SAMPIT – Serangan buaya di sepanjang aliran Sungai Mentaya, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), terus menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Data Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Resort Sampit mencatat sejak tahun 2010 hingga April 2025 telah terjadi 52 kasus serangan buaya yang mengakibatkan puluhan korban.
“Dari total kejadian tersebut, 9 orang dinyatakan meninggal dunia, 13 orang mengalami luka berat, 24 orang mengalami luka ringan, sementara sisanya berhasil selamat tanpa luka,” kata Komandan BKSDA Resort Sampit, Muriansyah, Jumat 18 April 2025.
Tingginya angka ini menjadi sinyal kuat bahwa keberadaan buaya di Sungai Mentaya bukan lagi ancaman sesekali, tetapi sudah menjadi persoalan serius yang membutuhkan perhatian lintas sektor.
Ia menyebut bahwa kasus serangan paling banyak terjadi di wilayah Kecamatan Mentaya Hilir Selatan, yakni 16 kejadian. Disusul oleh Teluk Sampit dengan 13 kasus, Seranau 8 kasus, Pulau Hanaut 5 kasus, Cempaga 4 kasus, serta Mentaya Hilir Utara dan Mentawa Baru Ketapang masing-masing 3 kasus.
“Angka ini menunjukkan bahwa wilayah bantaran Sungai Mentaya, terutama di beberapa kecamatan, merupakan zona merah serangan buaya. Kami terus mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan,” ujar Muriansyah.
Bila dilihat dari distribusi bulanan, Oktober menjadi bulan dengan jumlah serangan terbanyak, yaitu 7 kasus. Disusul oleh Januari dan Mei (masing-masing 6 kasus), serta Februari, Maret, April, Juni, dan Desember yang masing-masing mencatat 5 kasus. Sementara itu, September mencatat 4 kasus, Juli 2 kasus, dan November 1 kasus.
Kasus terbaru terjadi pada 4 April 2025, menimpa seorang warga bernama Sani (35) dari Desa Babaung, Kecamatan Pulau Hanaut. Insiden ini menambah panjang daftar korban buaya di wilayah tersebut.
Melihat tingginya frekuensi kejadian, BKSDA mendorong adanya langkah pencegahan lebih intensif, seperti edukasi masyarakat, pemasangan papan peringatan di titik rawan, hingga patroli sungai secara rutin.
“Penanganan tidak bisa hanya reaktif, harus preventif. Kita harus bersinergi dengan desa-desa terdampak,” tegas Muriansyah.
Dengan jumlah kasus yang terus bertambah dari tahun ke tahun, sudah saatnya semua pihak melihat permasalahan ini sebagai prioritas bersama, demi keselamatan warga dan keberlangsungan ekosistem Sungai Mentaya.
BKSDA juga mengimbau warga agar lebih berhati-hati, terutama saat beraktivitas di sungai seperti mandi, mencuci, atau mencari ikan, terlebih pada bulan-bulan rawan.
“Kami mengimbau warga untuk menghindari aktivitas di sungai saat pagi buta atau sore menjelang malam, karena itu waktu aktif buaya mencari mangsa,” tambahnya.
(dia/matakalteng)






















Discussion about this post