SAMPIT – Harapan petani di Kilometer 15 Jalan Jenderal Sudirman, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), untuk segera menggarap lahan padi dalam program ketahanan pangan nasional tampaknya harus tertunda. Program cetak sawah yang digarap kelompok tani Mandiri Makmur itu kini terancam gagal karena progres pengerjaan jauh dari target.
Anggota DPRD Kotim, Pardamean Gultom, yang menerima langsung keluhan petani, menegaskan bahwa hingga saat ini lahan yang baru selesai dibuka hanya sekitar tujuh hektare dari total 35 hektare yang ditargetkan.
“Waktu pelaksanaannya tinggal beberapa hari lagi, tapi hasilnya baru tujuh hektare. Melihat kondisi di lapangan, saya pesimis proyek ini bisa rampung tepat waktu,” ungkap Gultom, Selasa 11 November 2025.
Ia menjelaskan, program cetak sawah ini merupakan bagian dari proyek ketahanan pangan nasional yang dikoordinasikan Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah. Awalnya, lahan yang diajukan mencapai 100 hektare, namun setelah berbagai penyesuaian, luasnya menyusut menjadi 35 hektare.
“Sayangnya, pelaksanaannya lamban sekali. Sejak awal pengerjaan, ada lima unit excavator, tapi belakangan alatnya dikurangi menjadi dua, dan dua-duanya sering rusak,” katanya.
Menurut Gultom, kondisi itu menunjukkan kurangnya keseriusan dari pihak pelaksana proyek. Padahal, kata dia, antusiasme petani sangat tinggi untuk menanam di lahan baru tersebut.
“Petani sudah menunggu dan siap menanam, tapi karena proyeknya berjalan lamban, mereka jadi khawatir gagal panen tahun ini. Saya menilai program ini dilaksanakan setengah hati oleh pemerintah provinsi,” ujarnya.
Politikus Partai Demokrat itu meminta agar Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah segera turun tangan sebelum kontrak kerja berakhir pada 15 November mendatang.
“Ini program besar Presiden Prabowo di bidang ketahanan pangan. Jangan sampai terkesan tidak serius, karena ini menyangkut harapan petani yang ingin meningkatkan produksi pangan daerah,” tegasnya.
(dia/matakalteng)






















Discussion about this post