PALANGKA RAYA – Program cek kesehatan gratis (CKG) di Kalimantan Tengah masih menghadapi tantangan rendahnya partisipasi masyarakat, meski pemerintah terus mendorong percepatan capaian target pada tahun 2026.
Kepala Dinas Kesehatan Kalteng, Suyuti Syamsul, mengungkapkan pada 2025 capaian program CKG berada di angka 23 persen dari target 30 persen. Sementara pada awal 2026, capaian sudah menyentuh sekitar 10 persen dengan target tahunan sebesar 45 persen.
“Target tahun ini (2026) 45 persen. Per Januari kita sudah di sekitar 10 persen, dan kami optimistis bisa tercapai karena puskesmas sudah punya strategi dari pengalaman tahun lalu,” ujarnya, Kamis 23 April 2026.
Ia menjelaskan, strategi yang kini diterapkan adalah pendekatan jemput bola dengan mendatangi langsung komunitas masyarakat, termasuk bekerja sama dengan berbagai kelompok seperti pengemudi ojek daring.
“Kita dorong puskesmas turun langsung ke komunitas, bekerja sama dengan berbagai pihak agar layanan bisa menjangkau lebih luas,” katanya. Meski demikian, kendala utama masih terletak pada rendahnya minat masyarakat untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara sukarela.
“Kuncinya memang di minat masyarakat. Banyak yang merasa tidak sakit, jadi bertanya kenapa harus diperiksa. Padahal ini untuk skrining awal,” jelasnya. Menurutnya, perubahan pola pikir masyarakat menjadi tantangan tersendiri dalam pelaksanaan program preventif seperti CKG.
Untuk mengatasi hal tersebut, Dinas Kesehatan terus mengintensifkan edukasi melalui berbagai saluran komunikasi, termasuk melibatkan kader kesehatan di lapangan. “Kami dorong melalui edukasi, komunikasi, dan pertemuan rutin dengan puskesmas setiap bulan untuk mengejar target,” ujarnya.
Ia menegaskan, pelaksanaan teknis program CKG sepenuhnya berada di tingkat puskesmas, sementara peran provinsi lebih pada koordinasi dan penguatan strategi. “Yang melakukan pemeriksaan itu puskesmas. Provinsi hanya mendorong dan memfasilitasi,” katanya.
Dengan jumlah penduduk Kalimantan Tengah sekitar 2,8 juta jiwa, target 45 persen berarti ada sekitar 1,4 juta masyarakat harus terjangkau program ini dalam satu tahun. Suyuti menambahkan, capaian biasanya meningkat pada pertengahan tahun, khususnya saat pemeriksaan kesehatan di sekolah mulai dilakukan.
“Biasanya mulai naik di Agustus karena ada pemeriksaan anak sekolah yang lebih mudah dijangkau,” jelasnya. Namun untuk masyarakat umum, pelaksanaan di lapangan masih menghadapi tantangan. “Kalau kita buka layanan di pasar misalnya, masyarakat sering bubar. Itu tantangan kita,” ujarnya.
Terkait target ke depan, ia menyebut masih menunggu kebijakan pemerintah pusat, mengingat program ini masih tergolong baru dan sedang dalam tahap evaluasi secara nasional. “Target ke depan masih menunggu pusat. Hampir semua provinsi juga belum mencapai target karena ini program baru,” pungkasnya.
(nra/matakalteng)





















Discussion about this post