PALANGKA RAYA – Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah menegaskan komitmennya memperkuat ketahanan pangan daerah melalui pengembangan sektor peternakan dan kesehatan hewan. Wakil Gubernur Kalteng, Edy Pratowo, ada tiga agenda strategis yang diposisikan sebagai pilar menuju swasembada daging sekaligus mendukung industri sawit berkelanjutan di Kalteng.
Tiga fokus utama itu meliputi pengembangan Sistem Integrasi Sapi Sawit (SISKA), hilirisasi peternakan ayam terintegrasi, serta pengendalian Penyakit Hewan Menular Strategis (PHMS). Edy Pratowo menyampaikan bahwa program SISKA dirancang dengan prinsip keberlanjutan dan saling menguntungkan antara peternak dan perusahaan perkebunan kelapa sawit.
“Melalui SISKA, kita membangun ekosistem yang efisien. Limbah sawit dapat dimanfaatkan, ketergantungan pada pupuk kimia berkurang, dan nilai tambah ekonomi meningkat,” ujarnya, Jumat 19 Desember 2025. Sementara itu, untuk hilirisasi peternakan ayam terintegrasi, Edy menjelaskan pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian mendorong program tersebut guna meningkatkan populasi ayam pedaging dan petelur, sejalan dengan target kemandirian protein di setiap wilayah.
Dia meminta pemerintah kabupaten dan kota mendukung pengembangan budi daya jagung sebagai bahan baku pakan, serta mendorong perusahaan sawit menyediakan bungkil inti sawit (BIS) bagi industri pakan ternak. “Tantangan ke depan harus dijawab dengan kolaborasi lintas sektor, dari hulu hingga hilir,” tegasnya.
Pada aspek kesehatan hewan, Edy menekankan pentingnya kewaspadaan dan kerja sama seluruh pemangku kepentingan dalam mencegah dan menanggulangi PHMS yang berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi besar dan keresahan masyarakat. “Penyakit seperti Penyakit Mulut dan Kuku, Demam Babi Afrika, dan Rabies menjadi perhatian utama di Kalimantan Tengah karena dampaknya tidak hanya pada hewan, tetapi juga kesehatan manusia,” jelasnya.
Sebelumnya digelar Rakor Peternakan dan Kesehatan Hewan 2025 ini diharapkan memperkuat sinergi pemerintah pusat dan daerah, pelaku usaha, akademisi, serta masyarakat dalam mendorong sektor peternakan yang tangguh. Langkah tersebut sekaligus mendukung agenda prioritas nasional swasembada pangan dan program strategis pemerintah menuju ketahanan pangan berkelanjutan.

Kalteng Siapkan Langkah Serius Menuju Swasembada Daging
Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran juga menegaskan sektor peternakan harus ditempatkan sebagai pilar strategis ketahanan pangan daerah, tidak hanya sebagai pelengkap sektor pertanian.
Pada Rapat Koordinasi (Rakor) Peternakan dan Kesehatan Hewan Tahun 2025, mengangkat agenda penguatan Sistem Integrasi Sapi Sawit (SISKA), hilirisasi peternakan ayam terintegrasi, arah teknis peternakan 2026, serta pengendalian Penyakit Hewan Menular Strategis (PHMS) sebagai fondasi ketahanan pangan menuju swasembada daging dan industri sawit berkelanjutan.
Gubernur menekankan bahwa ketahanan pangan tidak semata-mata beras, tetapi juga kecukupan protein hewani bagi masyarakat. Karena itu, daerah didorong untuk mandiri dalam memenuhi kebutuhan dagingnya sendiri. “Peternakan adalah penopang utama swasembada daging dan gizi masyarakat. Daerah harus mampu memenuhi kebutuhan dagingnya sendiri,” tegas Agustiar.
Ia juga menyoroti pentingnya integrasi peternakan dengan perkebunan kelapa sawit melalui sistem SISKA. Menurutnya, perkebunan sawit membuka peluang besar bagi pengembangan sapi, karena limbah sawit dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak. “Sawit bukan hanya penghasil minyak, tetapi juga penggerak swasembada daging. Integrasi sapi–sawit meningkatkan produktivitas lahan, pendapatan petani, dan populasi ternak,” ujarnya.
Dalam aspek kesehatan hewan, Gubernur menegaskan bahwa swasembada daging tidak mungkin tercapai tanpa ternak yang sehat. Penguatan biosekuriti, pengendalian PHMS, serta ketersediaan vaksin dan obat hewan menjadi kunci. “Perlindungan kesehatan hewan sama dengan perlindungan kesehatan manusia. Ini bagian dari konsep satu kesehatan,” katanya.
Selain itu, Agustiar menekankan penguatan sumber daya manusia dan kelembagaan peternakan. Peternak perlu didukung pendampingan teknis, akses pakan, bibit, dan pembiayaan, serta diperkuat peran penyuluh, dokter hewan, dan paramedik veteriner. “SDM kuat, peternakan pasti maju,” ucapnya.
Ia juga mendorong hilirisasi peternakan agar produksi ternak diikuti dengan pengolahan daging, penguatan rantai dingin, serta jaminan mutu dan keamanan pangan asal hewan. Hilirisasi dinilai mampu menciptakan lapangan kerja dan nilai tambah ekonomi di daerah. Gubernur menegaskan keberhasilan sektor peternakan membutuhkan sinergi kuat antara pemerintah pusat dan daerah, dunia usaha khususnya perkebunan sawit perguruan tinggi, serta peternak.
Rakor ini, menurutnya, menjadi forum strategis untuk menyatukan langkah lintas sektor. Kedepan, arah kebijakan daerah difokuskan pada pengembangan kawasan sentra peternakan terintegrasi sawit, penyediaan bahan baku pakan ternak seperti bungkil inti sawit (BIS), penguatan anggaran kesehatan hewan, serta penetapan peternakan sebagai prioritas pembangunan daerah.
“Dengan peternakan yang kuat, ternak yang sehat, dan integrasi dengan perkebunan sawit, kita optimistis mampu mewujudkan ketahanan pangan, swasembada daging, dan industri sawit berkelanjutan demi kesejahteraan masyarakat,” pungkas Agustiar.
(nra/matakalteng)






















Discussion about this post