PALANGKA RAYA – Meningkatnya kasus gangguan mental dengan gejala kecemasan pada pelajar di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) yang terungkap dari hasil skrining Dinas Kesehatan mendapat perhatian serius DPRD Kalimantan Tengah.
Wakil Ketua Komisi I DPRD Kalteng, Sudarsono, menegaskan persoalan ini tidak boleh dianggap sepele karena menyangkut masa depan generasi muda. “Yang pertama dan paling bertanggung jawab adalah sekolah yang bersangkutan,” tegas Sudarsono, Jumat 3 Oktober 2025 Politisi Golkar dari Dapil II (Kotim-Seruyan) itu menekankan, masyarakat juga tidak boleh menutupi kasus perundungan atau gejala gangguan jiwa pada anak.
“Jangan ditutup-tutupi, segera sampaikan pertama kepada pihak sekolah untuk ditindaklanjuti,” ujarnya. Menurutnya, usia remaja yang masih dalam tahap pencarian jati diri sangat rentan terhadap tekanan lingkungan. Karena itu, peran sekolah dan orang tua menjadi kunci utama dalam mendeteksi serta menangani masalah sejak dini.
“Kalau memang itu terjadi, sekolah harus segera mengetahui persoalan ini dan mengambil tindakan. Pertama tentu sekolah, karena itu lingkungannya. Kedua, orang tua jangan segan menyampaikan persoalan ini. Kalau perlu, bisa langsung ke pihak berwenang bila membutuhkan penanganan serius,” jelasnya. Dia menambahkan, dampak psikologis anak tidak bisa dipandang ringan.
“Ini perlu ada penanganan serius karena menyangkut kejiwaan anak. Jadi hal ini tidak bisa dianggap remeh,” tegasnya. Sudarsono juga menyatakan dukungan penuh agar kasus-kasus semacam ini tidak ditutup-tutupi. “Kita mendukung upaya agar persoalan ini jangan sampai ditutupi atau tidak diblow up, karena menyangkut masa depan anak-anak,” pungkasnya.
(nra/matakalteng)






















Discussion about this post