SAMPIT – Akses menuju Desa Kabuau, Kecamatan Parenggean, yang sebelumnya dikenal sulit dilalui kini berubah signifikan setelah terbukanya jalan sepanjang 10,2 kilometer. Menariknya, pembangunan jalur tersebut tidak sepenuhnya mengandalkan anggaran pemerintah, melainkan melalui kolaborasi masyarakat, pemerintah desa, dan dukungan program Corporate Social Responsibility (CSR) dari sejumlah perusahaan yang beroperasi di wilayah setempat.
Anggota DPRD Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Andi Lala, menilai keterlibatan perusahaan dalam pembangunan infrastruktur menjadi salah satu langkah efektif untuk mempercepat pemerataan pembangunan di daerah yang masih memiliki keterbatasan akses.
“Kalau hanya mengandalkan APBD, mungkin jalan ini belum bisa terbangun seperti sekarang. Karena itu saya selalu mendorong perusahaan agar CSR mereka benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat,” ujar Andi Lala, Rabu 17 Juni 2026.
Ia menjelaskan, pembangunan jalan tersebut telah dimulai sejak 2021 ketika dirinya masih menjabat sebagai Kepala Desa Kabuau. Saat itu, pembukaan badan jalan dilakukan secara bertahap melalui dukungan sejumlah perusahaan.
PT KIU menjadi pihak pertama yang membantu pembukaan badan jalan sepanjang 7,2 kilometer. Dukungan kemudian berlanjut dari PT WMGK yang membuka sekitar 1,5 kilometer jalan dan PT SMP sepanjang 1,5 kilometer.
“Pada 2021 kami mulai membuka badan jalan melalui dukungan CSR perusahaan. PT KIU membantu 7,2 kilometer, PT WMGK sekitar 1,5 kilometer dan PT SMP juga sekitar 1,5 kilometer. Dari situ akses mulai terbuka,” katanya.
Menurutnya, medan pembangunan yang melintasi kawasan danau menjadi tantangan terbesar. Sebagian besar trase jalan berada di wilayah perairan dangkal sehingga membutuhkan pekerjaan penimbunan dalam skala besar sebelum dapat dimanfaatkan masyarakat.
“Kenapa prosesnya cukup lama? Karena yang kita bangun bukan jalan biasa. Dari total 10,2 kilometer itu, sekitar 8,3 kilometer berada di kawasan danau yang harus ditimbun terlebih dahulu. Tentu pekerjaan dan biayanya sangat besar,” jelasnya.
Setelah akses jalan berhasil tembus pada 2023, pekerjaan dilanjutkan dengan peningkatan kualitas jalan melalui penimbunan. PT IBB mengambil peran dengan mengerjakan sekitar 4,2 kilometer, di mana sekitar 3 kilometer telah selesai. Sementara PT Billy juga melaksanakan penimbunan sepanjang 4,2 kilometer dan hingga 2025 telah merealisasikan sekitar 2 kilometer pekerjaan.
“Setelah jalan tembus pada 2023, pembangunan dilanjutkan dengan penimbunan. PT IBB mengerjakan sekitar 4,2 kilometer dan sudah selesai kurang lebih 3 kilometer. Kemudian PT Billy juga 4,2 kilometer dan pada 2025 sudah terealisasi sekitar 2 kilometer,” ungkapnya.
Andi Lala menilai keberhasilan pembangunan akses Kabuau menunjukkan bahwa sinergi antara dunia usaha dan masyarakat dapat menghasilkan manfaat besar bagi daerah. Selain mempercepat konektivitas, keberadaan jalan tersebut juga mempermudah distribusi hasil pertanian dan perkebunan warga yang selama ini terkendala kondisi medan.
“CSR harus mampu menjawab kebutuhan masyarakat. Ketika diarahkan untuk pembangunan jalan, manfaatnya bisa dirasakan bertahun-tahun dan berdampak langsung terhadap perekonomian warga,” tegasnya.
Ia berharap pola kolaborasi serupa dapat diterapkan di wilayah lain yang masih membutuhkan infrastruktur dasar, sehingga pembangunan tidak hanya bergantung pada kemampuan anggaran pemerintah daerah.
(dia/matakalteng)




















Discussion about this post