SAMPIT – Ground breaking pembangunan Jembatan Perintis Garuda dilaksanakan secara serentak di wilayah Kodim 1015/Sampit, salah satunya di Dusun Tandang, Desa Barunang Miri, Kecamatan Parenggean, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari program pembangunan infrastruktur yang diinisiasi pemerintah pusat melalui TNI untuk membuka akses daerah yang selama ini terisolasi.
Staf Ahli Bupati Kotim Rafiq Siswandi menyampaikan bahwa pembangunan jembatan tersebut merupakan bagian dari program nasional yang bertujuan mempercepat pertumbuhan ekonomi di daerah, terutama wilayah yang memiliki keterbatasan akses transportasi.
“Pembangunan jembatan ini merupakan salah satu program yang diinisiasi Bapak Presiden Republik Indonesia atau pemerintah pusat. Tujuannya untuk melakukan percepatan pertumbuhan ekonomi melalui keterbukaan daerah-daerah yang selama ini terisolasi,” ujarnya, Senin 6 April 2026.
Ia menjelaskan, keberadaan infrastruktur seperti jalan dan jembatan sangat penting bagi Kabupaten Kotim yang memiliki wilayah luas serta banyak aliran sungai. Kondisi geografis tersebut membuat jembatan menjadi sarana vital untuk mendukung mobilitas masyarakat.
“Intinya infrastruktur yang perlu dibangun selain jalan tentu juga jembatan, karena jembatan ini merupakan akses yang sangat penting di Kabupaten Kotawaringin Timur mengingat daerah kita cukup luas dan banyak sungai,” katanya.
Rafiq menilai program pembangunan yang dilakukan TNI melalui pembangunan Jembatan Garuda sangat bermanfaat bagi masyarakat, terutama dalam membuka konektivitas antarwilayah yang sebelumnya sulit dijangkau.
Karena itu, pemerintah daerah menyatakan siap mendukung penuh kegiatan tersebut, baik melalui kerja sama lintas instansi maupun dukungan teknis dari perangkat daerah terkait.
“Pemerintah daerah tentu harus mendukung dan men-support dalam hal apapun kegiatan TNI ini. Kami berharap kegiatan seperti ini terus berlanjut beberapa tahun ke depan karena Kabupaten Kotim sangat membutuhkan program-program seperti ini,” jelasnya.
Ia mengakui bahwa pembangunan infrastruktur melalui mekanisme pemerintah daerah seringkali memerlukan waktu cukup panjang karena keterbatasan anggaran. Oleh sebab itu, kolaborasi dengan pemerintah pusat dan TNI menjadi peluang penting untuk mempercepat pembangunan di daerah.
“Kalau dari pemerintah daerah prosesnya mungkin lebih lama karena anggaran terbatas. Namun kami dari Pemkab Kotim siap berkolaborasi dan bekerja sama untuk mendukung kegiatan ini,” ujarnya.
Rafiq menambahkan, pemerintah daerah juga siap memberikan dukungan teknis melalui dinas terkait seperti Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga dan Bina Konstruksi, terutama dalam penyediaan data maupun informasi teknis yang diperlukan selama proses pembangunan berlangsung.
“Kami memiliki dinas yang secara teknis memahami konstruksi, termasuk pembangunan jembatan. Kami siap mendukung kebutuhan data maupun hal lain yang berkaitan dengan kemampuan teknis yang kami miliki,” katanya.
Ia berharap seluruh proses pembangunan berjalan lancar serta memberikan manfaat besar bagi masyarakat.
“Kami sangat berharap semua yang kita lakukan ini mendapatkan ridho dari Allah SWT,” tuturnya.
Sementara itu, Komandan Korem 102/Panju Panjung Brigjen TNI Wimoko berharap pembangunan Jembatan Garuda di wilayah Kotim dapat diselesaikan dalam waktu sekitar satu bulan.
“Harapannya satu bulan selesai. Kemudian pada bulan-bulan berikutnya kita bisa mendapatkan titik pembangunan lain lagi sehingga anggaran dari pusat ini bisa dimanfaatkan untuk membangun daerah kita,” ujarnya.
Menurutnya, program pembangunan jembatan tersebut merupakan bagian dari kebijakan pemerintah pusat yang diinisiasi langsung oleh Presiden Republik Indonesia untuk membantu masyarakat di daerah terpencil.
Ia menjelaskan, program tersebut juga menjadi momentum penting bagi pemerintah daerah untuk mengajukan lokasi pembangunan baru yang dinilai membutuhkan akses infrastruktur.
“Kami mohon bantuan Forkopimda untuk mengusulkan titik-titik yang memang membutuhkan pembangunan dan bermanfaat bagi masyarakat. Jangan sampai kesempatan ini diambil daerah lain,” katanya.
Brigjen TNI Wimoko menyebutkan bahwa program pembangunan Jembatan Garuda dilaksanakan di sejumlah wilayah di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan, dengan total 13 kabupaten yang turut mengajukan usulan pembangunan.
Di Kabupaten Kotim sendiri, saat ini telah mendapatkan dua titik pembangunan jembatan melalui program tersebut. Ke depan, diharapkan jumlah lokasi pembangunan dapat terus bertambah.
“Harapannya bulan depan minimal bisa mendapatkan tiga sampai empat titik pembangunan lagi,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa pembangunan Jembatan Garuda dilatarbelakangi keinginan Presiden untuk membantu masyarakat di daerah terpencil yang masih menghadapi kesulitan akses, khususnya bagi anak-anak yang harus menyeberangi sungai untuk bersekolah.
“Bapak Presiden masih melihat anak-anak di desa terpencil dan daerah pedalaman yang terisolir untuk mengakses pendidikan masih harus menyeberang sungai. Dengan adanya jembatan ini diharapkan bisa membantu mereka,” jelasnya.
Selain mendukung akses pendidikan, jembatan tersebut juga diharapkan mampu membuka peluang pengembangan ekonomi masyarakat di wilayah pedalaman.
Menurutnya, konektivitas yang lebih baik akan mempermudah masyarakat memasarkan hasil produksi serta meningkatkan aktivitas ekonomi mikro di daerah.
“Jembatan Garuda ini juga diharapkan membuka akses pembangunan ekonomi mikro, terutama di daerah-daerah terpencil dan terisolir,” katanya.
Ke depan, pembangunan infrastruktur tersebut juga diharapkan dapat dilanjutkan melalui program lain seperti TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) untuk memperbaiki akses jalan menuju jembatan.
“Setelah jembatan terbangun, akses jalan menuju jembatan bisa diperbaiki melalui TMMD atau program padat karya dengan melibatkan TNI, Polri, pemerintah daerah dan masyarakat,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya peran masyarakat dalam menjaga dan merawat infrastruktur yang telah dibangun agar dapat digunakan dalam jangka waktu yang panjang.
“Harapannya setelah dibangun nanti masyarakat sekitar juga ikut merawat sehingga usia pakainya bisa lebih lama,” katanya.
Menurutnya, pembangunan yang dilakukan harus benar-benar memberikan manfaat langsung bagi masyarakat, terutama dalam meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup warga di daerah.
“Pembangunan yang sejati adalah pembangunan yang benar-benar dirasakan oleh masyarakat,” pungkasnya.
(dia/matakalteng)





















Discussion about this post