SAMPIT – Peringatan Hari Guru Nasional ke-31 dan Hari Ulang Tahun PGRI ke-80 di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menjadi momentum penting untuk menegaskan kembali peran vital guru dalam pembangunan bangsa.
“Keberhasilan Indonesia menghadapi era Indonesia Emas 2045 sepenuhnya bergantung pada kualitas sumber daya manusia (SDM) yang dibentuk sejak hari ini, dan itu berada di tangan para pendidik,” kata Bupati Kotim, Halikinnor, Sabtu 22 November 2025.
Dalam sambutannya, Halikinnor menegaskan bahwa Indonesia telah memasuki masa baru yang tidak lagi bertumpu pada kekayaan alam, melainkan pada kekuatan kualitas SDM.
“Bagaimana kita menghadapi Indonesia Emas 2045 bergantung pada sumber daya manusia kita. Negara sekarang sudah mengubah eranya, tidak lagi mengandalkan sumber daya alam tetapi meningkatkan sumber daya manusia,” ujarnya.
Karena itu, menurutnya, peran guru menjadi sangat penting, bahkan krusial. Guru bukan hanya bertugas menyampaikan ilmu pengetahuan tetapi juga membentuk karakter, moral, dan kepribadian generasi penerus bangsa. “Peran guru sangat-sangat urgen dan vital. Keberhasilan pendidikan bergantung pada kualitas guru yang ada,” tegasnya.
Bupati Halikinnor menyampaikan bahwa Pemkab Kotim terus berupaya meningkatkan profesionalisme para guru, salah satunya melalui pelatihan, workshop, serta pembentukan komunitas-komunitas pembelajaran yang relevan dengan perkembangan zaman.
Peningkatan literasi teknologi juga menjadi perhatian utama agar guru tidak tertinggal. “Kita berusaha meningkatkan profesionalisme mereka melalui pelatihan dan komunitas-komunitas. Guru harus melek informasi dan teknologi agar tidak tertinggal dalam memberikan pembelajaran,” jelasnya.
Lebih dari itu, Halikinnor menekankan bahwa tugas guru tidak sekadar mengajarkan, tetapi juga mendidik anak-anak menjadi pribadi beriman, cerdas, dan berguna bagi bangsa. “Mereka mendidik anak-anak kita sehingga menjadi orang yang beriman, pintar, dan berguna bagi bangsa dan negara,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Bupati Halikinnor memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada seluruh guru di Kotim, terutama yang bertugas di daerah terpencil dengan segala keterbatasan sarana dan fasilitas. Menurutnya, pengabdian para guru tidak mengenal batas.
“Banyak di antara Anda yang harus meninggalkan keluarga, bertugas di lokasi terpencil, jauh dari hiruk-pikuk perkotaan, namun tetap setia menjalankan tugas mulia. Pengorbanan ini adalah bukti ketulusan dan kekuatan jiwa yang layak kita apresiasi setinggi-tingginya,” ucapnya.
Ia juga meminta PGRI untuk terus menjaga kehormatan profesi guru serta hadir sebagai rumah perjuangan dalam meningkatkan kualitas pendidikan. PGRI diharapkan tetap fokus pada penguatan kompetensi, perlindungan hukum bagi guru, dan memperjuangkan peningkatan kesejahteraan, khususnya bagi guru honorer dan tenaga kependidikan.
Dalam acara yang sama, Pemkab Kotim juga melepas kontingen Porsenijar yang akan bertanding di tingkat nasional di Kota Bandung pada 26 November 2025. Kontingen tersebut terdiri dari atlet, pelatih, dan official yang akan mewakili Kotim dalam ajang olahraga dan seni antar-guru.
“Kepada seluruh atlet, pelatih dan official, saya ucapkan selamat bertanding. Junjung sportivitas, tampilkan kerja keras dan kejujuran, serta bawa semangat Kotawaringin Timur untuk meraih prestasi terbaik,” pesan Halikinnor.
Ia berharap keikutsertaan Kotim dalam Porsenijar mampu menambah motivasi para guru untuk terus mengasah potensi dan menunjukkan bahwa pendidik juga dapat berprestasi di berbagai bidang.
Guru Sebagai Pilar Moral dan Inspirasi
Di akhir sambutannya, Halikinnor menyampaikan harapan besar agar guru tetap menjadi tiang moral dan sumber inspirasi bagi generasi muda. Peringatan Hari Guru dan HUT PGRI disebutnya harus menjadi penguat semangat untuk terus memajukan pendidikan di Kotim.
“Semoga peringatan ini menjadi penguat semangat kita untuk terus memajukan pendidikan. Besar harapan kami, para guru tetap menjadi tiang moral, sumber inspirasi, dan jembatan menuju masa depan yang lebih gemilang,” tutupnya.

Ini Upaya Pemkab Kotim Bantu Pemerataan Kesejahteraan Guru
SAMPIT – Bupati Kotawaringin Timur (Kotim), Halikinnor, menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam meningkatkan kesejahteraan para guru, terutama mereka yang bertugas di wilayah pedalaman. Langkah-langkah strategis terus dilakukan sebagai bukti nyata bahwa sektor pendidikan masih menjadi prioritas utama pembangunan daerah.
Menurut Halikinnor, Kotim hingga kini tetap mempertahankan Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP) bagi guru dengan nilai di atas ketentuan nasional, yakni lebih dari 30 persen. Di saat beberapa daerah mulai menghapus atau mengurangi besaran TPP, Kotim justru mempertahankan bahkan memperkuat skema tersebut.
“Upaya pemerataan kesejahteraan guru kita sampai sekarang masih berjalan, termasuk TPP yang kita berikan di atas 30 persen dari ketentuan nasional. Daerah lain ada yang menghapus, tapi kita tetap mempertahankan,” tegasnya, Sabtu 22 November 2025.
Tak hanya itu, pemerintah daerah juga mengajukan tambahan tunjangan khusus bagi guru yang bertugas di wilayah terpencil dan sulit dijangkau. Menurutnya, pengabdian para pendidik di pedalaman perlu mendapat perhatian ekstra karena tantangan yang mereka hadapi berbeda dengan guru yang bertugas di wilayah perkotaan.
“Khusus untuk daerah pedalaman, kita ajukan tunjangan-tunjangan khusus agar mereka bisa merasakan perhatian dan keadilan dari pemerintah,” jelasnya. Halikinnor juga mengungkapkan adanya kebijakan baru yang secara langsung mengurangi beban para guru. Sebelumnya, guru yang menempati rumah dinas atau rumah guru diwajibkan membayar biaya rutin bulanan.
Kebijakan tersebut kini dihapus untuk memastikan tidak ada beban tambahan bagi para pendidik. “Termasuk kemarin saya membuat kebijakan, guru yang menempati rumah guru dan sebelumnya harus membayar setiap bulan, itu kita hapus. Kita tidak ingin membebani guru-guru kita,” tegasnya.
Ia berharap peningkatan kesejahteraan ini mampu mendorong semangat dan kualitas kinerja guru dalam menjalankan tugas membimbing generasi muda Kotim. Pendidikan, menurutnya, tidak boleh dipikul oleh guru seorang diri, tetapi harus ditopang dengan kebijakan yang memadai dari pemerintah daerah. “Jika kesejahteraan guru kuat, maka kualitas pendidikan juga akan meningkat. Pemerintah daerah akan terus berada di belakang mereka,” tutup Halikinnor.
(dia/matakalteng)





















Discussion about this post