PALANGKA RAYA – Fenomena antrean panjang kendaraan terjadi di hampir seluruh SPBU di Kota Palangka Raya. Kondisi tersebut memantik keprihatinan dari kalangan legislatif.
Anggota Komisi II DPRD Kota Palangka Raya, Nookhalis Ridha meminta pemerintah daerah segera mengambil langkah konkret untuk mengatasi persoalan distribusi BBM. Dia juga mengimbau masyarakat tetap menjaga situasi agar tetap kondusif.
“Pertama, tentu kita sangat prihatin. Kami mengimbau masyarakat tetap menjaga situasi kondusif agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” ujarnya, Jumat 8 Mei 2026.
Ridha menilai persoalan antrean BBM tidak bisa diselesaikan secara sepihak. Karena itu, Pemerintah Kota Palangka Raya diminta lebih intens melakukan komunikasi dengan pihak Pertamina.
Menurutnya, pemerintah perlu memastikan penyebab utama antrean panjang yang terjadi di sejumlah SPBU. Hal itu penting agar langkah penanganan yang diambil bisa lebih tepat sasaran.
“Perlu dipastikan, apakah antrean ini terjadi memang karena kuota BBM yang dikurangi, atau seperti apa kondisinya,” katanya.
Dia juga menyoroti pentingnya kolaborasi antara pemerintah kota dan pemerintah provinsi dalam mengatasi persoalan tersebut. Sebagai ibu kota provinsi, Palangka Raya dinilai membutuhkan penanganan bersama agar situasi segera terkendali.
“Ini perlu menjadi sorotan. Tidak hanya pemerintah kota, tetapi pemerintah provinsi juga harus mengambil peran untuk mengurai dan menghilangkan antrean BBM ini,” ucapnya.
Di sisi lain, Ridha mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan panic buying yang justru dapat memperburuk keadaan. Dia meminta warga tetap beraktivitas seperti biasa dan tidak terpancing kepanikan.
“Insyaallah keadaan ini akan membaik. Jangan panik, jangan menimbun BBM,” ujarnya.
Dia berharap kondisi distribusi BBM segera kembali normal sehingga aktivitas masyarakat tidak terganggu. DPRD juga meminta seluruh pihak menjaga situasi agar tetap aman dan terkendali.
“Jalankan kehidupan sebagaimana mestinya, sehingga keadaan tidak semakin gelisah dan tensi tidak semakin tinggi,” pungkasnya.
(nra/matakalteng)




















Discussion about this post