PALANGKA RAYA – Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah menegaskan komitmen menuju kemandirian pangan melalui penguatan klaster ayam nasional. Kebijakan ini diarahkan agar Kalteng bertransformasi dari daerah konsumen menjadi produsen pangan yang mandiri.
Pemerintah Provinsi Kalteng melalui Dinas Ketahanan Pangan Kalteng, menyebut kondisi ketahanan pangan daerah saat ini masih relatif aman dari sisi ketersediaan. Cadangan beras di gudang Bulog dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan enam hingga sepuluh bulan ke depan.
“Stok aman, tetapi tantangan kita ada pada penguatan struktur produksi,” ujar Plt. Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kalteng, Agus Candra, Senin 29 Desember 2025. Sebagai langkah konkret, Pemprov Kalteng telah membangun pabrik pakan ternak di Parenggean, Kabupaten Kotawaringin Timur, dengan kapasitas sekitar delapan ton per jam. Ketersediaan bahan baku pakan juga diperkuat melalui peningkatan produksi jagung, dengan stok Bulog mencapai sekitar 200 ton.
Meski demikian, Agus mengakui Kalimantan Tengah masih belum mandiri untuk komoditas protein hewani, khususnya ayam ras, sehingga masih bergantung pada pasokan dari luar daerah. “Selama ini kita masih mengandalkan suplai dari luar. Ketika terjadi gangguan pasokan, harga langsung bergejolak. Inilah yang sedang kita benahi,” katanya.
Selain penguatan produksi, Pemprov Kalteng juga menempatkan pembangunan infrastruktur dan sistem logistik sebagai pilar utama ketahanan pangan jangka panjang. Ketergantungan pasokan pangan dari Jawa dan Kalimantan Selatan, menurutnya, masih dipengaruhi keterbatasan jalur distribusi dan infrastruktur.
“Ketika cuaca atau transportasi terganggu, dampaknya langsung terasa pada harga dan pasokan,” ujarnya. Untuk itu, Pemprov Kalteng mendorong pengembangan sentra produksi pangan berbasis zonasi wilayah barat, tengah, dan timur, sekaligus memperkuat konektivitas antarwilayah.
Pengembangan kawasan Pelabuhan Batanjung di Kabupaten Kapuas menjadi salah satu proyek strategis penopang distribusi logistik. “Dengan infrastruktur pelabuhan yang kuat, distribusi pangan tidak lagi bergantung pada provinsi lain dan biaya angkut bisa ditekan,” jelasnya.
Agus menegaskan, strategi ketahanan pangan Kalteng tidak hanya berorientasi pada keamanan stok, tetapi juga kemandirian produksi dan stabilitas harga, terutama dalam menghadapi peluang pasar baru seiring kehadiran Ibu Kota Nusantara (IKN). “Kita tidak ingin selamanya menjadi pasar. Ke depan, Kalteng harus mampu memenuhi kebutuhan sendiri, bahkan menjadi daerah penyuplai, apalagi dengan keberadaan Ibu Kota Nusantara (IKN),” tegasnya.
(nra/matakalteng)





















Discussion about this post