PALANGKA RAYA – Wacana hilirisasi mineral di Kalimantan Tengah semakin menguat setelah Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, menyampaikan rencana pembangunan dua industri pengolahan mineral di daerah tersebut. Pemerintah Provinsi Kalteng menilai arah kebijakan itu sejalan dengan potensi pertambangan Kalteng yang selama ini masih didominasi ekspor bahan mentah.
Wakil Gubernur Kalimantan Tengah, Edy Pratowo, menjelaskan bahwa perhatian pemerintah pusat muncul karena Kalteng memiliki cadangan sumber daya mineral yang besar, terutama bauksit, zirkon, dan silika (pasir kuarsa). Selama ini komoditas itu banyak dikirim keluar dalam bentuk raw material. “Pak Menteri melihat Kalteng punya potensi luar biasa. Selama ini barangnya keluar dalam bentuk mentah. Karena itu perlu ada hilirisasi berupa pemurnian,” ujar Edy, Rabu 17 Desember 2025.
Menurutnya, jika proses pemurnian dilakukan langsung di daerah sumber tambang, dampaknya akan signifikan bagi ekonomi lokal. Selain meningkatkan nilai tambah, industri pemurnian dapat membuka lapangan kerja baru dan menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat sekitar. “Kalau pemurniannya dilakukan di sini, tentu akan menyerap tenaga kerja dan mengubah bahan mentah menjadi produk bernilai tinggi. Ini peluang besar bagi Kalteng,” tegasnya.
Edy menyebut bahwa langkah tindak lanjut akan dibahas lebih detail bersama Menteri Investasi dalam waktu dekat. Gubernur Kalteng dijadwalkan diundang khusus untuk membahas kesiapan daerah, mulai dari data potensi mineral hingga kesesuaian lokasi industri. “Ini tidak asal dibangun. Pusat pasti sudah punya data lengkap soal potensi Kalteng. Nanti akan disinkronkan lebih detail dengan pemerintah daerah,” imbuhnya.
Terkait rencana lokasi industri hilirisasi, Edy mengaku belum ada penetapan karena pembahasan masih dalam tahap awal. “Belum ada. Masih dalam proses awal,” katanya singkat. Dia memastikan bahwa target pembangunan industri yang disampaikan Menteri Investasi dimulai pada 2026. Pemerintah daerah menyambutnya sebagai momentum strategis untuk mendorong transformasi ekonomi berbasis nilai tambah.
“Pak Menteri menyampaikan target mulai 2026. Ini peluang besar bagi Kalteng, jangan sampai bahan mentah terus yang dikirim keluar,” tuturnya. Edy menambahkan, hilirisasi juga membuka peluang kemitraan dengan koperasi dan pelaku usaha lokal agar manfaat ekonomi dirasakan masyarakat secara lebih luas. “Hilirisasi bisa melibatkan koperasi dan anak-anak daerah. Harapannya, manfaat ekonomi tidak hanya ke industri besar, tapi juga masyarakat sekitar,” pungkasnya.
(nra/matakalteng)






















Discussion about this post