SAMPIT – Pelayanan hemodialisa atau cuci darah menjadi salah satu layanan yang terus diperkuat RSUD dr Murjani Sampit seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap penanganan penyakit ginjal.
Rumah sakit milik Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) itu memastikan setiap pasien mendapatkan pelayanan sesuai standar medis dengan pengawasan tenaga kesehatan yang kompeten.
Direktur RSUD dr Murjani Sampit, dr Yulia Nofiany, mengatakan pelayanan hemodialisa tidak hanya berfokus pada tindakan medis, tetapi juga memastikan seluruh tahapan pelayanan berjalan aman dan nyaman bagi pasien.
“Pelayanan hemodialisa kami berikan dengan mengutamakan peningkatan mutu layanan serta keselamatan pasien. Seluruh proses dilaksanakan sesuai standar akreditasi rumah sakit dan ketentuan yang berlaku,” ujar dr Yulia, Rabu 3 Juni 2026.
Ia menjelaskan, sebelum menjalani tindakan cuci darah, pasien harus melalui sejumlah tahapan administrasi dan pemeriksaan kesehatan. Pasien wajib memiliki indikasi medis dari dokter spesialis, melengkapi dokumen identitas, surat rujukan, serta dokumen jaminan kesehatan yang diperlukan.
Setelah proses administrasi selesai, pasien akan mendapatkan edukasi dari petugas kesehatan mengenai prosedur yang akan dijalani. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan kondisi fisik, termasuk pengecekan tanda-tanda vital untuk memastikan pasien siap menjalani tindakan.
“Setelah dilakukan pemeriksaan awal dan edukasi, pasien akan menjalani tindakan hemodialisa selama kurang lebih empat jam. Selama proses berlangsung, pasien dapat didampingi oleh satu orang anggota keluarga,” jelasnya.
Menurut dr Yulia, pendampingan keluarga menjadi bagian penting dalam memberikan dukungan psikologis kepada pasien yang harus menjalani terapi secara rutin. Karena itu, rumah sakit juga menyediakan fasilitas penunjang yang memadai untuk menciptakan suasana pelayanan yang nyaman.
Saat ini Unit Hemodialisa RSUD dr Murjani dilengkapi ruang tindakan khusus, ruang tunggu berpendingin udara, sarana edukasi kesehatan, ruang pemeriksaan, hingga fasilitas penunjang mobilitas pasien seperti kursi roda dan brankar.
Selain sarana dan prasarana, pelayanan tersebut juga didukung tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi di bidang hemodialisa. Tercatat terdapat 13 petugas yang terlibat dalam operasional layanan, terdiri dari dokter, perawat, dan tenaga administrasi.
Usai menjalani tindakan, pasien akan memperoleh jadwal terapi berikutnya serta arahan dari tenaga kesehatan mengenai pentingnya menjalani hemodialisa secara teratur. Langkah itu dilakukan agar kondisi kesehatan pasien dapat terus terpantau dan terapi yang diberikan berjalan optimal.
Dr Yulia menegaskan bahwa aspek keselamatan pasien menjadi prioritas utama dalam setiap pelayanan yang diberikan rumah sakit. Karena itu, evaluasi mutu pelayanan dilakukan secara berkala untuk memastikan seluruh prosedur berjalan sesuai standar.
“Data medis pasien kami jaga kerahasiaannya dan seluruh pelayanan mengutamakan keselamatan pasien. Evaluasi pelayanan juga dilakukan secara berkala sebagai bagian dari upaya peningkatan mutu layanan kesehatan,” tegasnya.
Ia menambahkan, masyarakat yang membutuhkan informasi maupun ingin menyampaikan masukan terkait pelayanan dapat memanfaatkan berbagai saluran pengaduan yang telah disediakan rumah sakit, baik secara langsung maupun melalui layanan digital.
Dengan pelayanan yang terus ditingkatkan, RSUD dr Murjani berharap pasien yang membutuhkan terapi cuci darah dapat memperoleh layanan kesehatan yang aman, berkualitas, dan mudah diakses tanpa harus keluar daerah.
(dia/matakalteng)






















Discussion about this post