PALANGKA RAYA – Kasus perundungan (bullying) kembali menjadi sorotan setelah sejumlah insiden di berbagai daerah memakan korban jiwa. Menanggapi hal tersebut, Wakil Ketua Komisi III DPRD Kalimantan Tengah, Tommy Irawan Diran, menekankan pentingnya sinergi antara sekolah, orang tua, dan pemerintah dalam memperkuat sistem pencegahan.
Tommy menilai bullying bukan masalah tunggal sektor pendidikan, tetapi persoalan sosial yang membutuhkan perhatian serius. Dia menegaskan bahwa sekolah harus memiliki aturan yang tegas, sementara orang tua perlu dilibatkan secara aktif dalam proses pengawasan dan pembinaan anak.
“Pihak sekolah harus memiliki aturan yang tegas, dan orang tua juga perlu terlibat aktif. Ini harus berjalan sinkron. Pengawasan di sekolah sangat penting, karena sering kali indikasi bullying terjadi di jam sekolah,” ujarnya, Jumat 21 November 2025. Dia menyebut sejumlah kasus ekstrem yang bahkan memicu korban jiwa sebagai alarm serius.
“Saya kasihan melihat korban-korban bullying ini. Bahkan kemarin ada mahasiswa yang sampai bunuh diri karena tekanan mental. Ini menunjukkan mental anak-anak kita berbeda-beda ada yang kuat, ada yang lemah, ada yang berani dan ada yang tidak,” katanya.
Menurut Tommy, sekolah perlu mengembangkan program atau kegiatan yang dapat membangun mental dan karakter anak, baik melalui pelatihan khusus maupun kegiatan ekstrakurikuler yang efektif. Terkait sosialisasi dari Dinas Pendidikan mengenai pencegahan bullying, Tommy menilai efektivitasnya masih bergantung pada kondisi sekolah masing-masing.
Ia menyoroti tantangan guru dalam era sekarang, di mana tindakan disiplin sering kali dianggap salah oleh orang tua. “Guru sekarang serba salah. Ketika menegur atau mendisiplinkan siswa, sering kali justru orang tua yang tidak terima,” ujarnya. Dia membandingkan dengan pola pendidikan zaman dulu yang lebih keras namun dianggap sebagai bagian dari pembentukan karakter.
“Padahal dulu, waktu kita sekolah, kalau guru melempar kapur atau memukul dengan penggaris, itu bagian dari pendidikan. Sekarang situasinya berbeda,” katanya. Karena itu, Tommy menilai pendidikan karakter harus diperkuat dan disosialisasikan kembali, baik kepada guru maupun orang tua. Dia mendorong adanya skema bersama yang membuat sekolah dan keluarga berada pada pemahaman yang sama dalam mendidik generasi muda.
(nra/matakalteng)






















Discussion about this post