PALANGKA RAYA – Kalimantan Tengah (Kalteng) bersiap menghadapi musim kemarau dan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan menggelar Apel Kesiapsiagaan di tingkat Provinsi Kalteng, Rabu 28 Mei 2025.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana dan Kebakaran (BPBK) Kalteng, Ahmad Toyib, menyampaikan bahwa apel ini merupakan tindak lanjut dari apel nasional yang sebelumnya digelar oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) secara daring.
“Apel Kesiapsiagaan ini adalah langkah kita untuk mensinergikan seluruh elemen dan unsur di lapangan yang terlibat dalam penanggulangan kebakaran hutan dan lahan,” ujar Toyib, Rabu 28 Mei 2025.
Ia menambahkan, apel ini bertujuan memastikan kesiapan personel dan sarana prasarana (sarpras) menjelang musim kemarau yang diprediksi akan mulai pada dasarian pertama Juni.
Toyib menyebutkan bahwa dalam apel kali ini, sekitar 660 personel ikut serta. Namun, jumlah keseluruhan personel yang siap dikerahkan akan berasal dari masing-masing stakeholder yang telah menyiapkan kekuatan masing-masing.
Mengacu pada prediksi BMKG, musim kemarau akan melanda sebagian besar wilayah Kalimantan Tengah dalam waktu dekat. “Saat ini kita masih dalam kondisi kemarau basah, tapi mulai minggu pertama Juni, sebagian besar wilayah akan masuk musim kemarau,” jelas Toyib.
Dari sisi anggaran, Toyib memastikan bahwa alokasi tetap disiapkan seperti tahun-tahun sebelumnya, baik di BPBD, Dinas Kehutanan, maupun instansi teknis lainnya. “Efisiensi anggaran ada, tapi tidak mengganggu pos penanganan kedaruratan. Yang dikurangi hanya dari sisi administrasi,” katanya.
Meski kesiapan di tingkat provinsi dinilai memadai, Toyib mengakui bahwa sebagian besar kabupaten/kota masih kekurangan dukungan, terutama dalam hal anggaran.
“Padahal pemerintah kabupaten/kota adalah ujung tombak dalam penanggulangan karhutla. Kita di provinsi hanya bersifat pendamping dan backup,” ujarnya. Namun, Pemprov tetap memberikan bantuan tahunan melalui Dana Bagi Hasil Dana Reboisasi (DBHDR).
Dalam hal pemetaan wilayah rawan bencana, BPBK Kalteng mengacu pada Kajian Risiko Bencana (KRB) yang disusun oleh BNPB bekerja sama dengan Universitas Indonesia. Pemantauan juga terus dilakukan terhadap suhu, cuaca, dan iklim yang diterbitkan BNPB secara berkala.
Sebagai langkah konkret, Pemprov Kalteng menambah jumlah pos lapangan dari 60 pada tahun lalu menjadi 77 titik pada tahun ini. “Pos ini belum aktif, tetapi nantinya akan diaktifkan secara khusus,” kata Toyib.
Setiap pos dilengkapi bantuan peralatan utama seperti mesin jinjing, selang, dan nozzle. Selain itu, personel pos akan mendapatkan honorarium harian, bantuan BBM, serta uang makan.
“Satu pos lapangan biasanya terdiri dari 8 hingga 10 anggota yang berasal dari Masyarakat Peduli Api (MPA), Babinsa, dan Bhabinkamtibmas,” tutup Toyib.
Dengan langkah-langkah kesiapsiagaan ini, Kalimantan Tengah menegaskan komitmennya dalam menghadapi musim kemarau dan meminimalisasi risiko bencana karhutla di wilayahnya.
(vi/matakalteng)






















Discussion about this post