PALANGKA RAYA – Persoalan infrastruktur pertanian menjadi keluhan masyarakat disampaikan saat reses Anggota DPRD Provinsi Kalimantan Tengah, Fraksi Gerindra, Sutik, yang menyoroti sulitnya akses jalan menuju lahan pertanian di wilayah Samuda, Kabupaten Kotawaringin Timur. Akibat kondisi tersebut, biaya angkut hasil panen menjadi tinggi dan membebani petani.
“Petani di Samuda harus menggunakan klotok kecil lewat parit untuk mengangkut hasil panen karena jalan darat belum bisa dilalui. Satu karung hasil panen bisa dikenai ongkos hingga Rp25.000. Ini jelas memberatkan,” ujar Sutik, Kamis 13 November 2025. Menurutnya, padahal wilayah tersebut merupakan salah satu sentra pertanian di Kotim, dan sudah menerima berbagai bantuan dari pemerintah pusat, seperti alat bajak, mesin panen, serta penggilingan padi.
Namun, tanpa dukungan infrastruktur dasar berupa jalan pertanian, potensi tersebut belum bisa memberikan hasil maksimal. “Badan jalan sebenarnya sudah ada, tapi kondisinya rusak parah. Jadi kalau jalannya bisa ditembuskan, otomatis biaya logistik turun dan kesejahteraan petani meningkat,” jelasnya.
Dia mengungkapkan, hingga kini belum ada realisasi pembangunan jalan dari pemerintah daerah, meski sudah ada rencana perbaikan sebagian jalur pada tahun 2027 oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah. “Rencananya tidak banyak, hanya beberapa kilometer saja. Tapi kalau kabupaten, provinsi, dan pusat bisa bergabung, Insya Allah jalan itu cepat tembus,” ujarnya.
Sutik menegaskan bahwa pembangunan jalan poros sepanjang 10 kilometer menjadi prioritas utama yang perlu segera dilakukan. “Tidak harus diaspal, cukup ditimbun agar kendaraan bisa masuk untuk mengangkut alat pertanian dan hasil panen. Itu sudah sangat membantu masyarakat,” tegasnya. Selain soal jalan, aspirasi masyarakat di Dapil II sebagian besar juga berkaitan dengan infrastruktur dasar lainnya.
Dia berharap pemerintah dapat lebih memprioritaskan pembangunan akses menuju lahan pertanian sebagai bagian dari upaya mendukung program ketahanan pangan nasional. “Kalau jalannya sudah baik, petani tidak akan lagi terbebani biaya tinggi. Ketahanan pangan itu bukan hanya soal produksi, tapi juga soal bagaimana hasil panen bisa sampai ke pasar dengan biaya yang efisien,” pungkasnya.
(nra/matakalteng)






















Discussion about this post