SAMPIT – Masih tingginya angka putus sekolah dan tidak dapat melanjutkan pendidikan bersumber pada persoalan ekonomi. Banyak anak usia sekolah dasar berasal dari keluarga tidak mampu secara materil. Hal ini diungkapkan oleh anggota Komisi III DPRD Kotim, Dadang Siswanto, Rabu 21 Desember 2022.
Kenaikan biaya pendidikan semakin sulit diatasi oleh kemampuan penyediaan dana pemerintah maupun masyarakat. Peningkatan biaya itu mengancam akses dan mutu pelayanan pendidikan dan karenanya harus dicari solusi untuk mengatasi masalah pembiayaan pendidikan ini.
“Khususnya di Kotim, pemberian bantuan pendidikan bagi keluarga yang tidak mampu tersebut bertujuan memberikan layanan pendidikan bagi penduduk miskin untuk dapat memenuhi kebutuhannya di bidang pendidikan,” ucapnya.
Agar siswa yang orangtuanya tidak mampu tersebut dapat tetap memperoleh pendidikan. Hal ini juga dalam rangka mendukung pencapaian wajib belajar.
“Dengan disahkannya ranperda bantuan pendidikan di daerah ini, maka akan sangat membantu perangkat pendidikan untuk mengambil keputusan dalam membantu masyarakat yang tidak mampu membiayai pendidikan anak-anaknya,” jelas Dadang.
Tambahnya, dari sekolah dasar sampai ke ke perguruan tinggi, pihaknya menginginkan putra putri daerah Kotim minimal bisa menyelesaikan pendidikan sampai sarjana sehingga SDM-SDM di Kotim dapat berdaya saing tinggi dan perusahaan perusahaan, perkantoran dan perbankan yang ada di Kotim semuanya merekrut tenaga kerja dari putra putri daerah Kotim.
(dia/matakalteng.com)






















Discussion about this post