SAMPIT – Kepala SMPN 1 Sampit, Suyoso, mengambil langkah ekstrem demi menjaga integritas dalam proses Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun ajaran ini. Ia mengaku sengaja pindah dari tempat tinggalnya sementara waktu untuk menghindari praktik lobi-lobian yang kerap muncul jelang proses penerimaan siswa.
“Banyak tamu yang izin berkunjung ke rumah berkaitan dengan SPMB, baik melalui chat WhatsApp maupun telepon. Maka solusinya, pertemuan hanya boleh dilakukan di sekolah dan hanya untuk membahas pedoman. Pertemuan yang bersifat pribadi di rumah ditekan sebanyak-banyaknya. Saya bahkan memilih tinggal di tempat yang tidak untuk dipublikasikan, agar tidak ada keinginan pihak luar yang berkoordinasi di luar pedoman,” tegas Suyoso, Selasa 27 Mei 2025.
Ia menilai, penandatanganan komitmen bersama dalam pelaksanaan SPMB tahun ini memperkuat upaya sekolah dalam menegakkan aturan. Sosialisasi juga dipermudah karena masyarakat bisa langsung diberikan pedoman dan acuan yang jelas terkait jalur zonasi, afirmasi, prestasi, dan mutasi.
“Alhamdulillah, pedoman penerimaan SPMB tahun ini lebih menguat. Ini akan sangat membantu panitia dalam menyosialisasikan ke masyarakat. Karena pengalaman menunjukkan masih banyak masyarakat luar zonasi yang ingin masuk ke SMP Negeri 1 Sampit dan belum memahami jalur-jalur penerimaan. Sekarang, dengan adanya komitmen ini, kita bisa tunjukkan langsung pedomannya,” ujar Suyoso.
Ia juga mengingatkan soal adanya praktik di balik layar yang sering kali mencederai proses penerimaan siswa. “Yang pertama itu ada (di balik layar), cerita bahwa bisa diterima di SMP Negeri 1 dengan kontribusi tertentu. Artinya ada pihak luar yang memanfaatkan momen SPMB. Itu harus diakhiri. Tidak boleh ada kolusi, nepotisme, pungli, semua harus berjalan sesuai pedoman,” katanya menegaskan.
Senada dengan itu, Kepala Dinas Pendidikan Kotim, Muhammad Irfansyah, juga menekankan bahwa proses penerimaan siswa harus bersih dari praktik tidak sehat. Ia sudah mengeluarkan surat edaran resmi untuk seluruh satuan pendidikan.
“Pada penerimaan SPMB ini, kami sudah buatkan surat edaran. Bahwa penerimaan murid baru itu tidak ada embel-embel lain. Yang disiapkan hanya berkasnya saja, jangan siapkan isi kas-nya. Kadang-kadang, yang disiapkan justru bukan data diri anak, tapi amplop. Itu tidak boleh terjadi lagi,” tegas Irfansyah.
Ia berharap dengan sistem yang diperketat dan komitmen yang ditegakkan bersama, dunia pendidikan di Kotim makin bersih dan bisa memberi ruang yang adil bagi semua calon murid.
(dia/matakalteng)






















Discussion about this post