PALANGKA RAYA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas I Tjilik Riwut Palangka Raya memperingatkan bahwa curah hujan tinggi di Kalimantan Tengah akan berlangsung lebih lama dari musim hujan normal. Fenomena La Niña yang masih aktif diproyeksikan bertahan hingga April 2026, sehingga berpotensi memicu banjir di sejumlah wilayah yang sejak awal musim hujan sudah mengalami kenaikan muka air sungai.
Koordinator Bidang Data dan Informasi (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas I Tjilik Riwut Palangka Raya, Anton menjelaskan bahwa La Niña kali ini terjadi bersamaan dengan periode puncak musim hujan, sehingga membawa suplai uap air lebih banyak. “Prediksi kami La Niña masih berlanjut sampai Januari, dan kemungkinan bisa terus ke Februari, Maret, bahkan April. Jadi semester pertama tahun depan potensi hujannya masih tinggi,” jelas Anton, Kamis 4 Desember 2025.
Menurutnya, kondisi ini meningkatkan risiko banjir karena sungai-sungai di berbagai daerah telah lebih dulu mengalami kenaikan permukaan air. “Curah hujan sebelumnya sudah meninggikan muka air sungai. Hujan berikutnya akan membuat kenaikannya lebih cepat,” terangnya.
Anton menyebut daerah utara Kalimantan Tengah sebagai wilayah dengan tingkat kerawanan tertinggi, terutama: Murung Raya, Barito Utara, Barito Selatan, dan Kapuas bagian utara. Selain itu, kawasan pesisir seperti Sukamara dan Kotawaringin Barat juga diprediksi mengalami intensitas hujan yang lebih besar.
“Untuk Desember, wilayah paling rawan tetap bagian utara. Wilayah pesisir juga perlu waspada,” ujarnya. BMKG mengimbau sekolah, pemerintah daerah, BPBD, dan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi hujan lebat, banjir, angin kencang, hingga longsor. BMKG mengimbau sekolah, pemerintah daerah, BPBD, dan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi hujan lebat, banjir, angin kencang, hingga longsor.
“Kami sudah menyampaikan peringatan dini terkait daerah-daerah yang berpotensi hujan tinggi. Tinggal bagaimana langkah antisipasinya di lapangan,” tegas Anton. Ia menambahkan, pemantauan cuaca harian dan koordinasi mitigasi perlu diperkuat mengingat intensitas hujan diperkirakan masih tinggi hingga awal semester pertama 2026.
(nra/matakalteng)






















Discussion about this post