SAMPIT – Kepala Stasiun Meteorologi H. Asan Kotawaringin Timur (Kotim) Mulyono Leo Nardo menyebutkan musim kemarau 2026 di wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) diperkirakan datang lebih cepat dari kondisi normal dan berpotensi berlangsung lebih lama, sehingga perlu diantisipasi sejak dini terutama terkait resiko kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).
“BMKG memprediksi awal musim kemarau di wilayah Kotim terjadi pada Juni. Untuk zona Kalteng 8, Kalteng 9 dan Kalteng 10 diperkirakan masuk awal kemarau pada Juni dasarian pertama, sedangkan Kalteng 13 sekitar Juni dasarian ketiga,” kata Mulyono Leo Nardo, Sabtu 11 April 2026.
Ia menjelaskan Kotim memiliki empat zona musim, yakni Kalteng 8, Kalteng 9, Kalteng 10 dan Kalteng 13. Pada zona Kalteng 8 yang meliputi sebagian Kecamatan Telaga Antang, Antang Kalang, Tualan Hulu dan Bukit Santuai, kemarau diperkirakan mulai terjadi pada awal Juni.
Zona Kalteng 9 yang mencakup sebagian wilayah Mentaya Hilir Utara, Telaga Antang, Mentaya Hulu, Parenggean, sebagian Kota Besi, Antang Kalang, Telawang, Cempaga Hulu, Tualan Hulu hingga Bukit Santuai juga diprediksi mengalami awal kemarau pada periode yang sama.
Sementara itu zona Kalteng 10 yang meliputi Kecamatan Baamang, Pulau Hanaut, sebagian Mentaya Hilir Utara, Mentawa Baru Ketapang, Mentaya Hilir Selatan, Seranau, Kota Besi, Telawang, Cempaga Hulu dan Cempaga diperkirakan memasuki musim kemarau pada awal Juni.
“Adapun wilayah yang termasuk dalam zona Kalteng 13, yakni sebagian Pulau Hanaut dan Teluk Sampit, diprediksi mengalami awal musim kemarau sedikit lebih lambat, yakni sekitar Juni dasarian ketiga,”ujarnya.
Menurut Mulyono, dibandingkan pola normal tahunan, kemarau tahun ini diperkirakan datang lebih maju. Pada zona Kalteng 8 dan Kalteng 9 kemarau diperkirakan lebih cepat sekitar tiga dasarian atau hampir satu bulan, sedangkan pada zona Kalteng 10 dan Kalteng 13 lebih cepat sekitar dua dasarian.
BMKG juga memperkirakan durasi musim kemarau di wilayah Kotim bisa berlangsung antara 10 hingga 12 dasarian atau sekitar 100 hingga 120 hari. “Kalau satu dasarian itu sekitar 10 hari, berarti durasi musim kemarau bisa berlangsung sekitar 100 sampai 120 hari. Ini lebih panjang dari kondisi normalnya,” jelasnya.
Ia menambahkan puncak musim kemarau di seluruh zona musim Kotim diperkirakan terjadi pada Agustus. “Baik zona Kalteng 8, Kalteng 9, Kalteng 10 maupun Kalteng 13 puncak kemarau diprediksi terjadi pada Agustus,” tambahnya. Dalam analisis curah hujan bulanan, April 2026 diperkirakan masih berada pada kategori menengah sekitar 200–300 milimeter, kemudian menurun pada Mei menjadi sekitar 150–200 milimeter.
Memasuki Juni curah hujan diprediksi semakin berkurang pada kisaran 50–150 milimeter, lalu turun kembali pada Juli menjadi sekitar 20–50 milimeter. Bahkan pada Agustus hingga September curah hujan diperkirakan sangat rendah yakni hanya berkisar 0–50 milimeter. “Sifat hujan pada periode April hingga September secara umum berada pada kategori bawah normal. Artinya curah hujan lebih sedikit dibandingkan rata-rata biasanya,” ungkapnya.
Selain itu, Mulyono mengingatkan periode April hingga Mei merupakan masa pancaroba yang berpotensi memunculkan cuaca ekstrem seperti hujan lebat dalam waktu singkat, angin kencang hingga potensi banjir. “Musim transisi biasanya banyak kejadian cuaca ekstrem, seperti angin kencang dan hujan intensitas tinggi dalam waktu singkat, sehingga masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan,” katanya.
Kemarau panjang juga berpotensi meningkatkan risiko karhutla. Berdasarkan data historis tahun 2015, jumlah hotspot di Kotim pernah mencapai 3.613 titik dengan wilayah terbanyak berada di Kecamatan Teluk Sampit sebanyak 680 titik, Mentaya Hilir Utara 507 titik dan Mentaya Hilir Selatan 409 titik.
Ia menjelaskan wilayah selatan Kotim seperti Teluk Sampit, Pulau Hanaut dan Seranau menjadi daerah yang sangat mempengaruhi jarak pandang di Kota Sampit ketika terjadi kebakaran lahan. “Hotspot di wilayah selatan seperti Teluk Sampit, Pulau Hanaut dan Seranau sangat mempengaruhi jarak pandang di Sampit karena arah angin umumnya bergerak dari selatan dan tenggara menuju Sampit,” jelasnya.
Sementara hingga akhir Maret 2026, BMKG mencatat sejumlah hotspot mulai muncul di beberapa wilayah utara Kotim, di antaranya Kecamatan Antang Kalang sekitar 45 titik, Mentaya Hulu 21 titik, Telaga Antang 16 titik serta Cempaga dan Bukit Santuai masing-masing 12 titik.
Meski demikian, kondisi hari tanpa hujan (HTH) hingga akhir Maret masih tergolong sangat pendek, yakni berkisar antara satu hingga lima hari. “Artinya masih ada hujan yang turun, sehingga kondisi saat ini masih relatif aman, namun kita tetap harus waspada memasuki musim kemarau nanti,” pungkasnya.
(dia/matakalteng)






















Discussion about this post