PALANGKA RAYA – Tim dosen Kimia Universitas Lambung Mangkurat berhasil menciptakan biopestisida yang ramah lingkungan untuk pertanian berkelanjutan.
Adapun tim dosen itu beranggotakan Dyah Ayu Pramoda Wardani, Aulia Rhamdani Arfan dan Achmad Ramadhanna’il Rasjava, serta tim riset, yakni Sunardi.
Pembuatan biopestisida yang ramah lingkungan itu didasari meningkatnya konsumsi pangan terutama produk pertanian oleh masyarakat yang berdampak meningkatnya penggunaan pestisida di sektor pertanian.
“Hal ini tentunya memberi dampak negatif baik bagi lingkungan dan manusia,”kata Dyah Ayu Pramoda Wardani salah seorang dosen dalam penelitian ini, Senin 3 Februari 2025.
Menurutnya, dampak negatif yang mungkin dialami dari penggunaan pestisida dalam jangka panjang diantaranya yaitu resistensi spesies hama yang dapat menimbulkan ketidakefektifan penggunaan pestisida, dapat menurunkan kesuburan tanah, dan residu pestisida yang bersifat karsinogen dapat menimbulkan penyakit seperti kanker, gangguan hati, kecacatan, serta disfungsi organ reproduksi.
Sementara itu, Aulia Rhamdani Arfan mengatakan, dalam upaya mengatasi permasalahan tersebut dan mendukung pertanian berkelanjutan, Tim Dosen dari Jurusan Kimia FMIPA Universitas Lambung Mangkurat, mengembangkan biopestisida berbasis minyak atsiri yang diemulsifikasi sehingga lebih ramah lingkungan, mudah diaplikasikan, dan ekonomis.
“Biopestisida adalah pengontrol hama tanaman berbasis bahan alami. Biopestida cenderung lebih aman dibandingkan pestisida yang terbuat dari bahan kimia sintetis,”jelasnya.
Hal ini ujarnya, tentu dapat mengurangi dampak karsinogenik yang ditimbulkan oleh penggunaan pestisida sintetis dalam jangka panjang. Adapun beberapa keunggulan biopestisida ialah, tidak meninggalkan residu berbahaya, lebih aman untuk lingkungan dan manusia, mengurangi pencemaran tanah dan air, serta tidak menyebabkan resistensi hama.
Ditambahkan Achmad Ramadhanna’il Rasjava, dengan memanfaatkan kombinasi minyak atsiri yang kaya akan senyawa aktif, biopestisida ini dapat berperan sebagai antibakteri, antijamur, dan juga insektisida.
“Minyak atsiri tersebut dapat menghambat sistem saraf dan metabolisme hama serta merusak struktur sel patogen,”bebernya.
Beberapa hama yang telah dilaporkan mampu dibasmi oleh minyak atsiri tersebut ialah erwinia carotovora, penyebab umbi-umbian dan sayur membusuk, staphylococcus aureus penyebab infeksi tanaman, escherichia coli patogen pencemar tanah, jamur fusarium spp penyebab layu pada tanaman pisang, tomat, dan cabai.
Kemudian candida albicans, aspergillus flavus, kutu putih, kutu daun, nyamuk, tungau, lalat buah, lalat putih, kumbang penggerek, rayap dan juga semut.
“Pada dasarnya minyak atsiri bersifat non polar dan hidrofobik, yaitu minyak tersebut tidak dapat bercampur dengan air dan cenderung larut dalam lemak atau minyak lainnya, sehingga akan membentuk tetesan yang mengapung jika dilarutkan dalam air,”terangnya.
Teknologi emulsifikasi dimanfaatkan untuk memodifikasi sifat non polar dan hidrofobik pada minyak atsiri. Emulsifikasi dalam biopestisida adalah teknologi pembentukan micelle dimana minyak atsiri tersuspensi di dalam air sehingga membentuk sistem oil-in-water.
“Teknologi emulsifikasi ini juga bertujuan untuk meningkatkan daya lekat, stabilitas dan efektivitas minyak atsiri dalam mencegah dan membasmi hama perusak tanaman,”kata Achmad.
Cara penggunaan biopestisida berbasis emulsifikasi sangat mudah. Untuk pengobatan tanaman yang terserang hama, cukup mencampurkan 5 mL (satu sendok teh) biopestisida ke dalam satu liter air. Sementara itu, untuk pencegahan hama, hanya diperlukan 2 mL (setengah sendok teh) biopestisida yang dilarutkan dalam satu liter air. Larutan ini dapat disemprotkan secara merata pada permukaan tanaman setiap pagi atau sore selama 7-14 hari untuk hasil yang optimal.
“Penggunaan biopestisida diharapkan dapat mendukung pertanian berkelanjutan dengan meningkatakan hasil pertanian yang lebih aman, sehat dan ramah lingkungan, memberikan peluang ekonomi bagi petani dan produsen minyak atsiri lokal, serta meningkatkan pendapatan per kapita negara dengan menurunkan jumlah impor produksi pertanian tentunya dengan dukungan pemerintah dan komunitas pertanian,”tutupnya.
(dia/matakalteng)






















Discussion about this post