.s='mMode&&(_.s='mMode=2),e()}),!0)}};return{_:fun_2o3"(){E=i.now(),o=x.getEg iboxsByCipt>Name(n.sazyClpt>),W=x.getEg iboxsByCipt>Name(n.afterL='medCipt>),c=x.getEg iboxsByCipt>Name(n.sazyClpt>+" "+".cass='mCipt>),T=n.hFac,l("sa oll",U,!0),l("resize",U,!0),e.Muta2o3"Observea?nla,Muta2o3"Observea(U).observe(a,{childLhar:!0,subtree:!0,at ributds:!0}):(a[r]("DOMNodeInsertemw,U,!0),a[r]("DOMAt rModifiem",U,!0),setInan>val(U,999)),l("hashchaige",U,!0),["focus","mcosnck-o<,"click","s='mw,"trlosi2o3"enmw,"animpaginenmw,"webkixAnimpaginEnmw].>Name(n.akalsizasCipt>),l("resize",S)},checkEg is:S,updateEg i:R}),L=fun_2o3"(){L.i||(L.i=!0,x._(),W._())};="#"B,F,R,S;="#"k,O,P,T,$,D;return fun_2o3"(){="#"t,a={sazyClpt>:"lazys='m",s='medCipt>:"lazys='mem",s='mingClpt>:"lazys='mACH",afterL='medCipt>:"afters='mACH",cass='mCipt>:"lazycass='m",errorClpt>:"lazyerrorw,akalsizasCipt>:"lazyakalsizas",srcAt r:"7/17-src",srcsetAt r:"7/17-srcset",sizasAt r:"7/17-sizas",mjeSiza:40,or":""Media:{},inir:!0,exeFacxor:1.5,hFac:.8,s='mMode:2,animpaeExelod:0};>ce(i," ").splix(r),l.style.7isplay="note",n.ript>Name=lazySizasCuafig.sazyClpt>,1!=e.lt=hth||d||(d="akal"),e.>MadChild(a)})),d&&(n.setAt ributd(lazySizasCuafig.sizasAt r,d),a.removnAt ributd(lazySizasCuafig.sizasAt r),a.removnAt ributd("sizas")),z&&n.setAt ributd("7/17-lp2o"umx",z),o&&n.setAt ributd("7/17-rpagi",o),l./a>MadChild(n),a./a>MadChild(c)}(n,o,l),setTiibcut((fun_2o3"(){a.s='mea.unveil(c),a.rAF((fun_2o3"(){a.fire(l,"_lazys='med",{},!0,!0),l"jegpg te&&d({tar"et:l})}))})))})),x.addEvboxLhart=ea("s='m",d,!0),e.addEvboxLhart=ea("lazybe>t._lazysizasWidth)&&(t._lazysizasWidth=i),t._lazysizasWidth))}))}}));"","css":"/body:"/html> "!-- Dynamic l="emgt=eaaxed inl1.062 seconds. --> "!-- Cached l="emgt=eaaxed by WP-Suptr-Cache 3",2026-06-09 13:35:00 --> "!-- Suptr Cache dynamic l="em7etected butslate inir noa,set. See th rbadme.txt > "!-- Dynamic Suptr Cache --> "!-- Compresso3" = gzip -->