SAMPIT – Ketua DPRD Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) Rimbun menyayangkan alat berat bantuan dari pemerintah di setiap kecamatan terbengkalai.
Hal itu disampaikannya ketika mendapati sejumlah alat berat yang ada di sejumlah kecamatan mengalami kerusakan berat dan tidak terawat.
“Padahal alat itu usia masih 2 tahun, namun karena tidak dipelihara dengan baik jadi terkesan benda tua bahkan mengalami kerusakan. Sehingga bisa kita sebut program alat berat di setiap kecamatan itu gagal,”ujarnya, Jumat 7 Maret 2025.
Karena menurut Rimbun, dari beberapa alat yang dihibahkan ke kecamatan ternyata kondisinya memprihatinkan. Ia menilai hal ini ada yang salah dalam pengelolaanya.
Rimbun menyebutkan seperti halnya alat berat yang berada di Kecamatan Cempaga Hulu kondisinya sangat memprihatinkan. Bahkan alat itu dibiarkan terkena hujan dan panas dan kini sudah mulai dinaiki semak belukar disekitarnya.
“Ada beberapa kecamatan yang saya terima laporan alat berat ini yang mana setelah dipakai tidak pernah ada dikelola atau perbaikan dan perawatan. Mereka menganggap barang ini seperti sampah yang nilainya bukan miliaran rupiah,”tegasnya.
Menurutnya anggaran yang digunakan untuk pengadaan alat berat itu bersumber dari APBD Kotim yang nilainya mencapai puluhan miliar, sehingga harusnya dimanfaatkan sebaik-baiknya.
“Mereka tidak tahu atau memang tidak bisa mengelola, padahal disetiap BPP kecamatan mendapatkan satu alat berat yang nilainya miliaran. Bayangkan berapa anggaran untuk pengadaan alat ini, tetapi berakhir dengan kondisi alat-alat seakan-akan tidak ada pihak yang bertanggung jawab sama sekali,”kata Rimbun.
Dirinha mendesak agar Bupati Kotim segera mengevaluasi program alat berat ini, termasuk pihak yang mengelolanya selama ini.
“Apakah alat berat ini ditarik semua ke kabupaten dan serahkan ke PUPR atau DLH untuk mengelolanya lagi atau ada solusi lain, karena kalau semuanya seperti ini artinya kecamatan tidak mampu mengelolanya,”tegas Rimbun.
Selain itu kata dia petunjuk teknis pengelolaan alat berat juga harus direvisi sehingga kedepannya kejadian serupa tidak terulang.
“Dan perlu diketahui yang menggunakan dan merasakan manfaat alat berat selama ini hanya sekelompok orang saja, sementara masyarakat kecil masih berladang secara manual,”bebernya.
(dia/matakalteng)






















Discussion about this post