Dokter Muda dari Palangka Raya Raih Penghargaan Medis Bergengsi Asia-Pasifik

PALANGKA RAYA — Kabar membanggakan datang dari dunia medis Indonesia. dr. Lia Susanti, dokter muda asal RSUD Palangkaraya, berhasil meraih APSR / J. Patrick Barron Medical Education Young Investigator Award 2025, salah satu penghargaan paling bergengsi di kawasan Asia-Pasifik yang diberikan oleh Asian Pacific Society of Respirology (APSR).

 

Baca juga berita lainnya

Penghargaan prestisius ini diserahkan dalam ajang Kongres APSR 2025 di Manila, Filipina, yang mempertemukan para pakar dan peneliti medis dari berbagai negara. dr. Lia memperoleh penghargaan tersebut berkat penelitiannya berjudul “The Role of Epigallocatechin Gallate–Chlorogenic Acid (Green Tea and Green Coffee) on IL-6 Levels and Pulmonary Fibrosis Progression in Metabolic Syndrome Rats.”

 

Penelitian tersebut mengkaji potensi senyawa aktif dalam teh hijau dan kopi hijau untuk menekan perburukan fibrosis paru pada sindrom metabolik, dengan fokus pada pengaruh terhadap kadar IL-6. Karya ini dinilai memberikan kontribusi signifikan dalam pengembangan ilmu respirasi serta pendidikan medis eksperimental di tingkat global.

 

“Semoga penghargaan ini bisa menjadi motivasi bagi masyarakat Indonesia untuk lebih semangat melakukan penelitian dan mengharumkan nama bangsa,” ujar dr. Lia Susanti dengan penuh semangat.

 

Saat ini, dr. Lia tengah menempuh pendidikan Spesialis Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi di Universitas Brawijaya Malang, sambil aktif melakukan penelitian di bidang kesehatan pernapasan dan pendidikan medis.

 

Pencapaian ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Palangkaraya dan Kalimantan Tengah. Jika di bidang olahraga masyarakat bangga saat atlet Indonesia meraih medali emas di Asian Games, maka di dunia akademik dan kedokteran, penghargaan ini memiliki prestise yang setara—bahkan lebih tinggi—karena melibatkan persaingan ilmuwan dari berbagai negara maju di kawasan Asia-Pasifik.

 

Penghargaan APSR / J. Patrick Barron Award diberikan kepada peneliti muda berusia di bawah 40 tahun yang berkontribusi dalam inovasi pendidikan dan penelitian medis. Setiap tahunnya, hanya segelintir kandidat dari ribuan peserta yang berhasil meraih penghargaan ini.

 

Prestasi dr. Lia membuktikan bahwa sumber daya manusia Kalimantan Tengah mampu bersaing di panggung internasional, serta menjadi bukti nyata bahwa putra-putri daerah memiliki potensi besar untuk berkontribusi dalam kemajuan ilmu pengetahuan dan kesehatan dunia.

ad-space

Berita Terkait

Next Post

Discussion about this post

Banner

PILIHAN EDITOR