KUALA PEMBUANG – Sejumlah pengrajin anyaman yang ada di Kabupaten Seruyan tepatnya di Desa Pematang Panjang, Kecamatan Seruyan Hilir Timur mengeluhkan terkait sulitnya memasarkan hasil produksi atau kerajinan tangan mereka.
Adalah Sunarni (47) seorang pengrajin anyaman yang ada di desa setempat mengungkapkan, bahwa kendala utama yang dirinya hadapi saat ini adalah pemasaran. “Terutama untuk pemasaran secara online, saya sangat kesulitan karena memang sudah berumur dan kurang paham teknologi,” katanya, Rabu 15 Januari 2024.
Dijelaskan, bahwa dirinya telah menggeluti usaha kerajinan tersebut sejak tahun 2011. Keahliannya membuat bakul dan anyaman purun lainnya diwariskan secara turun-temurun. “Tapi kalau inovasi atau variasi produk seperti tas dan dompet itu hasil pelatihan yang diberikan oleh Diskoperindag,” ujarnya.
Ia menyebutkan jika hingga saat ini pelatihan khusus terkait pemasaran produk belum diadakan. Meskipun sejatinya, pelatihan pemasaran secara online pernah diajarkan.
Maka dari itulah, dirinya sangat berharap pemerintah daerah melalui dinas terkaitnya bisa memberikan pendampingan lebih lanjut, khususnya terkait dengan pemasaran. “Supaya kita juga bisa mandiri dan memasarkan produk kita secara luas,” imbuhnya.
Adapun produk yang saat ini paling banyak digemari adalah tikar anyaman berbahan dasar purun dengan harga Rp20.000 per lembar. “Kalau belinya satu gulungan yang isinya 10 lembar itu lebih murah, yakni Rp150.000, artinya hanya Rp15.000 per lembar,” tambahnya.
Selain tikar anyaman, produk-produk yang kerap kali juga digemari adalah tas anyaman yang biasanya dipesan oleh pihak-pihak perkantoran ataupun pemerintahan daerah setempat. “Kalau yang paling sulit itu sebenarnya membuat tas modern dengan perpaduan anyaman rotan dan kulit. Harga produknya pun bervariasi,” pungkasnya.
(ald/matakalteng.com)






















Discussion about this post